"Mari kita hancurkan segala ibadah dan kebaikan kita dengan sering-sering menyebutnya, menceritakannya, membanggakannya, dan yang paling penting adalah meng-selfie-selfie-kannya.
Jangan lupa di-upload, diposting, dan dibagikan ke semua akun media sosial: Twitter, Facebook, Instagram, Path, Telegram, BBM, Line, dan sebagainya, dan seterusnya, dan semuanya, dan seluruhnya.
Jangan ada yang tersisa.
Pokoknya, semua aktivitas dan amal kebajikan mari kita umumkan. Let's publish all of them, biar dunia tahu bahwa kita adalah orang baik, orang saleh, orang berbudi luhur, orang yang pasti masuk surga.
Mari semuanya, ayo!
Jangan takut dibilang sombong dan riya'. Mereka cuma iri dan sebenarnya dengki kepada kita.
Ayo, jangan berhenti.
Mari kita musnahkan pahala-pahala kita.
Kita tidak butuh pahala.
Yang kita butuhkan hanyalah eksistensi.
Pengakuan demi pengakuan.
Kebanggaan demi kebanggaan.
Kehancuran demi kehancuran.
Hahahaha....."
"Apa-apaan kamu, Caddo'?! Kamu ngomong atau kumur-kumur?"
Lakudu' merasa perlu angkat bicara.
"Maksud kamu apa? Mau menyindir, menyenggol, atau menceramahi saya? Kalau mau ceramah, sana ke masjid, jangan di sini! Ibadah kok dihancurkan. Ah, ngawur kamu...."
"Hahahahah...."
Seperti biasa, Lacaddo' hanya tertawa.
"Lha, malah ketawa cengengesan. Jangan-jangan kamu sudah majnun alias gila?"
"Huaaahahahahahahahah...."
Volume tawa Lacaddo' semakin meningkat.
"Setiap ibadah kan memang harus dirayakan, setiap kebaikan harus disyukuri, dan setiap orang punya cara atau metodenya masing-masing. Minimal selfie...."
"Huaaahahahahahahahah...."
Lacaddo' tetap not responding. Istiqamah dengan ketawanya. Kini volume treble dan bass-nya yang dinaikkan.
"Sudahlah, kamu jangan usil. Jangan buat statemen-statemen yang semakin membebani rakyat. Jangan ciptakan kalimat-kalimat yang justru bisa bikin pusing masyarakat.
Anggap saja selfie-selfie mereka adalah hiburan atas penjajahan yang semakin tidak kentara ini. Biarlah mereka nikmati. Biarkan saja seperti itu. Tidak usah diutak-atik pikiran mereka.
Biarkan mereka merdeka dalam keterjajahan, bahagia meski itu hanya pura-pura....."
Lakudu' terus berceloteh tanpa henti, tetapi Lacaddo' tetap tidak terpancing sama sekali oleh semua argumentasi bualannya.
"Sudahlah, kamu jangan resek. Setiap orang kan punya maqamnya masing-masing. Punya kapasitas, kualitas, integritas, dan tas-tasnya masing-masing.
Terserah mereka mau memproses hidupnya bagaimana. Terserah mereka mau mengapakan dunianya. Pokoknya terserah-serah mereka mau membagaimanakan keluar-masuknya napasnya.
Kalau berbeda, ya dimaklumi dan dimafhumi saja. Kita hargai pendapatnya. Kita hormati cara hidupnya.
Jangan kau ganggu dengan membuat sindiran-sindiran yang aneh-aneh.
Teruskan pemikiranmu dan biarkan mereka melanjutkan hidup mereka.
Damai itu indah...."
"Hahahahahahahahah..... berisik kamu....!!!!"
Lacaddo' mulai bereaksi.
"Kamu sendiri yang selalu memancing dunia persilatan lidah. Ditanya tak menjawab, malah ketawa hahahahahah seperti mengejek."
Lakudu' membantah.
"Begini, Bro. Kamu diam dulu."
Lacaddo' akhirnya merespons.
"Resleting-kan dulu mulutmu. Sterilkan emosimu. Bagaimana saya bisa bicara kalau kamu tidak mau berdemokrasi untuk berhenti bicara?
Dan sekadar kamu tahu, tidak semua pertanyaan harus dijawab. Tidak semua pertanyaan ada jawabannya. Karena ada pertanyaan yang hadir atau muncul dalam kehidupan kita yang sebenarnya untuk mengajarkan kesabaran.
Nah, kayaknya kamu belum lulus di situ.
Heheheheh...."
"Wah, kamu sok menggurui. Jawab saja pertanyaanku. Apa maksud dari pernyataan kamu tadi? Ibadah kok dihancurkan???!!!"
"Santai, Bro. Saya tidak suka berdebat. Karena berdebat itu bisa mematikan hati. Juga bisa mengurangi ketampanan. Heheheheh....
Saya juga tidak menggurui.
De' je' upagguruko, utambaimi accamu.
