: Dirja Wiharja



"Entah makhluk dari galaksi mana mahasiswa ini?"

Tidak ada kesanggupan intelektual yang memadai untuk memahaminya secara profesional dan menyeluruh, baik dari aspek kacamata ontologi, epistemologi, aksiologi, maupun logy-logy yang lain.

Dangkal berpikirku hanya bisa menerjemahkannya secara liar dan sederhana, bahkan terkadang asal dan terkesan ngawur.

Mahasiswa adalah orang yang dianggap, dikatakan, disebut, diakui, dipanggil, disepakati, dilayaki, diluluskan, dan dinyatakan terdaftar pada perguruan tinggi atau persekolahan tinggi.

Laki-laki, perempuan, ataupun baynahuma.

Mau dia masuk kuliah atau tidak, mau betul-betul belajar serius mencari ilmu atau sekadar menjadikan kampus sebagai metodologi mencari jodoh, itu urusan belakangan.

Yang penting bayar SPP-nya lunas tepat waktu dan mau beriman kepada segala aturan yang berlaku di dalamnya.

Adapun kata Masih-Mahasiswa adalah pangkat, gelar, dan jabatan yang dihadiahkan kepada mahasiswa yang entah karena kesurupan atau terlampau khusyuk menjadi mahasiswa, sehingga ia menjadi fana' fil jami'ah.

Menyatu dengan kampusnya karena sedemikian besar cintanya, sehingga tidak mau berpisah atau meninggalkan kampusnya sampai tujuh, delapan, sembilan, sepuluh tahun, atau bahkan lebih dari itu.

Di tanah Jawa mungkin orang mengenalnya dengan istilah:

"Manunggaling kawula lan kampus."

Semacam wahdatul wujud, meskipun dalam level kosmis yang berbeda.

Mereka telah sampai pada maqam hakikat sehingga merasa tidak perlu lagi melakukan syariat-syariat kuliah.

"Hindari Wisuda Usia Dini!"

Demikian pekikan jargon dan doktrin mulia mereka dalam setiap orasi di warung kopi, yang kadang dijadikan wirid atau zikir lisan dan napas di malam hari.

Biasanya mahasiswa penganut tarekat ini pada akhirnya akan mengalami repot khatimah.

Makanya, Anda harus super-ekstra hati-hati dengan yang satu ini.


Saya mungkin termasuk the lucky one karena pernah merasakan sengsara-nikmatnya menjadi seorang mahasiswa.

Ada semacam narkoba syubhat—entah ia hasanah atau justru mengandung neraka—yang tersebar di lingkungan maupun di sekitar zona kampus.

Itulah yang biasanya membuat mahasiswa menjadi nyaman dan akhirnya menjadi pelupa, lupa selupa-lupanya.

Lupa kuliah.

Lupa waktu.

Lupa semester.

Lupa umur.

Lupa diri.

Lupa sholat.

Lupa tafsirnya wal 'ashr.

Lupa Tuhan.

Lupa segala-galanya.

Tapi memang tidak mengherankan dan harus diakui secara jujur, menjadi mahasiswa itu mempunyai kebanggaan tersendiri.

Ada pula makhluk Tuhan yang lain berinisial S.Pd.I yang rela mengejar-ngejar saya selama hampir delapan tahun.

(Mungkin Anda juga sedang mengalaminya, walau dengan nama yang berbeda.)

Dia selalu membuntuti dan meneror dari belakang.

Makhluk aneh ini ingin melamar saya, sampai memohon agar dirinya dipakai dan disandingkan dengan namaku.

Akhirnya, karena merasa capek dikejar-kejar terus, terpaksa kuterima saja permintaannya.

Yah, begitulah.

Menjadi mahasiswa itu gampang-gampang susah.

Sementara nanti kalau mau sarjana, itu akan berubah menjadi susah-susah gampang.


Seseorang pernah berkata:

"Kalau mau sukses, maka jadilah mahasiswa abadi."

(Jangan misunderstanding dulu.)

