Oleh: Dirja Wiharja


Suatu ketika, Rasulullah bercengkerama dengan para sahabat. Beliau yang mulia berkata:

لاَ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا، أَوَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ

"Wahai sahabatku, kebahagiaan dan keindahan surga, baik di dunia maupun di akhirat, tidak bisa dirasakan kalau kita tidak saling memberi rasa aman kepada sesama manusia, kepada sesama ciptaan-Nya (beriman). Dan rasa aman itu tidak bisa terwujud sebelum kita saling mencintai, saling mengasihi, dan saling menyayangi satu sama lain (berislam).

Dengarkanlah baik-baik. Akan kuberi tahu dan kutunjukkan jalan agar kalian saling mencintai. Yaitu: sebarkanlah salam di antara kalian."

Menurut pengetahuan umum, "sebarkanlah salam" dalam sabda Nabi itu maksudnya adalah "ucapkanlah salam". Dan itu benar. Itulah syariat salam dalam Islam.

Yaitu, kepada sesama hendaknya kita mengucapkan:

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Semoga keselamatan dan kebahagiaan senantiasa menyertaimu sekalian, wahai saudaraku. Wahai sekalian makhluk sesama ciptaan-Nya, semoga senantiasa berada dalam lindungan, limpahan kasih sayang Allah, serta keberkahan dari-Nya.

"Salam" bukan hanya ucapan yang indah, melainkan ungkapan doa yang sungguh mulia.

Secara syariat, kalau ini benar-benar diaplikasikan, dunia ini akan menjadi taman-taman surga. Sebab memberi salam adalah memberi keselamatan kepada sesama. Dan menjawab salam berarti kita turut serta, ikut bersepakat untuk saling menyelamatkan.

Visi dan misi kita di dunia adalah: semoga semua makhluk selamat dan berbahagia.

Maka, salam adalah perjanjian universal kita di hadapan Tuhan.

Assalamu'alaikum!

Saya, dengan penuh kesadaran, berjanji di hadapan Tuhan untuk tidak mengganggu, untuk tidak mengambil hak atau harta benda orang lain.

Assalamu'alaikum!

Saya, dengan penuh keyakinan, berjanji di hadapan Tuhan untuk tidak merendahkan martabat orang lain; untuk tidak menghina, mencaci, membenci, memfitnah, atau menipu orang lain; serta untuk tidak melecehkan harga diri orang lain.

Assalamu'alaikum!

Saya, dengan penuh ketulusan, berjanji di hadapan Tuhan untuk tidak menyakiti fisik orang lain, tidak melukai perasaan orang lain, apalagi sampai membunuh atau mengambil nyawa orang lain.

Itulah hakikat salam.

Wallahu a'lam.

Oleh karena itu, tagihlah diri kita setiap hari untuk mengamalkan sabda Nabi ini:

"Sebarkanlah salam di antara kalian!"

Bukan:

"Sebarkanlah cacian di antara kalian!"

Ingatlah itu, wahai diriku!

Taparajangekka addampeng, Yaa Rasulallah!

Allahumma shalli 'ala Sayyidina wa Habibina wa Syafi'ina wa Mawlana Muhammad, 'abdika wa nabiyyika wa rasulika an-nabiyyil ummiy, wa 'ala aalihi wa shahbihi, wa baarik wa sallim.