: Dirja Wiharja



"AttabE-tabE' ki' na'ko laloki riyolona tauwe."

Begitulah orang tua kita mengajari anaknya untuk berlaku sopan dan santun kepada orang lain atau sesamanya.

MappatabE' adalah memohon izin atau meminta permisi saat ingin lewat di depan orang sambil mengucapkan kata tabE', disertai senyuman dan diikuti dengan gerakan membungkuk, serta tangan kanan mengarah ke bawah atau ke tanah, hampir mirip seperti orang yang sedang majjori (menggaris sesuatu di tanah).

Jadi, ada ucapan dan ada perbuatan.

Antara ucapan dan perbuatan harus sama nilainya.

Taro ada taro gau', atau toddo poli temmallara'.

Apa yang engkau ucapkan dibuktikan pula dalam perbuatan.

Inilah pendidikan dasar yang sebenarnya diajarkan tomatoa (orang tua kita) kepada anaknya, yaitu bersopan santun, menghormati orang lain, tidak berbuat sekehendak hati, dan tidak bersikap munafik.

Karena ketika anak bertingkah tidak sopan atau nakal (mabetta'), maka yang paling pertama masiri' (merasa malu) adalah orang tuanya. Malu karena orang akan beranggapan bahwa "dE' gaga ade' na ye anana'E" (anak ini sama sekali tidak punya moralitas), atau riyasengngi makurang ajara' (tidak pernah diajari sopan santun).

Sehingga orang akan bertanya:

"Niga puana' i atau niga to pajajianna?"

(Siapa orang tuanya?)

"dE' kapang nengka napangajari ana'na."

(Sepertinya orang tuanya tidak pernah mengajari anaknya sopan santun.)

Kurang lebih seperti itulah tanggapan orang ketika melihat pemandangan yang tidak enak dalam masyarakat Bugis.

Mereka tidak mengatakan niga gurunna (siapa gurunya).

Maka sedari kecil sang anak dididik tentang pangngadereng (tata krama) oleh keluarganya, agar kelak ia tumbuh menjadi manusia beradab, manusia modern (to makki ade').


Filosofi tabE' ini sudah menyatu dalam kehidupan bangsa Bugis.

Temmassarang (tak terpisahkan) dan mattemme' (meresap) di dalam diri semua to Ugi' (manusia Bugis).

Di bumi mana pun mereka berpijak dan di langit mana pun mereka junjung, budaya mappatabE' menjadi sesuatu yang wajib untuk dilakukan.

Walau mereka lao sompe' (pergi merantau) ke negeri lain, mereka tidak melupakan adat istiadat kampung halamannya.

Kalaupun ditemukan ada yang tidak seperti itu, mungkin boleh dipertanyakan assalenna (dari mana sebenarnya asalnya), sebagai bentuk halus mengingatkan (sipakainge') tentang pangngaderengna OgiE.

Nasaba' tanniatu Ogi' ko dE' nakkiade'.

(Bukan orang Bugis kalau tidak beradab.)


Demikianlah manusia Bugis dengan kearifan tabE'-nya mendidik anak-anaknya untuk selalu rendah hati dan menghormati orang lain.

Karena menurutnya:

"NarEkko mupakalebbi i tauE, alEmu tu mupakalebbi."

(Jika engkau menghargai orang lain, sungguh dirimulah sebenarnya yang engkau hargai.)

Jadi, tabE' bukan sekadar ucapan atau gerakan simbolik. Tidak sekadar membungkukkan badan dan meluruskan satu sisi tangan ke bawah.

Tetapi tabE' adalah suatu kesadaran puncak tentang manusia dan kemanusiaan.

Bahwa siapa saja harus dihargai dan dihormati.

Begitu luhurnya budi dan betapa mulianya akhlak manusia Bugis.

Masya Allah.


Dan masih banyak lagi ungkapan nenek moyang kita yang jika diurai, akan kita temukan begitu banyak nilai pendidikan dan spiritual di dalamnya.

