Lakuttu menangis sejadi-jadinya.
Entah mengapa, ia merintih sangat hebat di dalam laboratorium sujudnya. Sudah berjam-jam dia mengunci diri. Kawan-kawannya sampai terheran-heran.
Ada apa gerangan?
Banjir apa yang sedang menenggelamkan perasaan Lakuttu hingga larut dalam air mata rahasianya?
Tadi katanya cuma sholat tahajud.
Eh, kenapa malah berubah menjadi nangis tahajud?
Tepat ketika sepertiga malam mengorbit, barulah Lakuttu keluar dari liang lahutnya.
Sambil membereskan cahaya di wajahnya, ia pun melangkah me-wahid, bergabung kembali dengan kawan-kawannya di ruang omong kosong mereka.
Di situ sudah ada Labunrekke yang sejak tadi menanti reda hujan air matanya.
Juga ada Laborti yang asyik senyam-senyum sendiri dengan androidnya.
Termasuk Lakudu' dan Lacaddo' yang lagi khusyuk main catur.
Serta tidak mau ketinggalan dua penghuni baru kos-kosan itu: Laroca' dan Lacodding, yang sedang sibuk maddengkeng, minum kopi Toraja sambil diselingi hisapan iconya.
"Kenapako lagi, Kuttu? Ada musibah, ga?"
Labunrekke mencoba membuka pintu keghaiban malam itu.
"Apa yang membuatmu menjerit-jeritkan air matamu layaknya manusia yang baru saja ditinggal pergi kekasihnya?
Bencana dahsyat apa yang menimpa batinmu?
Magako...?
Magi mukella'?"
"Tidak menangiska' itu, ces. Tapi menangisi," jawab Lakuttu.
"Iya, terserah iko manije'. Mau menangis, menangisi, menangiskan, atau apa pun istilahnya. Yang jelas pertanyaannya: kenapa?
Why?"
"Saya menangisi dosa-dosaku, maksiatku, pelanggaran syariatku, kesalahanku, kehampaan ibadahku, kerusakan moralku, dan semua kesia-siaan hidupku selama ini.
Aku menangisinya.
Aku menjeritkannya.
Aku mengairmatakannya.
Aku menyesalinya.
Dan puncaknya, aku mensujudkannya...!"
"Sujud syukur maksudnya?
Lha, dosa kok disyukuri?"
Hehehe...
Lacaddo' mulai memancing kerusuhan.
"Iya. Diam-diam saya memang mensyukuri semua itu.
Saya bersyukur karena ternyata saya tidak sendirian dalam lomba memperbanyak dosa.
Ada pemerintah yang menemani saya.
Ada beberapa media yang turut menemani saya.
Ada sebagian artis yang setia menemani.
Termasuk kalian semua.
Hahahahah...!"
"Sialan kamu, Kuttu...!"
Laborti ikut bersuara.
"Tuhan sengaja menyembunyikan kebobrokan itu. Lho, kok kamu malah membongkarnya?
Seharusnya kamu merahasiakan aib-aib itu.
Yang disebar cukup yang baik-baik sajalah."
"Biar jadi ibrah buat kita semua.
Terutama untuk saya," pungkas Lakuttu.
"Makanya cepat-cepat bertobat sebelum jadi mayat...!
Tubu ilallahi taubatan nasuha.
Bertobatlah kamu segera seperti tobatnya si Nasuha."
Hehehe...
Lakudu' coppa' seperti kalau dia tahu apa yang perlu menjadi titik fokus tadabbur malam itu.
"Taubat?
Memang apa itu taubat?
Hukumnya apa?
Mekanisme caranya bagaimana?
Syarat dan rukunnya apa?
Tolong dong sebutkan dan jelaskan epistemologinya...."
Lacodding mengakhiri puasa bicaranya malam itu dengan sederet pertanyaan spekulatif.
"Iya, mohon dipaparkan kepada kami-kami yang masih ingusan ini.
Yang baru akil balig."
Tambah Laroca' yang mulai terserang penasaran hasanah.
"Wah, kalau urusan yang begitu serahkan pada ahlinya biar tidak hancur.
Kwkwkwkwk...."
Labunrekke berkelakar seperti memprovokasi harimau turun dari gunung.
"Caddo', jelaskan dulue.
Ikotosi alena beliau.
