Salah satu kebiasaan Lacaddo' yang menjadi sorotan di mata kawan-kawannya adalah soal ziarah kubur. Dia sangat hobi mengunjungi makam orang-orang saleh, para wali, para syuhada, leluhur, dan raja-raja.
Minimal sekali sebulan, dia mengagendakan waktu khusus untuk ziarah kubur. Bahkan, seandainya dia memiliki banyak uang, sudah pasti akan dihabiskannya untuk mengongkosi perjalanan demi mendatangi maqam-maqam para kekasih Allah. Terutama maqam Rasulullah SAW yang paling sangat dia rindukan.
Allahumma shalli 'ala Sayyidina Muhammad. Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Lakudu' pernah bercerita bahwa dirinya pernah menemani Lacaddo' berziarah ke salah satu maqam penyebar Islam pertama di Sulawesi Selatan yang berada di daerah Tosora, Kabupaten Wajo.
Setiba di sana, sebelum memasuki area pemakaman, Lacaddo' terlebih dahulu berwudu. Setelah berada di sisi maqam, dia mengucapkan salam, lalu memeluk dan mencium batu nisan. Setelah itu, ia duduk seperti duduk di antara dua sujud dan memulai doa serta zikirnya.
Ia seperti mengirimkan samudra Al-Fatihah.
Berkali-kali Al-Fatihah dibacanya. Yang masih terekam dalam ingatan Lakudu', ada banyak nama yang disebut saat itu. Mulai dari Baginda Rasulullah SAW, keluarga dan para sahabat beliau; empat malaikat: Jibril, Mikail, Israfil, dan Izrail; para nabi dan rasul; Sayyidina Khidir; Sulthanul Awliya, Syekh Abdul Qadir al-Jailani; syekh mursyidnya; sahibul maqam; para wali; para syuhada; orang-orang saleh; para guru dan ulama; para leluhur; kedua orang tuanya; seluruh saudara dan sahabatnya; semua muslim dan mukmin, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat; dan terakhir baru untuk ruh serta jasadnya sendiri.
Lacaddo' membunuh waktunya di depan maqam dengan membaca Shalawat At-Taqwa, hizib, dan surah-surah tertentu. Lalu berzikir khafi berjam-jam. Bertafakur sambil tersedu-sedu.
Terakhir, ia menutup semuanya dengan doa.
Kemudian pamit sembari kembali memeluk dan mencium batu nisan itu.
Kurang lebih hanya itulah yang bisa diingat oleh Lakudu'.
Dan itulah alasan mengapa Lacaddo' digelari Sar-Kub oleh kawan-kawannya:
Santri Kuburan. Sarjana Kuburan.
Ia sangat mencintai kuburan. Ia tampak damai dan sunyi hatinya saat berada di sana.
Karena itulah, kawan-kawannya sering bertanya-tanya.
Lakuttu curiga jangan-jangan Lacaddo' sedang menjalani suatu laku tarekat.
Labunrekke menduga mungkin ia sedang melakukan ritual kesaktian, sejenis ilmu hitam.
Lacodding beranggapan kalau-kalau Lacaddo' sedang terpengaruh aliran animisme, menyembah roh leluhur.
Lain halnya dengan Laborti. Ia curiga jangan-jangan Lacaddo' datang ke kuburan untuk meminta nomor togel.
Begitulah berbagai prasangka dan kecurigaan yang melanda pikiran mereka.
Hingga akhirnya, ditemani beberapa gelas kopi, malam itu mereka tidak tahan lagi untuk menanyakan langsung kepada yang bersangkutan.
Percakapan
Labunrekke:
"Caddo', meloka' makkutana."
Lacaddo':
"He, agaro? Ko wisseng moi, ubali motu pakkutanamu. Heheheh..."
Labunrekke:
"Itu masalah kebiasaanmu ziarah kubur menjadi klenik di pikiran saya dan menjadi tanda tanya besar di kepala kawan-kawan yang lain. Tolong jelaskan alasan dan kebenarannya. Memangnya kamu tidak takut dituduh musyrik atau bid'ah karena selalu mendatangi kuburan?"
Lacaddo':
"Hahahahahahahahah..."
Laborti:
"Kami tidak butuh bahak-bahakmu yang fals itu. Yang kami tunggu adalah jawabanmu, eksplanasimu, penjabaranmu, pemaparanmu, dan presentasimu tentang ziarah kubur. Seriuskoje', aja' micawa bawang."
Lacaddo':
"Hahahahah... mestinya kamu tanya, memangnya tidak takut sama jin, setan, dan makhluk halus lain yang ada di lingkungan perkuburan? Hahahahah..."
Labunrekke:
"Ya, kalau itu tidak usah ditanyakan. Kan setannya sendiri yang takut sama kamu, takut sama mukamu yang na'udzubillah itu. Heheheheh."