Seperti halnya filsafat pammali (pantangan), yang sangat penuh dengan muatan pendidikan moral.

Kalau kita tidak berendah hati untuk mempelajari dan memahaminya, maka yang terjadi hanyalah salah sangka, bahkan mungkin fitnah.

Disangkanya nenek moyang kita adalah tukang bohong.

Seperti ungkapan:

"Aja' mutudani angkanguluangngE, kempangekko matu'."

(Janganlah engkau duduki bantal, nanti kamu bisulan.)

Secara logika, orang akan mengatakan: apa hubungannya duduk di atas bantal dengan terkena bisul?

Di sinilah letak fallacy (kesalahan berpikir) manusia zaman sekarang.

Karena segala sesuatu baru akan dipercaya atau diterima kalau sudah dianggap masuk akal atau rasional.

Memahami sesuatu hanya dari kulit atau bungkusnya, bukan isinya (lise'na).

Juga dalam menasihati, perlu diketahui bahwa nenek moyang kita selalu menggunakan cara yang paling halus, atau lebih dikenal dengan istilah mannini.


Jadi, menurut tafsir saya, apa yang disampaikan nenek moyang kita semuanya masuk akal. Hanya saja mungkin sekarang kita belum menemukan rasionalitasnya.

Maka jangan tunggu rasionalnya baru mau percaya, baru mau bersyukur.

Bersyukurlah dulu.

Insya Allah, suatu saat nanti akan ketemu sendiri rasionalnya.

Seperti contoh pammali di atas, di dalamnya terkandung pendidikan nilai yang mendalam.

Kita dilarang duduk di atas bantal supaya bantalnya tidak rusak (mabbettu').

Di situ sebenarnya orang tua sedang mendidik agar anaknya tidak menjadi to pakkasolang (orang yang suka merusak).

Karena ditakutkan kelak, kalau sudah menjadi abiasangenna (kebiasaan), maka ia bisa jadi akan merusak hal-hal lain di tempat yang berbeda.

Dan pada akhirnya, to pakkasolang ini akan menjadi to masolang (orang bobrok).

Na'udzu billah min dzalik.


Nilai lain yang terpendam di dalam ungkapan pammali di atas hampir sama dengan ungkapan orang Amerika:

"Put the cart before the horse."

Tempatkanlah sesuatu pada tempatnya.

Yang namanya bantal itu untuk kepala, bukan untuk bokong.

Di sini orang tua kita mengajari untuk bersikap proporsional dalam memperlakukan sesuatu.

Menggunakan sesuatu sesuai dengan fungsi dan tujuannya.

Supaya di masa depan sang anak menjadi manusia yang pandai memposisikan dirinya.

Saat menjadi pemimpin, dia tidak akan menyalahgunakan kekuasaannya.

Dia akan bekerja secara proporsional dan profesional dalam pelayanan dan pengabdiannya.

Menjadi teladan bagi orang di sekitarnya.

"Monri yolo patiroangi, monri tengnga siparaga-ragai, monri onrong sipakaampi i."

(Ketika di depan dia menuntun, ketika di tengah dia membimbing, ketika di belakang dia mengarahkan.)

Demikianlah seharusnya pemimpin, kata La Taddampare Puang ri Maggalatung, Arung Matoa Wajo ke-IV.

(Syaiun lillah lahu Al-Fatihah.)


Sebagai renungan, janganki gengsi untuk belajar kepada kearifan leluhur kita.

Memang mustahil untuk menghidupkan kembali para leluhur yang sudah mallinrung (wafat).

Tetapi yang bisa kita lakukan adalah menghidupkan sumange'na (semangat mereka) dengan meneladani cara berpikir, tutur kata, dan perbuatannya.

"Niga palE ko tennia idi wijanna maneng patuoi paimeng sumange'na nEnEta'?"

(Siapa lagi yang akan menghidupkan semangat leluhur kalau bukan kita semua anak dan cucunya?)

Iya to?

(Bukankah demikian, wahai saudaraku?)

TabE'.

Semoga bermanfaat.

Wallahu a'lam.