Apa kabar, wahai diriku sendiri?
Jangan terburu-buru menjawabnya, wahai diriku.
Ini bukan pertanyaan basa-basi,
seperti saat kau bertemu kawan-kawanmu.
Jangan tergesa-gesa meresponsnya, duhai diriku.
Renung-renungkanlah sejenak dulu.
Satu, dua, tiga,
atau tujuh menit kalau perlu.
Apa kabarmu?
Yang aku tanyakan bukan sekadar kabarmu.
Aku tanya:
Apa kabar kesehatanmu?
Apa kabar jasmani dan ruhanimu?
Apa kabar lahir dan batinmu?
Apa kabar dunia dan akhiratmu?
Apa kabar keluargamu?
Apa kabar tetanggamu?
Apa kabar negaramu?
Apa kabar agamamu?
Apa kabar pekerjaanmu?
Apa kabar syahadatmu?
Apa kabar mereka, wahai diriku?
Apa kabar Ramadanmu?
Kau isi dengan apa Ramadanmu?
Dengan kewajiban atau pelanggaran?
Dengan cahaya atau kegelapan?
Dengan rahmat ataukah laknat?
Dengan keyakinan atau kepura-puraan?
Dengan kesungguhan atau hanya kau anggap sebagai mainan?
Dengan merahasiakan atau mempertontonkan?
Dengan apa, wahai diriku?
Apa kabar puasamu, wahai diriku?
Masihkah ia sekadar lapar dan haus belaka?
Masihkah bukamu balas dendam nafsu semata?
Apa kabar semua pancaindramu?
Masihkah mata, telinga, hidung, mulut, perut, kaki, dan tanganmu tidak engkau puasakan?
Berpuasa dari segala yang tidak diridai-Nya?
Apa kabar hati dan pikiranmu?
Masihkah ia kotor, kerdil, dan pelupa?
Lupa menghubung kepada Tuhan.
Apa kabar kebaikanmu?
Masihkah ia engkau ungkit dan angkuhkan?
Masihkah ia engkau sebut-sebut dan banggakan?
Lalu apa kabar keburukanmu?
Masihkah ia engkau remehkan dan sepelekan?
Masihkah ia engkau teruskan dan lanjutkan?
Apa kabar dosa-dosamu?
Masihkah ia engkau tidak taubat-nasuhakan?
Sampai kapan, wahai diriku?
Apa kabar ibadah-ibadahmu?
Masihkah pahala dan surga menjadi tujuan utamanya?
Masihkah takut murka dan siksa neraka menjadi alasannya?
Lalu kapan Tuhan menjadi niat dan tujuan sejatimu?
Kapan Cahaya Muhammad menjadi penolong abadimu?
Kapan, wahai diriku sendiri?
Apa kabar saudara-saudaramu?
Masihkah mereka engkau riset kekurangan dan kelemahannya?
Masihkah mereka engkau gosip-show-kan aib dan kesalahannya?
Masihkah mereka engkau benci dan jadikan musuhmu?
Lalu kapan engkau meneliti dan memeriksa cacat dirimu?
Kapan engkau punya waktu bercinta dan bermesraan dengan sesama ciptaan-Nya?
Kapan, wahai diriku?
Apa kabar Indonesiamu?
Masihkah engkau mengkritik busuk pemerintahnya?
Masihkah engkau mengutuk bobrok pejabatnya?
Lalu kapan engkau memuji perjuangan mereka?
Kapan engkau mendoakan kebaikan mereka?
Kapan, wahai diriku?
Apa kabar agamamu?
Masihkah engkau berdebat urusan fikihnya?
Masihkah engkau menyalahkan mereka yang berbeda?
Masihkah engkau mengkafir-kafirkan dan menyesatkan selainmu?
Masihkah engkau terus bertengkar karena agama?
Masihkah engkau terus berperang atas nama Tuhan yang ada di konsep kepala dan duburmu?
Sampai kapan, wahai diriku?
Sampai kapan?
Apa kabarmu, wahai saudaraku?