Maksudnya, kata mahasiswa abadi itu jangan diartikan secara sempit dan licik.

Pandanglah sekelilingmu.

Pakailah seribu macam mata.

Seribu cara pandang.

Seribu kerangka teori.

Seribu kepekaan.

Agar bisa kau peroleh the core meaning of it.

Mahasiswa berasal dari kata maha dan siswa.

Maha berarti ter-, paling, sangat, dahsyat, luar biasa.

Sedangkan siswa berarti pelajar, pembelajar, orang yang belajar, atau yang mempunyai tugas belajar.

Jadi, mahasiswa sama saja dengan maha-pembelajar.

Orang yang sangat, paling, dan terpelajar.

Menurut tafsir binafsi saya, mahasiswa adalah orang yang sangat suka belajar, memiliki motivasi dan semangat yang dahsyat serta luar biasa untuk belajar, menciptakan hobi dan kebiasaan-kebiasaan yang tidak pernah lepas dari nilai belajar.

Sehingga apa pun yang ia lihat, yang ia dengar, yang ia katakan, dan yang ia lakukan senantiasa mempunyai muatan-muatan ilmu sebagai proses belajarnya.

Apa pun dan siapa pun akan menjadi gurunya.

Jadi guru, dosen, ustaz, mentor, tutor, instruktur, pembimbing, dan pendidiknya sangat banyak, bahkan terus bertambah.

Adapun kata abadi berarti tidak berbatas pada ruang dan waktu tertentu saja.

Jadi tempat dan waktu belajarnya tidak hanya sebatas tatap muka dengan dosen di dalam kelas perkuliahan, tetapi juga di tempat-tempat lain.

Misalnya membaca buku di perpustakaan.

Turut aktif dalam kegiatan organisasi (asal tidak kesurupan dalam berorganisasi).

Diskusi bebas di bawah pohon atau di warung kopi.

Berdialog dengan siapa dan apa saja.

Dengan teman sekosan.

Senior.

Mahasiswa dari kampus lain.

Guru.

Dosen.

Tokoh masyarakat.

Atau bisa juga dialognya dengan golongan jin dan penduduk bumi gaib yang kasat mata.

(Yang terakhir ini don't try at home kalau belum ahli. Hehe.)

Mahasiswa abadi dimaksudkan sebagai orang yang belajar terus sampai mati, meskipun ia sudah mencapai gelar S1, S2, S3, atau bahkan S4-nya.

Pokoknya:

Long Life Education.

Ijazah belajar kita yang sejati adalah batu nisan kita.


Sekarang saya tanya.

Kira-kira sebagai orang yang mengaku mahasiswa, sudah berapa buku yang Anda baca sampai detik ini?

(Selama Anda menjadi mahasiswa.)

Atau buat Anda yang mahasiswa bahasa Arab atau Inggris, sudah berapa vocabulary atau mufradat yang sudah Anda hafalkan sampai hari ini?

Jangan sampai bulan demi bulan, semester demi semester dilalui.

Tahun berganti tahun.

Akhirnya mahasiswa baru datang lagi.

Tetapi Anda tidak improved, melainkan menjadi insan-mahasiswa yang lafii khusrin, yakni mengalami totalitas kerugian atau multi-kerugian.

Agar tidak terjadi hal semacam itu, maka cepat-cepatlah menyadari diri dan segera ber-aamanu wa 'amilush shalihat.

Aamanu berarti memberi rasa aman.

Maksudnya taat terhadap aturan kampus.

Tidak membuat bingung dan jengkel pejabat birokrasi.

Menghormati sesama civitas akademika.

Dan menjalankan setiap kewajibannya sebagai mahasiswa.

Sedangkan 'amilush shalihat maksudnya adalah mengamalkan perbuatan-perbuatan yang baik atau yang mempunyai unsur perbaikan.

Misalnya:

Bersungguh-sungguh kuliah.

Rajin membeli atau meminjam buku dan membacanya.

Memanfaatkan beasiswa sebaik-baiknya di jalan yang benar dan bijak.

