Oleh: Dirja Wiharja

Islam bukan hanya tentang syariat dan akidah.

Bahwa memang betul, Islam memiliki perintah atau kewajiban syariat seperti syahadat, sholat, puasa, zakat, sedekah, haji, dan seterusnya. Semua itu merupakan media atau sarana bagi manusia untuk mensyukuri segala nikmat kehidupan yang dianugerahkan-Nya. Sebagai alat untuk berkomunikasi dan mengabdi kepada-Nya. Serta, yang tidak kalah pentingnya, sebagai jalan (suluk) untuk meningkatkan kualitas kesadaran manusia di dunia. Meng-upgrade ruhani kita agar kelak tidak bangkrut dan menderita di kehidupan selanjutnya.

Bahwa memang betul, Islam juga mengajarkan teologi atau akidah yang lurus: Laa ilaaha illallah, Muhammadur Rasulullah. Tak ada yang layak dicintai dan dicari rida-Nya kecuali Allah, Tuhan Pencipta alam semesta. Dan Muhammad adalah utusan-Nya sebagai kasih sayang bagi alam semesta.

Akan tetapi, Islam bukan hanya soal itu. Bukan itu saja.

Islam juga adalah agama persatuan yang sangat memuliakan kemanusiaan. Islam hadir untuk menyatukan umat manusia secara hakikat, bukan sekadar secara syariat atau kulit luar. Nama, bentuk, identitas, atau tampilan luar boleh berbeda-beda, tetapi kesadaran batinnya sama: bertuhan kepada Yang Maha Esa.

Maka, yang diajarkan oleh Nabi sebenarnya bukan hanya atau sekadar kulit, simbol, ritual, ataupun budaya. Melainkan isi, inti, dan substansi dari kebenaran: nilai-nilai kehidupan bersama yang mesra serta prinsip-prinsip hidup yang damai.

Sebab Nabi sangat menyadari bahwa tiap-tiap manusia dan bangsanya memiliki keistimewaan dan keunikannya masing-masing. Memiliki kebudayaan dan peradabannya sendiri-sendiri. Islam hadir untuk menyirami dan mengisinya dengan cahaya kebenaran, kebaikan, dan keindahan-Nya.

Oleh karena itu, menurut saya, Islam seharusnya dipahami sebagai sesuatu yang melampaui agama.

Kalau Islam hanya dipahami sebagai agama, maka ia akan menjadi kotak, menjadi sekat, menjadi jurang, menjadi institusi atau lembaga yang bersifat eksklusif: tertutup dan kaku. Islam yang sesungguhnya tak terbatas akan menjadi terbatas dan sempit karena hanya bisa atau boleh diakses oleh orang atau kelompok tertentu saja.

Dan akhirnya, mereka yang tidak atau belum Islam akan dianggap sebagai orang lain, kelompok lain. Lahirlah fanatisme agama. Walhasil, itu menceraikan dan memisahkan umat Islam dari agama-agama lain.

Sedangkan hakikat Islam justru untuk menghubungkan dan menyatukan semua agama atau aliran kepercayaan. Islam datang untuk menyapa siapa saja: apa pun suku, bangsa, budaya, negara, golongan, kelompok, organisasi, mazhab, ideologi, gender, karakter, dan latar belakangnya.

Umat Islam berkenalan, saling mengenal, lalu saling menghormati, saling menghargai, dan saling menerima satu sama lain. Islam memberi jaminan keselamatan kepada seluruh ciptaan-Nya, sebagaimana yang juga diajarkan oleh agama-agama saudaranya yang lain.

Waba'du.

Mari kita belajar. Cobalah memandang yang jamak itu sebagai satu kesatuan dan keutuhan. Kelihatannya banyak, beragam, berbeda, dan bermacam-macam. Namun realitasnya satu. Itulah tauhid.

Makanya Nabi disebut Ummiy dan Rahmatan lil 'Alamin. Beliau diutus memang sebagai ibu yang menemani dan menyayangi umat yang bermacam-macam.

Maka Islam adalah silaturahmi dan diskusi mesra bagi seluruh alam semesta.

Indah, bukan?

Sekian dulu khotbah yang singkat ini.

Jaga kesehatan semuanya.

Jangan lupa buang sampah pada tempatnya.

Semoga seluruh makhluk berbahagia!