Lacaddo':
"Hahahaha... kamu memang ahli dalam hal memuji. Makasih pujiannya, Bro..."
Lacaddo' memang tidak gampang tersinggung atau dibuat sakit hati oleh hinaan murahan.
Mungkin karena sudah kebal makian.
Bisa jadi karena dia sudah tidak mampu membedakan mana pujian dan mana makian.
Atau mungkin karena dia sudah makrifat bahwa dirinya memang makhluk yang hina dan rendah. Hanya Allah yang pantas dipuja dan dipuji.
Maka manusia semacam Lacaddo' tidak pernah mencari penghormatan. Justru dia tipe manusia yang senang saat dirinya menjadi bahan tertawaan atau dicoba-coba oleh orang lain.
Memang tidak masuk akal manusia yang satu ini.
"Hinalah daku, kau kusayang," katanya.
Tidak peduli pada pujian manusia, dan tidak susah karena ejekan manusia.
Dia merdeka hidupnya, seolah-olah tidak pernah menempati dunia ini.
Lacaddo':
"Kalian bertanya karena ingin tahu atau ingin sekadar tahu?
Ini penting supaya saya tidak sia-sia bicara di sini.
Dan itu tidak usah dijawab. Cukup simpan dan pahami saja dalam kesadaranmu.
Sekarang, bismillah. Semoga Tuhan berkenan memberi saya laduni untuk menjawab pertanyaan kalian."
Lacaddo' diam sejenak, lalu kembali melanjutkan.
"Begini, Bro.
Semua kecurigaan yang ada di benak kalian itu, tolong diganti dulu dengan prasangka yang baik. Jika perlu, ubahlah menjadi doa keselamatan bagiku. Insya Allah cahayanya akan terpantul masuk ke hatimu.
Saya tidak sedang menjalani jenis tarekat tertentu seperti yang kalian tuduhkan.
Karena bagiku apa saja yang manusia lakukan di dunia ini—seperti minum kopi, memberi makan kucing, menyapa orang gila, memancing, mengunduh film, bermain gitar, membaca puisi, memperbaiki laptop teman, menghadiri undangan, memasak, mencuci piring, menyapu halaman rumah, bernapas, berdiskusi, naik gunung, menanam pohon, membaca buku, menulis, facebookan, BBM-an, googling, mengajar, maupun ziarah pusara—bagiku itu semua adalah syariat atau tarikat, alias jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Asal niat, tujuan, dan kesadaran kita melakukannya adalah lillahi semata. Demi mendapatkan rida Allah.
All roads lead to Allah.
Jalan menuju Allah itu sebanyak hembusan napas manusia.
Fahimtum? Argentum? Argentina.
Heheheh."
Labunrekke:
"Wess... mantap nih. Lanjutkan, Cappo'..."
"Nah, mengenai ziarah kubur, memang ada di antara saudara kita yang tidak sepemahaman. Bahkan ada yang menyalahkan, menyesatkan, berteriak bid'ah, berkata musyrik, dan seterusnya.
Tidak apa-apa.
Silence is diamond. Heheheh."
Lakudu':
"Saya kira, tarkul jawaabi 'alal jaahili jawaabun—bahwa tidak menjawab pertanyaan orang bodoh adalah jawabannya. Heheheheh..."
Labunrekke:
"Ais, jangangko copleber dulu, Kudu'. Coppa' pole benreng. Fokuskan telingamu ke Lacaddo'. Biar dia selesaikan kasusnya."
Lacaddo' kembali ke pembahasan.
"Ziarah maqam itu penting menurut saya.
Memang ada beberapa ulama yang sangat hati-hati, sangat khawatir kalau-kalau manusia salah alamat dan keliru tujuan sehingga mereka memilih untuk tidak menganjurkannya. Tapi tidak sampai melarang.
Sama seperti kecurigaan kalian.
Ada yang ke kuburan untuk pesugihan, meminta kekayaan, meminta ilmu kesaktian, meminta nomor togel, meminta hal-hal aneh, ada juga yang datang menyembah-nyembah, membawa sesajen, dan seterusnya.
Nah, yang seperti itulah yang ditakutkan oleh beberapa ulama kita.
Daripada melenceng dan merusak akidah, maka lebih baik tidak usah dilakukan kalau memang begitu."
"Jadi yang harus diperbaiki adalah pola pikir kita tentang kuburan.
Bahwa orang yang sudah mati itu sudah tidak punya kuasa membantu atau mengabulkan permintaan kita yang masih hidup ini.
Justru kitalah yang semestinya sering-sering mendoakan mereka.
Kirim Al-Fatihah sebanyak-banyaknya.
Dan itu sebagai bentuk kesyukuran kita atas hidup ini.
Tanpa leluhur, kita tidak akan ada.
