: Dirja Wiharja



Sebelum Menghilang

Kakek pernah bilang:

"Kalau kamu ingin mengenal Tuhan, kau harus belajar sastra dulu. Agar tidak tragis seperti Mbah Nietzsche."

"Apa itu sastra, Kek? Apakah dia semacam ilmu kebal? Apakah dia sejenis jurus pedang sakti?"

"Hehe... bukan, cucuku. Dia bukan ilmu seperti itu, bukan pula seperti alat yang kau sebut itu."

"Lalu apa gerangan sastra itu, Kek?"

"Dia adalah cara hidup, cara duduk, cara berjalan, cara diam, cara tertawa, cara menangis, cara bernapas, cara berkawan, cara memasak, cara bertamu, cara bertetangga, cara bercinta, cara bekerja, cara berpikir, dan lain-lain. Teruskan sendiri!"

"Ah, saya tidak paham, Kek. Tolong lebih sederhana lagi."

"Sastra itu adalah cara mengalirkan gelombang listrik di pusat otakmu, sehingga kamu bisa menyentuh dan memetik logika, etika, dan estetika yang ada dalam semesta Al-Qur'an."

"Ah, makin tidak paham, Kek."

"Begini saja. Sastra itu metodologi alamiah hadiah dari Tuhan.

Bukan air yang mengalir di sungai, tetapi aliran air di sungai itu.

Dia bukan kretek yang disulut api, tetapi tarikan hisapan dan semburan asapnya.

Dia bukan kopi yang kau minum, tetapi nikmat seruputnya.

Dia bukan lautan, tetapi debar-debur ombaknya.

Bukan penari, tetapi indah tariannya.

Bukan angin, tetapi sapuan dan hembusannya.

Sastra membantu kita mengerti kelembutan, membantu memahami ilmu tentang batas, bagaimana berdisiplin memegang kebenaran, bukan kebebasan yang tanpa akar dan atau sumber.

Sastra itu ilmu hidup!"

"Jadi, semua manusia butuh sastra, Kek?"

"Tentu saja. Bukan cuma sastrawan yang butuh sastra. Ulama, orang beragama, politisi, pemimpin, niagawan, petani, tukang ojek, guru, suami, ibu rumah tangga, anak, mahasiswa, semua butuh sastra.

Itulah mengapa Tuhan meniupkan sastra dalam diri setiap manusia.

Tanpa itu, mereka hanya akan memandang perjuangan dan kehidupan ini sebagai ekonomi tok: materi, benda, uang, dan atau barang.

Manusia yang tidak menggunakan sastra dalam kehidupannya akan sangat pendek jangkauan mata pandangnya.

Kuda-kuda batinnya lemah, mudah patah atau dirobohkan.

Akalnya akan mengecil dan menjadi kerdil.

Mudah masuk angin, galau, susah move on, dan gampang mengamuk.

Jika kamu memandang sesuatu dengan mata sastramu, maka di situ kamu akan menemukan banyak getaran, menemukan sekian gelombang, menemukan macam-macam, menemukan Qur'an, menemukan inti kehidupan, dan akhirnya kamu akan menemukan Tuhan.

Paham?"

"Hehehe... belum, Kek."

"Ya sudah, kamu belajar cebok saja dulu! Hehe..."