Kamu kan sar-kub alias sarjana kuburan.
Pasti tahu dong apa itu taubat.
Tolong kau bagi ilmumu.
Jangan dibiarkan membatu di kepalamu."
Hehehe....
"Oke... oke....
Dengan sangat terpaksa, kalau kalian memaksa.
Hehe.
Tapi ini menurut saya ya.
Kalian boleh tidak sepakat.
Boleh juga hampir sepakat.
Silakan ditimbang sendiri di kamar iqra'-nya masing-masing."
Ungkap Lacaddo' memulai prosesnya.
"Taubat itu asalnya dari bahasa Arab: taaba-yatuubu-taubatan.
Terjemahannya adalah kembali.
Taubat ada dua subjeknya: Tuhan dan hamba.
Jadi Tuhan juga bertaubat.
Innahu huwat Tawwabur Rahim.
Bahkan berkali-kali dan terus-menerus.
Tapi tentu berbeda dengan taubat hamba-Nya.
Jangan disama-samakan.
Kalau Tuhan yang bertaubat, itu bermakna Tuhan kembali kepada sifat-Nya yang Maha Lembut, Maha Cinta, dan Maha Kasih Sayang kepada hamba-hamba-Nya.
Maksudnya, Tuhan mengampuni hamba-hamba-Nya.
Sedangkan taubatnya hamba bermakna bahwa hamba kembali dari dosa-dosanya menuju ketaatan kepada Tuhan.
Yaitu menyesali dan meninggalkan semua aktivitas maksiatnya, pelanggaran syariatnya, sifat dan kelakuan buruknya, lalu menggantinya dengan aktivitas ibadah.
Kembali melaksanakan perintah-Nya dan menghindari segala larangan-Nya.
Sekuat-kuatnya.
Dan setulus-tulusnya.
Menjalankan kebaikan dan kebenaran sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah.
Paham?!"
"Oke.
Pertanyaan selanjutnya.
Kenapa kita mesti segera bertobat dan tidak menunda-nundanya?
Apa memang fadilah dan rahasianya?"
Tanya Labunrekke.
"Minimal ada lima alasan yang saya beberkan."
Lanjut Lacaddo'.
"Pertama, li annanaa bani Adam.
Karena kita manusia, bukan malaikat.
Dan semua manusia—yang notabene adalah anak keturunan Adam—pasti melakukan dosa atau kesalahan.
Itu sudah harga mati.
Sama dengan NKRI."
Hehehe....
"Ingat sabda Nabi:
Kullu bani Adama khaththa'un, wa khairul khaththa'iina at-tawwabuun.
Semua anak Adam pasti pernah bersalah.
Dan sebaik-baik yang bersalah adalah mereka yang mau bertobat.
Jadi taubat itu juga kewajiban seorang hamba.
Termasuk ibadah yang tidak boleh diremehkan."
"Kedua, litaufiqil 'ibadah.
Agar ibadah kita, baik mahdhah maupun muamalah, mendapatkan kekuatan dan petunjuk dari Allah.
Sehingga kita memiliki semangat untuk melaksanakannya.
Kita jadi bersemangat untuk sholat, puasa, bekerja menafkahi keluarga, menolong orang, menanam pohon, berjuang, minum kopi, belajar, menuntut ilmu, dan sebagainya.
Lihat saja realitasnya.
Ada orang sehat tapi tidak sanggup mendirikan sholat.
Ada orang kaya tapi tidak mampu bersedekah.
Ada orang fisiknya sempurna dan kuat tapi tidak mampu bekerja mencari nafkah.
Ada orang paham ilmu agama, hafal Al-Qur'an, tapi tidak mampu mengamalkan kandungan Al-Qur'an.
Nah, silakan mengaca sendiri.
Periksa diri masing-masing.
Kalau selama ini belum ada semangat untuk beribadah atau berbuat baik, berarti masih ada dosa yang belum terampuni.
Maka kita butuh taubat.
Paham?"
"Ketiga, li halawatil 'ibadah.
Agar seluruh aktivitas ibadah dan kebaikan kita terasa lezat, enak, dan nikmat.
Jadi kita bertobat supaya ibadah dan semua pekerjaan sehari-hari kita manis rasanya.
Tidak hambar.
Tidak menjadi beban saja.
