: Dirja Wiharja


Setiap kebahagiaan seharusnya diupacarakan.

Minimal dengan sesujud syukur atau dengan secangkir kopi.

Itulah pernyataan paling puitis dan bentuk penghormatan terbaik kita atas nikmat indahnya kehidupan. Kita jangan sampai cuek dan pelit untuk merayakannya.

Hari ini, kekasihku diwisuda.

Setelah berbulan-bulan berjihad, begadang, dan berkelahi dengan tesis sastranya, usaha keras dan doanya selama ini akhirnya terbayar lunas dengan gelar Master of Arts.

Dia yang diwisuda, tetapi saya yang besar kepala. Bangga bertubi-tubi atas kesuksesannya.

Saya bahagia.

Sangat bahagia!

Kebahagiaan seperti ini sungguh istimewa.

Saya akan merasa sangat berdosa dan masuk neraka kalau sampai tidak merayakannya.

Dulu, saat dia pindah ke kontrakan barunya, saya juga diam-diam merayakannya.

Saya mengajak kawan-kawan berkumpul. Saya traktir teh gelas dan bertumpuk-tumpuk kuaci.

Pokoknya saat itu kami makan kuaci sampai bodo'.

Ya, perayaan itu tidak mesti selalu meriah dan mewah.

Sebab yang terpenting adalah ungkapan kegembiraan di dalamnya.

Yang utama adalah semangat berbagi kebahagiaan kepada sesama.

Itulah nasihat bijak yang selalu kuingat dari semesta.

Syukur, Alhamdulillah.

Maka, di hari yang indah dan bercahaya ini, kembali saya mengajak kawan-kawan untuk ngopi.

Pokoknya saya yang traktir.

Silakan pesan sepuasnya.

Asal jangan lebih dari sepuluh ribu rupiah tiap kepala.

Kantong saya bisa sobek.

Dompet saya bisa bangkrut.

Lagipula, Tuhan tidak senang dengan yang berlebihan dan melampaui batas.

Iya, kan?

Jadi, mohon pengertian dan makrifatnya.

Tetapi sekali lagi, silakan pesan apa saja.

Saya yang bayar!

Tentu saja tanpa sepengetahuan kekasih saya.

Dia tidak perlu tahu.

Cukup Tuhan dan kawan-kawan saya yang tahu.

Tahu bahwa saya sangat mencintai dan sungguh mengagumi semua tentang dia.

Cantik.

Cerdas.

Baik hati.

Dan menyenangkan.

Nikmat Tuhan mana lagi yang saya dustakan?

Selamat dan sukses selalu, wahai kekasih!



Parepare, 25 Juli 2019