Saya sama sekali tidak mengajarimu. Saya cuma menambah kecerdasanmu.
Heheheheh...."
"Hahahahahahahahah.... tau acu...."
Lakudu' mulai mendingin apinya. Tampaknya sudah mulai sedikit paham maksud Lacaddo'.
"Tidak ada yang keliru. Semua yang kau omongkan tadi juga ada benarnya.
Adapun ungkapan saya tadi sebenarnya hanya sekadar mengekspresikan apa yang ada di kepala saya. Tidak ada maksud untuk menyindir, apalagi ceramah. Saya kan bukan ustaz. Heheheheh....
Cuma yang harus distabilo di sini, khusus mengenai ibadah dan aktivitas kebaikan yang kita lakukan, adalah jangan sampai kita kehilangan niat dan tujuan utama kita.
Artinya, energi yang kita gunakan jangan sampai tidak menghasilkan gelombang cahaya.
Maksud saya, mari kita hancurkan ibadah demi ibadah yang tidak ilaihi raji'un.
Kita tahu dan paham bahwa kita inna lillah, tetapi gagal memakrifati ilaihi raji'un tadi.
Heheheheh...."
"Maksudnya? Ah, makin bingung saja."
Lakudu' mulai mengalami gejala spiritualisme penasaran.
"Coba kau ingat-ingat kembali," Lacaddo' melanjutkan.
"Coba kau telusuri ibadah dan kebaikanmu. Coba kau renung-fikirkan setiap amalanmu. Periksa kembali apa niat dan tujuan sejatimu.
Ingat apa ujung pangkal dari setiap niat beribadah kita.
Apa niat salat?
Apa niat puasa, zakat, sedekah, menyumbang, menolong orang, menafkahi keluarga, membangun negara, melestarikan alam semesta, menulis, baca puisi, main teater, mengajar, mencari ilmu, memperbaiki laptop, menyapu halaman, menanam bunga, minum kopi, berorganisasi, main Facebook, upload video, naik gunung, selfie, membaca novel, buka warung, menghadiri undangan, dan aktivitas apa saja yang tidak merusak tatanan perdamaian dunia?
Tolong ingat niatnya.
Ujungnya semua adalah lillahi ta'ala.
Hanya untuk Allah.
Kenapa?
Karena kita selalu punya kesadaran inna lillahi wa inna ilaihi raji'un itu.
Heheheheh...."
"Terus apa kait-hubungnya dengan menceritakan, membanggakan, atau men-selfie-kan ibadah-kebaikan kita?"
Lakudu' semakin bertambah penasarannya.
"Ya, tidak masalah ji itu.
Tapi ibadah yang baik dan paling dicintai Allah adalah yang disembunyikan.
Kebaikan yang sempurna dan disenangi Allah adalah yang dirahasiakan dan dilupakan.
Tidak perlu dipertontonkan.
Biarlah Allah dan para malaikat-Nya yang menontonnya.
Allah sebagai audiens sejati kita.
Sebab jangan lupa, toh semua ibadah dan kebaikan yang kita lakukan itu pun semuanya berasal dari-Nya, bersumber dari kasih sayang Allah.
Jangan sampai kebaikan kita bertransformasi menjadi keburukan hanya gara-gara rusaknya niat kita.
Akibat beloknya tujuan kita karena adanya gerakan-gerakan tambahan kita.
Maka rahasiakanlah kebaikanmu sebagaimana Allah merahasiakan keburukanmu."
"Terus... terus...."
Lakudu' kini ketagihan.
"Ya, silakan teruskan kebaikanmu, lanjutkan ibadahmu.
Tapi kalau bisa, berhentilah mengungkit-ungkitnya.
Tahanlah untuk menceritakannya.
Puasakanlah diri untuk membanggakan dan mempublikasikannya.
Manusia selalu ingin eksis, padahal hanya Allah yang Maha-Eksis.
Laa mawjuuda illallah.
Manusia selalu ingin dipuji, padahal hanya Allah yang pantas dipuji.
Alhamdulillah.
Segala puji hanya milik Allah.
Tapi ya itulah alasannya mengapa kita harus senantiasa memohon perlindungan kepada Allah Yang Maha Melindungi dari segala tipu daya setan, termasuk diri kita sendiri.
A'udzu billahi minasy-syaithanir-rajiim.
Jangan berhenti berdoa karena Allah tidak pernah beristirahat, apalagi tidur.
Laa ta'khudzuhu sinatun wa laa nawm.
Cukuplah Allah sebagai penolong dan sahabat kesedihan kita.
Hasbunallah...."
"Subhanallah......"
Lakudu' mengalami ketakjuban jiwa sampai-sampai tidak sadar kalau Lacaddo' sudah menghilang dari hadapannya.
"Caddo'! O... Caddo'! Kegako? Kau di mana?"
"Saya lagi di WC...... beol ka' dulu, Ces.... heheheheh...."