Tanpa perjuangan para syuhada, kita tidak akan menikmati kemerdekaan ini.
Tanpa dakwah dan bimbingan para awliya serta ulama terdahulu, kita tidak akan mengenal Islam yang indah ini.
Jadi, kita berterima kasih kepada mereka semua dengan cara mendoakan mereka, dan jangan lupa berusaha melanjutkan jihad-mujahadah mereka.
Bagaimana?
Sepakat?"
Laborti:
"Ya, sepakat. Tapi belum puas."
"Kalau begitu saya coba tambahkan jawaban.
Nabi bersabda:
Aktsiruu dzikra haadzimil-ladzdzaati: al-mawt.
Perbanyaklah mengingat penghancur kenikmatan, yaitu kematian.
Di sini saya memahami perkataan Nabi ini sebagai motivasi kehidupan.
Kullu nafsin dzaaiqatul mawt.
Setiap yang bernyawa pasti merasakan kematian.
Mau tidak mau. Suka atau tidak suka.
Artinya, dengan memahami semua itu, kita tidak akan menyia-nyiakan hidup yang sementara ini.
Dengan berziarah ke kuburan, terutama pusara kekasih Allah, kita menjadi lebih ingat mati.
Dan itu ibadah.
Karena dengan mengingat mati, kita akan terdorong untuk selalu memperbaiki diri, bertaubat sebanyak-banyaknya, meninggalkan maksiat, dan kembali kepada ketaatan kepada Allah.
Jadi, mengingat mati adalah salah satu langkah untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Bagaimana?
Sudah mengerti? Atau masih belum puas?"
"Saya senang ziarah ke makam awliya dan para syuhada.
Sama sebagaimana yang dikatakan guru mulia Habib Umar bin Hafidz, bahwa dengan berziarah, itu bisa membangkitkan jiwa saya yang mati ini kepada cinta Allah.
Bagi saya, mereka tetap hidup dan terus hidup dalam menyembuhkan serta menghidupkan hati saya yang mati ini.
Mereka sungguh hidup.
Walaa tahsabanna alladziina qutiluu fii sabiilillaahi amwaataa, bal ahyaa'un 'inda rabbihim yurzaquun.
Dan janganlah kamu mengira orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Sungguh mereka hidup di sisi Tuhannya dan mendapat limpahan rezeki.
Sekali lagi, mereka sungguh hidup."
"Saya mengangkat tangan di depan pusara mereka memang bukan meminta apa-apa kepada mereka.
Tetapi saya berdoa memohon kepada Allah agar saya juga dicintai Allah sebagaimana mereka dicintai Allah.
Karena di sana saya menemukan cinta dan semangat perjuangan mereka.
Sehingga saya bersemangat menapak dan mengikuti jalan yang mereka tempuh.
Shiraathalladziina an'amta 'alaihim.
Jalan jihad dan mujahadah mereka.
Jalan kebenaran.
Jalan cinta.
Jadi, itulah cara saya mengekspresikan cinta kepada mereka yang dicintai Allah.
Lha, kok dibilang sesat, bid'ah, dan musyrik?
Apakah mencintai kekasih Allah itu salah?
Apakah berharap dicintai Allah itu musyrik?"
"Aku harus heran, wahai saudaraku.
Jika demikian, lalu mengapa menziarahi ahli dunia, mengunjungi tempat hiburan, mal, bioskop, diskotik, lapangan bola, sirkuit balapan, hotel berbintang, gedung DPR, dan sejenisnya tidak dilarang, tidak dibid'ah-bid'ahkan?
Padahal tempat-tempat seperti itu justru potensi sesatnya jauh lebih luas dan peluang musyriknya jauh lebih terbuka.
Bahkan mendatangi tempat seperti itu sering kali mematikan hati.
Aku harus heran, wahai saudaraku.
Jadi, lagi-lagi ini soal cara berpikir kita yang harus dibereskan dari penyakit kekerdilan dan kejumudan.
Apa saja yang dapat menambah keyakinan dan kebaikan, laksanakanlah dengan penuh cinta dan jadikan ia sebagai sarana, metode, atau wasilah untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah."
"Jadi sekarang bagaimana?
Sudah puas?
Atau jangan-jangan sudah pulas?
Heheheh."
Labunrekke speechless.
Laborti berkaca-kaca matanya.
Lakudu' tertunduk.
Lakuttu mengangguk-angguk.
Sementara Laroca' dan Lacodding masih misteri.
Mereka tenggelam di dalam samudra malam yang begitu magis.
Karena lama tidak ada yang menyahut, akhirnya Lacaddo' mengakhiri (bukan) ceramahnya sambil berkata:
"Ayo... ayo... habiskan kopi cintamu.
Saya mau ziarah kasur dulu.
Heheheh...."
