Izin Menghayal
"Seandainya" saya adalah Tuhan, maka orang seperti Nietzsche akan langsung saya ikhlaskan masuk surga tanpa hisab.
Saya senang sekali dengan idenya tentang membunuh Tuhan.
Iya, Tuhan telah mati.
Tuhan yang ada dalam pikiran dan halusinasi manusia.
Heuheu.
Filsafat Nietzsche sangat cocok untuk mereka yang bermoral budak.
Cocok untuk siapa pun yang hidupnya selalu tertindas.
Karena isinya adalah dosis tinggi yang menampar adrenalin untuk melawan dunia.
Nietzsche menginginkan manusia hidup bukan sebagai budak yang takut kepada tuannya, melainkan menjadi tuan itu sendiri.
Manusia harus menjadi Übermensch: manusia unggul yang melampaui dirinya sendiri.
Sedangkan agama—atau para agamawan—sering kali menggiring dan menggembalakan umatnya menjadi manusia awam, manusia rata-rata.
Dan itu, menurut kritik Nietzsche, berpotensi menghilangkan bakat-bakat besar serta kemungkinan-kemungkinan luar biasa yang ada dalam diri setiap individu.
Nah, Ustaz Nietzsche ingin menyadarkan kita.
Membangunkan manusia dari tidur panjangnya.
Mengajak manusia bangkit melakukan gerakan pembebasan.
Merdeka dari berbagai keyakinan dan asumsi yang selama ini diterima begitu saja.
Tetapi sayang, rata-rata manusia tetap istiqamah dan lebih senang dengan khotbah-khotbah yang menenangkan.
Itu sebabnya hidup mereka sering hanya berjalan di tempat.
Karena agama, bagi sebagian orang, hanyalah obat penenang ketika mereka mengerang kesakitan.
Agama adalah tempat pelarian ketika mereka berhadapan dengan ketidakadilan, penderitaan, atau ketidakberesan hidup.
Mau bagaimana lagi.
Heuheu.
Demikianlah khayalan logis ini.
Sekian.
Dan tidak usah terima kasih.