: Dirja Wiharja



Mungkin sudah saatnya kita mengakui secara jujur dan terbuka bahwa sekolahan kita yang ada sekarang ini—yang selama ini kita bangga-banggakan keberadaan dan sistemnya—adalah suatu kegagalan.

Tentu saja tidak semuanya gagal.

Tapi hampir semuanya.

Ya, gagal. Namun Alhamdulillah tidak dalam keadaan gagal yang paripurna dan total.

Maksudnya, masih ada sekian persen unsur keberhasilannya, sehingga sangat naif jika kita tuduh gagal secara komprehensif.

Apalagi ini juga baru sekadar khayalan kritis saya saja.

Jadi, apa pun yang menjadi pembahasan di sini, anggap saja sebagai kentut ilmiah.

Cium baunya, lalu lupakan dan biarkan berlalu.

Heuheu.

Walhasil, meskipun begitu, masih banyak alasan untuk mempertahankan sekolahan yang kita cintai ini.

Sungguh masih banyak kemuliaannya.

Misalnya, kita masih bisa menyaksikan beberapa pencapaian luar biasa yang dihasilkan oleh para sarjanawan kita.

Kepandaiannya menipu, memanipulasi, dan menyiasati kehidupan.

Mereka, paling tidak, sudah memiliki kemampuan survive di atas normal.

Mereka sudah bisa menggunakan otaknya untuk menghasilkan uang.

Minimal posisinya sedikit di atas binatang yang tidak mengenal peradaban uang.

Dan kita jangan menuntut mereka supaya menjadi orang baik atau saleh di dalam masyarakat.

Jangan dipaksa dan dibebani mereka untuk jujur dan sabar saat bekerja.

Karena, mohon maaf, saat menempuh pembelajaran dan perkuliahan di dunia sekolahan dan kampus, mereka para ilmuwan itu memang tidak pernah diajari, dididik, dan dibimbing untuk menjadi orang baik.

Sebab hampir keseluruhan sistem dan kurikulum kita memang arahnya bukan ke sana.

Mereka memang hanya dituntun untuk menjadi orang pandai, cerdas, atau genius.

Puncaknya: menjadi buruh atau karyawan di perusahaan tertentu.

Jadi, jangan salahkan mahasiswa yang menghamili pacarnya.

Jangan marah kepada pegawai yang malas.

Guru atau dosen yang suka bolos.

Jangan mencela pejabat yang korupsi.

Dan kita juga tidak usah syok jika mendapati siswa atau mahasiswa yang tawuran, mengonsumsi narkoba, atau bahkan durhaka kepada orang tuanya.

Kenapa?

Ya, karena soal itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan sistem yang diterapkan di sekolahan kita.

Sama sekali tidak ada kaitannya dengan tujuan pendidikan nasional kita.

Walhasil, apa yang harus dilakukan?

Ya, tidak usah melakukan apa-apa.

Who cares?

Kalau pemerintah saja tidak peduli, buat apa kita ikut-ikutan peduli?

Hanya menghabiskan umur saja.

Atau kalau Anda serius, cobalah membuat sekolah tandingan.

Madrasah alternatif.

Sekolah yang tidak sama dengan sistem sekolahan kita yang sekarang.

Tidak sama dalam arti benar-benar berbeda.

Fokusnya mungkin pendidikan ihsan.

Mengenal diri.

Budi pekerti.

Akhlakul karimah.

Kurikulumnya tasawuf.

Bimbingan dunia-akhirat.

Jurusan kehidupan dan kematian.

Program studi kebaikan.

Mata kuliah cinta.

Tolong-menolong.

Bertani.

Berkarya.

Mengembangkan bakat-bakat super dan potensi diri.

Dzikir.

Silat.

Kebebasan.

Kesabaran.

Keikhlasan.

Dan sebagainya.

Dan seterusnya.

Maksud saya, silakan bikin sekolah itu untuk diri masing-masing.

Heuheu.