Nasib Desaku
Oleh: Dirja Wiharja
Berpuluh tahun silam,
satu usaha dilakukan untuk membangun peradaban desa.
Orangtua di desa mengirim anak-anaknya ke kota.
Mereka menyuruh anak-anaknya bersekolah, kuliah, dan berkenalan dengan barang-barang mewah.
Belajar menjadi orang gagah, kaya, dan bergaya.
Meniru cara berjalan orang kota, mengikuti cara makan dan berpakaian orang kota.
Katanya, agar tidak kolot dan terpencil seperti nenek moyang mereka.
Upaya yang benar-benar serius!
Maka berangkatlah anak-anak desa itu menuju kota.
Setiap tahun, orangtua dari berbagai penjuru kampung mengekspor anak-anak mereka ke suatu wilayah bernama kota.
Berpuluh tahun kemudian...
Betul! Kota berhasil mengubah pola pikir anak-anak mereka.
Mengganti perangkat isi kepala mereka dari mitos ke logos.
Dari cara-cara primitif menuju perilaku modern yang kreatif.
Pandai berbicara, berkemeja, bersepatu, dan bermain sandiwara.
Kota telah sukses mendidik anak-anak mereka.
Berpuluh tahun kemudian,
para orangtua perlahan menyadari kesalahannya.
Dulu, sebelum anak-anak mereka berangkat ke kota,
orangtua hanya membekali mereka dengan semangat saja.
Namun ternyata mereka lupa menasihati anak-anaknya tentang agama dan adat.
Rupanya orangtua tak tahu,
kalau di kota agama sudah dilembagakan, tanda-tanda suci sudah lama dipolitikkan.
Nasihat-nasihat adat leluhur hanya menjadi bahan tertawaan.
Ternyata orangtua tak tahu,
kalau di kota Tuhan sudah lama dilupakan.
Orangtua mulai menyesal satu per satu.
Anak-anaknya tak mau kembali ke desa.
Mereka lebih senang tinggal dan meninggal di kota.
Beberapa anak memang ada yang kembali ke desa.
Namun itu karena kota tak sudi menampung mereka.
Akhirnya mereka terpaksa pulang ke desa membawa arogansi kota.
Tak mau bekerja di sawah.
Malu memikul cangkul.
Tak mau lagi menggembala kerbau
dan mencari ikan di laut.
Sebab di sekolah mereka diajarkan bahwa bertani, berkebun, menggembala itik, dan menjadi ibu rumah tangga bukanlah jenis pekerjaan.
Orangtua benar-benar tak menyangka.
Orang kota telah menculik jiwa anak-anaknya,
menyekap mereka dalam ruangan sempit,
sambil mengajari mereka mengeja kejahatan.
Di desa, anak-anak diajari hidup sederhana, bersahaja,
dan bahagia dengan makna-makna, bukan dengan benda-benda.
Namun di kota, anak-anak diajari gaya hidup mewah,
cara bicara yang sangat lewah,
dan berteman akrab dengan narkoba.
Wah... wah...
Kota mengajari anak-anak desa bahwa untuk bahagia harus dengan uang,
dengan nafsu, dan dengan kekuasaan,
bukan bahagia dengan perasaan-perasaan.
Apalagi bahagia dengan kesadaran bertuhan.
Berpuluh tahun yang akan datang,
anak-anak desa yang belajar di kota
tak ada lagi yang mau dan tertarik kembali ke desa.
Kota telah menyantet dan mencuci otak mereka.
Dengan mal, restoran, rumah bernyanyi, hotel, dan tempat-tempat hiburan.
Kota telah membegal akal pikiran dan hati mereka.
Kota pun telah mengajari anak-anak desa tentang pacaran;
memegang tangan perempuan, masuk kamar berduaan, berciuman,
berpelukan, dan main kuda-kudaan.
Kota mengajari anak-anak desa menjadi anak yang kurang ajar.
Kota mengubah anak-anak desa menjadi anak yang cepat masuk angin,
gampang ditipu dan diadu domba.
Kota mengajari anak-anak desa menjadi orang
yang sangat mudah marah dan sulit memaafkan.
Kota mengajari anak-anak desa menjadi orang
yang merasa paling pintar dan tak mau disalahkan.
Kota mengajari anak-anak desa menjadi orang
yang membenci perbedaan dan suka memancing perpecahan.
Kota mengajari anak-anak desa menjadi orang
yang tak tahu membedakan mana makanan, mana kotoran.
Kota telah berhasil merampok seluruh kemurnian anak-anak desa.
Akhirnya...
Anak desa menjadi orang yang "tidak mengerti, dan tidak mengerti bahwa ia tidak mengerti."
Ke mana larinya anak-anak desa itu?
Ke mana perginya anak-anak yang suci itu?
Ke mana mereka?
Wah...
Ternyata mereka lagi sibuk main hape.