: Dirja Wiharja



Menjadi Manusia

Ternyata menjadi manusia jauh lebih sukar dibanding menjadi pejabat, pengusaha, penceramah, pelajar, mahasiswa, dosen, seniman, budayawan, artis, dan seterusnya.

Karena manusia memiliki wilayah kosmologi yang jauh lebih luas.

Mungkin karena untuk lulus menjadi manusia diperlukan kesiapan dan keberanian mental. Dibutuhkan kedewasaan emosional, kemantapan intelektual, kesungguhan kultural, dan kedalaman spiritual.

Kurikulumnya Lauhul Mahfuzh.

Metodologi pembelajarannya adalah keteladanan.

Di dalamnya, calon manusia harus memenuhi dan melewati banyak syarat yang berat dan kadang tidak masuk akal.

Karena sekolahnya manusia adalah pendidikan yang tidak hanya berfokus pada otak dan otot.

Lebih dari itu.

Untuk memperoleh gelar manusia, seseorang harus menyelesaikan pendidikan pancaindra dan pelatihan ruhani terlebih dahulu.

Harus melewati proses pembersihan qalbu.

Dan harus mampu menjawab soal-soal ujian kehidupan yang diutus oleh Tuhan.

Saksikanlah.

Karena wilayah itu diremehkan dan disepelekan, akhirnya jadilah seperti yang kita lihat hari ini.

Banyak orang berani menjadi ustaz, tetapi tidak punya nyali untuk menjadi manusia.

Banyak orang siap menjadi pengusaha, tetapi tidak siap menjadi manusia.

Ada yang sukses menjadi pejabat, tetapi gagal menjadi manusia.

Dimaklumi.

Karena memang menjadi manusia itu susahnya minta ampun.

Butuh kesabaran yang ekstrem dan radikal untuk mencapainya.

Maka beruntunglah bagi Anda yang bisa menjadi seorang manusia.

Tentu saja manusia yang saya maksud di sini mungkin berbeda dengan pengertian manusia menurut Anda.

Tidak apa-apa kita berbeda.

Karena perbedaan mengajari kita untuk berkenalan dan saling menghargai.

Perbedaan pula yang membimbing kita untuk bersatu dan menyatu dalam bingkai perdamaian, bukan malah bercerai-berai dan menciptakan perpecahan.

Manusia yang saya maksud adalah manusia yang memiliki kemanusiaan.

Bukan manusia-manusia-an.

Bukan yang sekadar manusia.

Bukan yang asal manusia.

Melainkan ruh-ruh yang memiliki kesadaran sebagai makhluk, hamba, sekaligus khalifah.

Mereka yang siap dengan qalu bala syahidna-nya untuk membawa dan menebarkan nilai-nilai universal Tuhan: kebaikan, kebenaran, dan keindahan.

Mereka yang siap secara lahir dan batin melakukan perjalanan spiritual-kemanusiaan di muka bumi ini.

Menjadi rahmatan lil 'alamin.

Menerima seluruh makhluk Tuhan di dunia.

Oleh karena itu, untuk sementara bisa kita simpulkan bahwa yang banyak berkeliaran di planet ini sebenarnya bukanlah manusia, melainkan makhluk yang mengaku-ngaku sebagai manusia.

Atau, lebih halusnya, makhluk yang masih sedang berproses menuju manusia.

Belum manusia.

Akhirnya, ada sebuah pertanyaan yang mungkin bisa kita jadikan bahan perenungan di kamar meditasi kita masing-masing, di ruang privasi kita:

"Apakah kita manusia yang sedang melakukan perjalanan ruhani, ataukah kita makhluk ruhani yang sedang melakukan perjalanan kemanusiaan di dunia ini?"

Memang ini begitu sulit dan rumit.

Sebab untuk menemukan jawabannya dibutuhkan meditasi yang panjang, pertolongan cahaya hidayah dari Allah, limpahan cahaya ilmu dari Baginda Muhammad, serta bimbingan ruhani para mursyid.

Perjalanan inilah yang membuat banyak orang enggan dan takut untuk memulainya.

Bahkan ada pula yang alergi terhadap teori maupun laku-praktiknya.

Namun itu tidak apa-apa.

Sekali lagi, setiap orang bebas dan merdeka memilih jalannya.

Asalkan jalan yang dipilih mampu mendekatkannya kepada Tuhan, bukan malah menjauhkannya.

Maka setiap saat sebenarnya kita harus terus mempertanyakan kepada diri sendiri segala sesuatu yang kita lakukan.

Apakah yang saya kerjakan ini dicintai dan diridhai oleh Tuhan, atau sebaliknya?

Apakah Tuhan tidak murka jika saya melakukan ini?

Apakah ini sudah sesuai syariat atau belum?

Apakah saya sudah menjadi manusia atau belum?

Harus ada wawancara eksklusif terhadap diri sejati kita masing-masing.

Spiritual self-interview, istilah saya.

Ada yang mengatakan bahwa semakin banyak kita melakukan aktivitas kemanusiaan, maka semakin manusialah diri kita.

Aktivitas kemanusiaan di sini adalah syariat: menjalankan perintah Tuhan dan menjauhi segala larangan-Nya.

Sholat adalah salah satu pelatihan paling efektif untuk menjadi manusia.

Inna ash-shalata tanha 'anil fahsya'i wal munkar.

Demikian pula puasa, zakat, dzikir, membantu orang lain, berbakti kepada orang tua, menghormati sesama, melestarikan lingkungan, menghidupi keluarga, menyayangi binatang, dan menuntut ilmu.

Kesemuanya adalah bagian dari metodologi untuk naik kelas dari makhluk menuju level manusia.

Kalau tidak, mohon maaf, Anda tidak layak disebut manusia.

Anda hanyalah makhluk yang menyerupai manusia.

Sekali lagi, ini versi saya.

Anda boleh mengangguk setuju.

Atau sebaliknya, menggelengkan kepala sebagai tanda masih bingung.

Syariat adalah keniscayaan.

Manusia dan syariat tidak bisa dipisahkan.

Jika ada manusia yang meninggalkan syariat, maka hilanglah kemanusiaannya.

Dan itu sama saja seperti matahari yang berhenti memancarkan cahayanya ke bumi.

Apa yang terjadi?

Silakan didialogkan dengan diri masing-masing.