Aku:

Terjebak sebab-akibat,
diringkus daging lemak.
Sepi itu tak kosong,
diam yang bergerak.

Ada aku:

Kau kolong yang butuh ranjang.
Aku tetap ranjang walau tanpa kolong.
Semesta tak membuktikan aku.
Akulah bukti semesta mengada.

Kau tahu?

Kucing Tardji mencakarku,
duka-Mu menderas di dadaku,
paruh Attar mematuk ubun-ubunku,
mistik Rumi mengetuk-ngetuk rumahku.

Ada apa ini?

Aku lelah menjilat mangkuk bekas Jubran,
sedang sarung kian melilit perut.
Sejarah disusun oleh kawanan topeng.
Akhirnya, aku patah hati pada dunia.

Dulu:

Aku percaya Tuhan karena kata.
Tanpa kata, Tuhan tak pernah ada.
Tanpa Tuhan, aku tak pernah nyata.
Aku bertemu Tuhan dalam kata
yang bersembunyi dalam mantra.

Kini:

Kupatahkan kata pada Tuhan.

Karena ternyata,

kata

hanya pengantar Tuhan.