Biasanya kalau manusia terserang flu atau demam, semua makanan terasa hambar.
Nah, kalau sholat tidak nikmat, menolong orang tidak asyik, maka itu alamat ruhani yang sedang sakit.
Hati sedang tidak beres.
Maka obat penawarnya adalah taubat.
Paham?"
"Keempat, li allaa yatarakama adz-dzunubu fi qalbihi.
Agar tidak menumpuk dosa-dosa di qalbu atau jantung spiritualnya.
Kembali kita baca sabda Nabi bahwa bila seorang hamba melakukan dosa, maka muncul titik hitam di hatinya.
Bila segera bertobat, hatinya kembali mengilap, bersih, dan bercahaya.
Namun bila terus mengulang maksiatnya, titik hitam itu akan bertambah hingga memenuhi rongga dadanya.
Dan bila itu terjadi, gelaplah perilaku manusia.
Menjadi buruklah ucapannya.
Dan semakin jauhlah ia dari kebaikan."
"Meskipun yang kita lakukan dosa kecil?" tanya Lacodding.
"Ya.
Dan perlu kalian pahami satu rumus dosa.
Tidak ada dosa kecil jika diremehkan dan diulang-ulang terus.
Ia bisa menjadi besar.
Sebaliknya, dosa sebesar apa pun jika segera ditaubatkan, maka sirnalah dosa itu karena kasih sayang Allah yang luas kepada hamba-hamba-Nya.
Paham?"
"Kemudian yang terakhir, yaitu yang kelima:
Li allaa yufja'al mawt.
Supaya tidak keburu mati sebelum sempat bertobat.
Kullu nafsin dzaa'iqatul maut.
Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian.
Kalau itu sudah tiba, tidak ada negosiasi lagi.
Tidak bisa ditunda.
Dan tidak bisa dimajukan.
Laa yasta'khiruuna wa laa yastaqdimuun.
Oleh karena itu, jangan tunggu tua baru mau bertobat.
Bagaimana kalau ajal datang sebelum memasuki umur tua?
Hahahaha....
Kan mati konyol namanya.
Suu'ul khatimah, kata Pak Ustaz."
"Memang ada sebagian orang yang dikaruniai kemampuan mengetahui tanda-tanda kematian.
Tahu kapan dia meninggal.
Bahkan ada yang sampai tahu caranya mati.
Ruhnya keluar dan kembali sendiri tanpa bantuan malaikat pencabut nyawa.
Tapi itu tidak banyak.
Kalau orang seperti kita, ya mesti selalu siap siaga mati.
Makanya harus sering-sering memohon ampun.
Kita harus setiap hari bertobat karena dosa juga setiap hari.
Hehehe....
Paham?"
"Terus cara, syarat, dan rukunnya bagaimana?" kembali Lacodding bertanya.
"Taubat memang ada mekanismenya.
Ada adabnya.
Termasuk ada mandi taubat, sholat taubat, dan sebagainya.
Tapi kita cukup yang sederhana saja dulu.
Kapan-kapan kita lanjutkan kajian ini lebih mendalam.
Ini baru kulitnya kulit.
Untuk sementara, minimal setiap selesai sholat kita perbanyak istighfar:
Astaghfirullah Rabbal Baraya...
Astaghfirullah minal khathaya...
Astaghfirullahal 'Azhim...
Semoga Allah berkenan mengampu...."
Lacaddo' belum sempat menyelesaikan kalimatnya.
Tiba-tiba Lakudu' membentak:
"Skak mat...!!!
Ahahahaha...!
Akhirnya kukalahko, Caddo'!
Hahaha!"
"Awwweee....
Agaje' toba', toba'....
Mateni rajae.
Ikala bawakki' si...."
Karena sibuk dan sok pintar menjelaskan taubat, Lacaddo' buyar konsentrasi dan strategi perangnya di papan catur.
Lakudu' yang lihai memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan itu untuk menyerang benteng pertahanan Lacaddo'.
King-nya buntu.
Dan akhirnya mati terbunuh oleh pion Lakudu'.
Sementara kawan-kawannya yang lain pura-pura bodoh soal itu.
Dan di situlah muncul sifat asli Lacaddo'.
"Anak sambala'...!!!"
Kata Lacaddo' mengakhiri ceramahnya.