: Dirja Wiharja


Iblis

Makhluk yang satu ini memang unik.

Kisah tragedinya dengan nenek moyang manusia, Adam, memang cukup aneh dan mengundang banyak pertanyaan serta persoalan yang pelik. Ia menjadi salah satu kontroversi besar yang terus diperdebatkan hingga hari ini.

Ada beberapa pandangan mengenai peristiwa tersebut. Minimal dua pandangan yang ingin saya hadirkan di sini.

Pandangan pertama menganggap bahwa iblis memang sangat layak dan pantas dikutuk akibat kelancangannya. Kesombongan dan kedengkiannya telah membuat dirinya buta secara spiritual hingga membangkang perintah Tuhan dan menolak untuk sujud hormat kepada Adam.

Ia tidak memahami bahwa Adam adalah makhluk terbaik dan paling sempurna. Satu-satunya ciptaan yang kepadanya Tuhan berfirman:

"Wa nafakhtu fihi min ruhi."

Ada ruh, atau sesuatu yang sangat istimewa dan rahasia, yang ditiupkan ke dalam diri Adam.


Pandangan kedua berpandangan bahwa iblis, yang sebelumnya dikenal dengan nama Azazil, adalah makhluk suci yang paling taat beribadah kepada Tuhan.

Hingga akhirnya ia diangkat menjadi imamnya para malaikat di langit.

Dalam sudut pandang ini, iblis dipahami sebagai sosok pecinta Tuhan yang sejati.

Maka hanya dialah makhluk yang paling rela dan paling ikhlas menerima apa pun yang Tuhan anugerahkan kepadanya, termasuk laknat dan kutukan.

Dalam makrifatnya, iblis meyakini bahwa perintah sujud kepada Adam adalah ujian keimanan dari Tuhan.

"Jangan menyembah atau bersujud kepada selain Aku."

Kalimat inilah yang diyakini dan diistikamahkan oleh sang iblis.

Menurut pemahamannya, Tuhan sedang menguji level mahabbahnya.

Jadi, meskipun ia tahu bahwa risikonya adalah murka, iblis tetap meyakini bahwa laknat Tuhan juga merupakan rahmat.

Laknat adalah bentuk cinta dan kasih sayang-Nya.

Laknat adalah fase yang harus ia tempuh untuk bertemu dengan Tuhan, kekasih sejatinya.

Karena itu, menjalani kutukan dipandangnya sebagai ibadah yang suci.

Dan baginya, kutukan itu adalah kenikmatan sekaligus takdir yang luar biasa.

Subhanallah.


Namun sebenarnya, saya sendiri lebih senang membayangkan bahwa iblis sekarang sedang bertafakur dan menyesali dosa-dosa pembangkangannya.

Bertobat atas tindakannya pada masa silam.

Kemudian mengembara di dunia, berdakwah, dan memberi wasiat agar jin dan manusia mengambil hikmah serta mau'izhah hasanah dari pengalaman hidupnya.

Yaitu agar tidak bersikap angkuh terhadap pencapaian ilmu dan makrifat.

Tidak bangga dengan ibadahnya.

Tidak memelihara dendam dan prasangka.

Tidak menjadi pendengki.

Dan tidak menjadi makhluk yang gemar berdebat.

Saya juga lebih senang membayangkan bahwa ketika dahulu diperintahkan untuk sujud, iblis meminta waktu sejenak untuk berdiskusi atau minimal diberi kesempatan bertanya kepada Tuhan:

"Apakah ini perintah ataukah ujian?"

Karena mana mungkin iblis berani melawan Tuhan.

Tidak mungkin.

Pasti dia akan hancur dengan sendirinya.

"Tapi kalau manusia, saya kurang tahu," kata iblis.


Jadi, jangan membenci iblis.

Dia memang begitu.

Jalan spiritualnya demikian.

Metode dakwahnya juga begitu.

Anggap saja ia adalah partner dialektika manusia.

Supaya manusia memiliki gairah usaha dan semangat perjuangan untuk meningkatkan kualitas imannya.

Iblis adalah spiritual filter tool.

Alat uji dari Tuhan untuk melihat siapa manusia yang benar-benar taat dan siapa yang tidak.

Siapa yang ikhlas dan siapa yang tidak.

Siapa yang mencintai dunia.

Siapa yang mencintai surga dan akhirat.

Dan siapa yang murni mencintai Tuhan semata.

Kalau engkau membenci iblis, justru nanti dia akan senang dan tertawa-tawa karena berhasil memasukkan kebencian ke dalam dirimu.

Karena ia sukses merekrutmu masuk ke dalam barisan kelompoknya.


Sekali lagi, jangan membenci iblis.

Bagaimanapun juga, ia tetap makhluk ciptaan Tuhan.

Tetapi jangan pula berhusnuzan kepadanya.

Karena memang begitulah tabiat dan pekerjaannya.

Mungkin Anda bingung.

Karena saya juga sedang bingung.

Heuheu.


Makanya saya bermimpi suatu saat bisa mengadakan seminar multidimensional tentang iblis.

Dan sekali-kali narasumber utamanya adalah Prof. Iblis sendiri.

Pesertanya dari bangsa jin dan umat manusia.

Moderatornya Malaikat Jibril.

Tempatnya bisa di Planet Mars.

Atau mungkin mencari planet lain yang lebih kondusif di galaksi yang berbeda.

Itu gampang.

Tunggu saja informasinya.

Proposal kegiatannya sudah jadi.

Tinggal diantar ke hadirat Tuhan.

Masalahnya...

Tuhan itu ada di mana?

Di mana, ya?


Waduh!

Baru sadar.

Ternyata dari tadi yang sedang merasuk dan yuwaswis saya untuk menulis adalah iblis.

"Hihihihi..."

kata iblis.