Mendoakan pemimpin dan dosen-dosennya.

Tidak membuat marah Pak Satpam.

Berpakaian sopan dan bertutur santun.

Pandai mengatur waktu antara organisasi dan kuliah.

Membiayai kuliahnya sendiri.

Tidak menunda-nunda penyelesaiannya.

Dan lain sebagainya.

Dan lain seterusnya.


Beberapa hari yang lalu saya didatangi—lewat telepon—oleh seorang mahasiswa tingkat akhir dari salah satu perguruan tinggi yang juga merupakan kawan dekat.

Dia bercerita panjang kali lebar. Mengungkapkan keprihatinan, ketakutan, kegelisahan, kecemasan, kegalauan, tuntutan, protes, semacam pra-demonstrasi, walaupun tidak jelas kepada siapa ia peruntukkan.

Sedemikian berat persoalan dan besar perhatiannya, sehingga kepalanya mungkin mau meledak karena tak mampu menampung semua beban sosial-moral yang ada dalam pikirannya.

Sepertinya dia mahasiswa yang, kalau didengar dari nada dan gerak bicaranya, adalah seorang aktivis yang pro-rakyat kecil. Sangat care terhadap perubahan, peka dan berempati terhadap masalah-masalah di lingkungannya. Baik di dalam kampus maupun di luar. Baik skala lokal, tingkat regional, kelas nasional, maupun level global.

Dia berorasi di telingaku tentang apa saja.

Misalnya tentang ratusan wakil rakyat yang tak kunjung merakyat.

Politik dunia di balik pertandingan klub sepak bola dan kenaikan BBM.

Pemimpin yang firaunisme.

Partai yang calonnya lucu dan ia anggap tidak layak.

Nonstop-nya bencana.

Korupsi yang sangat membudaya dan dianggap biasa.

Belum lagi FPI yang ia tuduh menjadi kotoran Islam.

Perkelahian pendapat antara NU dan Muhammadiyah.

Tentang pudarnya pesona dan kharisma beberapa ulama.

Demoralisasi mahasiswa.

Dosen yang belum juga dosen.

Organisasi yang semakin tidak organisasi.

Pembangunan konflik kampus.

Mahakarya La Galigo, kebudayaan Bugis yang dipinjam selamanya oleh Belanda.

Israel yang menempeleng Palestina.

Alien-alien asing yang menguasai perekonomian Nusantara.

Sampai chaos dan pembunuhan massal yang terjadi di Mesir.

Semua dia omongkan tanpa batas.

Mungkin seandainya ditulis, bakal menjadi sebuah buku mega best seller, most wanted, dan memperoleh rekor MURI.

Alhasil, kawan ini menguraikan secara luas dengan gaya bicara khas Soekarno dan nada suara mirip Gie.

Ia berbicara banyak tentang pelbagai hal yang mengganggu pikiran sekaligus menyedihkan hatinya.

Dan di ujung setiap kalimatnya, ia selalu menutup dengan pertanyaan yang agak bernuansa revolusi:

"Apa yang harus saya lakukan?"

Ia mengulang-ulang kata-kata itu sampai lima kali.

"What should I do?"

"Apa yang mesti saya lakukan?"

Saya yang dari tadi dengan sabar mendengar pidatonya merasa harus sanggup menjawab pertanyaannya.

Jadi, kujawab saja:

"Bro, segera selesaikan skripsimu!"


Nowadays...

Mahasiswa seharusnya memperbanyak membaca.

Terutama membaca dirinya sendiri.

Ada yang harus dilakukan.

Ada yang sebaiknya dilakukan.

Ada yang tidak harus atau boleh tidak dilakukan.

Ada yang lebih baik tidak dilakukan.

Dan ada pula yang sama sekali tidak boleh dilakukan.

Dalam agama kita mengenal istilah:

Wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram.

Bercerminlah.

Kira-kira sebagai mahasiswa, mana yang wajib, mana yang sunnah, mana yang mubah, mana yang makruh, dan mana yang haram untuk kau lakukan.

