: Dirja Wiharja



Jiwaku berkata padaku dan menasihatiku,

agar mencintai semua orang yang membenciku,

dan berteman dengan mereka yang memfitnahku,

serta menolong mereka yang senantiasa menghinaku.

Karena cinta itu tidak hanya menghargai orang yang mencintai,

atau orang yang dicintai,

tetapi juga menghargai yang tidak peduli,

dan mereka yang tidak mencintai.


Jiwaku memintaku untuk menatap semua yang buruk dengan tabah,

sampai nampaklah keelokan dan keindahannya.

Karena keindahan itu tidak hanya diperoleh dengan sekejap atau sejenak,

tetapi juga melalui kemauan,

melalui kemampuan untuk bersabar.


Jiwaku menasihatiku dan memintaku,

untuk tidak hanya mendengar suara yang keluar dari lidah maupun dari tenggorokan.

Sebelumnya aku hanya mendengar teriakan dan jeritan

dari telingaku yang bodoh dan sia-sia.

Tetapi sekarang aku belajar mendengar keheningan,

menamatkan malam dan mempelajari kesunyiannya,

yang bergema dan melantunkan lagu dari zaman ke zaman,

menyanyikan nada langit,

dan menyingkap tabir rahasia keabadian.


Jiwaku menasihatiku dan memintaku,

mencari apa yang tidak dapat dilihat oleh mata dagingku.

Dan jiwaku menyingkapkan kepadaku

bahwa apa yang kita sentuh adalah apa yang kita impikan.


Jiwaku menasihatiku dan memintaku,

agar tidak merasa mulia dan tidak merasa besar karena pujian,

dan agar tidak disusahkan oleh ketakutan karena makian.

Karena aku tak lebih tinggi dibanding kurcaci,

dan tak lebih rendah dibanding raksasa.

Sebelumnya aku melihat manusia hanya ada dua:

seorang yang lemah yang aku caci atau kukasihani,

dan seorang yang kuat yang kuikuti atau kulawan

dalam pemberontakan dan perang-perang.

Tetapi sekarang aku tahu

bahwa aku bahkan dibentuk oleh tanah yang sama

dari mana semua manusia diciptakan.

Bahwa unsur-unsurku adalah unsur-unsur mereka,

dan pengembaraan mereka adalah juga milikku.


Jiwaku menasihatiku dan memerintahkanku,

untuk tidak menempuh dunia,

serta tidak memburu akhirat,

dan untuk tidak berurusan dengan lumpur-lumpur kotor kehidupanku.

Jiwaku menasihatiku

dan selalu menerangiku

dalam gelapnya siang

dan hitamnya malam.

Jiwaku terus menasihatiku,

dan terus meyakinkanku,

bahwa hidupku hanyalah untuk memandang-Nya,

sampai kembali

ke hakikat tiadaku...