: Dirja Wiharja


Tasawuf dan Salah Sangka Kita

Bagi kebanyakan orang, tasawuf dipahami sebagai ilmu yang identik dengan perdukunan.

Ajaran setan.

Klenik.

Sesat.

Bid'ah.

Kafir.

Neraka.

Dan silakan Anda teruskan sendiri.

Padahal, seandainya kita berendah hati dan mau berguru, mau memperluas cakrawala pengetahuan, serta mempelajarinya dengan sabar, sungguh kita akan menyadari bahwa tasawuf justru merupakan kilauan mutiara yang tersembunyi di kedalaman samudra syariat Islam itu sendiri.

Ia adalah nyawa bagi seluruh amal ibadah kita.

Karena puncak tasawuf adalah syariat yang paripurna: lahir dan batin.

Hal itu ditandai dengan terbitnya kebijaksanaan dan kedewasaan hidup dalam diri seseorang, serta sempurnanya akhlak manusia.

Namun sayang sekali, entah siapa yang telah menyebarkan kesalahpahaman dan membelokkan pemahaman tentang realitas tasawuf.

Akibatnya, sebagian masyarakat menjadi alergi terhadap tasawuf.

Menganggapnya sebagai ajaran yang sesat dan menyesatkan.

Saya bersaksi bahwa tasawuf tidak mengajarkan ilmu yang aneh-aneh, bisa ini dan itu, atau berbagai hal yang sering dibayangkan orang.

Yang diajarkan tasawuf adalah cara.

Yaitu metode penyucian jiwa dan pembersihan hati.

Itu saja.

Sebagaimana menurut Junayd al-Baghdadi:

"Tasawuf adalah membersihkan hati dari selain Allah."

Melalui jalan tasawuf, kita berusaha membersihkan hati dari berbagai keterikatan dan syirik yang tersembunyi di dalam diri.

Dengan hati yang bersih itulah kelak kita lebih mudah mengenal diri.

Tahu diri.

Tahu batas.

Tahu bagaimana semestinya berakhlak kepada semesta.

Dan tahu apa tujuan akhir dari kehidupan ini.

Dengan jiwa yang suci, keyakinan kepada Allah menjadi semakin mantap.

Haqqul yakin.

Semakin dekat.

Semakin pasrah.

Semakin total menyerahkan diri kepada-Nya.

Kuncinya adalah ketekunan dan istiqamah dalam mengamalkan dzikir yang telah diterima dari guru atau pembimbing ruhani.

Bagi sebagian kalangan tasawuf, latihan ruhani seperti dzikir, muhasabah, dan khalwat dipandang sebagai sarana untuk membersihkan hati dari berbagai penyakit batin.

Karena itulah mereka memberi perhatian besar pada pembinaan ruhani, bukan hanya pada aspek lahiriah ibadah.

Jadi, kita telah salah sangka apabila memahami bahwa tasawuf bertentangan dengan syariat Islam.

Justru tasawuf berusaha menghidupkan substansi dan nilai-nilai luhur Islam itu sendiri.

Demikian pula bagi mereka yang memasuki dunia tasawuf dengan tujuan mencari kesaktian.

Menurut saya, itu juga sebuah salah sangka.

Anda keliru apabila bertasawuf dengan tujuan memperoleh kekuatan supranatural, menjadi paranormal, meramal, kebal, terbang, menghilang, mencari kharisma, ingin dicintai banyak orang, memperkaya diri, mengoleksi jin atau khadam, serta berbagai tujuan serupa lainnya.

Karena tujuan utama tasawuf bukanlah itu.

Tujuan utamanya adalah penyucian diri dan pendekatan kepada Allah.

Segala bentuk pencarian yang berpusat pada ego dan kepentingan diri justru sering dipandang sebagai penghalang dalam perjalanan ruhani.

Tasawuf tidak dibangun di atas ambisi untuk menjadi luar biasa di hadapan manusia.

Sebaliknya, ia mengajarkan bagaimana menjadi hamba yang semakin kecil di hadapan Tuhan.

Dus, apabila Anda mencari kesaktian dalam semesta tasawuf, besar kemungkinan Anda tidak akan menemukannya sebagai tujuan utama.

Tasawuf justru berusaha membongkar berbagai ilusi keakuan yang membuat manusia merasa istimewa.

Karena semua itu dapat menjadi hijab yang menghalangi perjalanan menuju Allah.

Walakhir, rendah hatilah.

Seperti padi: makin berisi, makin merunduk.

Seperti sufi: makin merunduk, makin berisi.

Allahumma shalli 'ala Sayyidina Muhammad.