Renungkan.

Cari.

Dan temukan sendiri.

Tamparlah kesadaranmu.

Terbanglah ke langit lalu menukik ke jantungmu.

Tanyakan kembali:

Apa yang kau lakukan selama ini?

Kenapa kau mahasiswa?

Siapa yang membayar ongkos hidup dan biaya kuliahmu selama ini?


Kamu mahasiswa.

Yang mengaku dengan angkuh sebagai agent of change.

Punya solidaritas tinggi dan sangat sosialis.

Yang merasa bijak karena telah berguru kepada sederet filsuf terkenal seperti:

Thales, Aristoteles, Socrates, Plato, Descartes, Karl Marx, Kant, Hegel, Ryle, Nietzsche, Machiavelli, Ockham, dan lain-lain.

Sudah merasa pandai karena mengenal dengan baik pemikiran tokoh-tokoh nasional seperti:

Buya Hamka, Nurcholish Madjid, Gus Dur, Utomo Dananjaya, Hasan Abdullah Sahal, A. Malik Fajar, Anies Baswedan, Agus Sunyoto, dan lain-lain.

Merasa pop dan besar kepala karena menghafal nama-nama tokoh besar dunia seperti:

Mahatma Gandhi, Einstein, Edison, Ibnu Sina, Bill Gates, Steve Jobs, Abraham Lincoln, Obama, Timur Lenk, Mao Tse Tung, Neil Armstrong, dan lain-lain.

Atau menganggap diri berwawasan luas karena pernah membaca buku atau karya para sastrawan dan budayawan seperti:

Sutan Takdir Alisjahbana, Umbu Landu Paranggi, Putu Wijaya, Rendra, Chairil Anwar, Cak Nun, Suryadi AG, Korrie Layun Rampan, Colliq Pujie, Butet Manurung, A. Mattulada, Nurhayati Rahman, dan lain-lain.


Apakah kamu mahasiswa yang bangga dengan gelar iron stock-mu?

Generasi emas pemimpin bangsa.

Kaum intelektual muda yang elite.

Gagah dalam berorasi dan berdebat ilmiah.

Namun ternyata masih mengemis uang kuliah dari rakyat kecil yang bernama orang tuamu.

Tidakkah engkau merasa jijik terhadap sebagian mahasiswa yang kerjanya minta uang untuk kuliah dan pacaran?

Minta uang membeli HP mahal, tetapi tidak sanggup membeli pulsa sendiri.

Minta dibelikan motor, tetapi tak mampu membeli bensin sendiri.

Minta uang dengan alasan membeli buku.

Print tugas.

Fotokopi makalah.

Bayar boarding house.

Bayar makan.

Bayar ini.

Bayar itu.

Lantas nanti, kalau sudah sarjana, sudah sukses menjadi orang besar, lalu pergi sejauh-jauhnya.

Terbang tinggi bersama karier dan pekerjaannya.

"Lupa kulit."

Meninggalkan rakyat kecil.

Menyia-nyiakan air mata perjuangan gigih orang-orang yang selama ini hanya berada di balik layar.


Kalau ayahmu rela terbakar panas matahari saat mencangkul di sawah.

Atau rela sakit kehujanan di tengah laut demi mencari sesuatu yang bisa ia ubah menjadi uang untuk menghidupi sekolah dan hidupmu.

Kalau ibumu bersedia berjualan makanan untuk membiayai kuliahmu.

Atau mereka harus rela dan siap meratakan harga dirinya dengan tanah karena meminjam uang kepada tetangga demi mengongkosi kuliahmu.

Sekarang saya bertanya:

Apakah kamu juga bersedia menjadi tukang batu?

Tidak malu menjadi tukang sapu jalanan atau pencuci piring?

Apakah kamu bersedia menjadi tukang ojek?

Berani mengantar galon?

Rela menarik becak?

Atau melakukan pekerjaan apa saja demi memperjuangkan masa depanmu sendiri?