Aku cuma orang biasa,
maka cara berpikirku pun ikut-ikutan biasa.
Aku tidak pernah bermimpi menggapai langit
atau mendirikan kerajaan
di ruang dan waktu ini.
Karena aku ini orang biasa,
caraku memperlakukan hidup
juga biasa-biasa saja.
Tanganku tidak pernah kulatih menjadi lebih kuat,
sebab aku tidak menginginkan kemenangan
atas siapa saja.
Kakiku tidak pernah kuajari silat,
sebab aku tidak berniat
menginjak atau menendang siapa-siapa.
Meski pikiranku kadang terbang
mengarungi bulatan semesta,
tak pernah terlintas dalam benakku
untuk menaklukkan dunia.
Aku terbiasa dengan hal-hal yang biasa saja.
Tidak ada yang mesti membuatku tergesa-gesa,
sebab memang aku sedang tidak mengejar apa-apa:
tidak kekuasaan,
tidak harta,
tidak pula kenikmatan benda-benda.
Semua itu tidak cukup membuatku
memutuskan untuk jatuh cinta.
Meski seribu macam kecantikannya
berkali-kali datang menggoda,
aku ingin istiqamah—
seperti biasa,
sebagai orang biasa.
Kumohon kepada jiwa:
jangan rayu aku,
jangan paksa aku.
Dunia dan seisinya
tidak akan terluka
hanya karena aku
tidak memeluknya.
Sekali lagi, maaf,
aku cuma orang biasa.
Tolong, jangan tawari aku
barang-barang yang wah.
Jangan goda aku dengan singgasana,
jangan panggil aku dengan pujian-pujian
yang membuat kepalaku lupa
Biarkan aku menjadi orang biasa,
makan ketika lapar,
tidur ketika lelah,
tertawa ketika bahagia,
dan menangis
jika memang air mata harus jatuh.
Biarkan aku hidup
tanpa harus menjadi siapa-siapa.
Namun,
jika engkau terus menggangguku,
terus merayu dan memaksaku,
terus menyeretku ke dalam perlombaan
yang tak pernah kuminta untuk kuikuti—
maka akan kucari dan kubunuh kau,
wahai dunia!