---
Lesley Hazleton:
Aku telah menghabiskan bertahun-tahun membaca Al-Qur'an, menggali sejarah para nabi, mempelajari Muhammad bukan sebagai ikon, tapi sebagai manusia. Dan semakin aku mendalami, justru semakin banyak pertanyaan yang muncul.
Tuhan:
Pertanyaan adalah awal dari kebijaksanaan, Lesley. Kau mencari bukan untuk meyakini, tapi untuk memahami. Itu sudah cukup.
Lesley:
Tapi mengapa begitu banyak yang mengklaim memiliki satu-satunya kebenaran atas nama-Mu? Islam yang aku temukan dalam ayat-ayat Al-Qur'an—penuh keragaman, nuansa, dan bahkan paradoks—justru dijadikan monolit.
Tuhan:
Karena manusia seringkali lebih nyaman dengan kepastian daripada kedalaman. Manusia lebih senang dengan kemapanan daripada penjelajahan. Padahal, Aku menciptakan keragaman bukan untuk membingungkan, tapi untuk memperkaya. Setiap tafsir adalah cermin, bukan kunci tunggal.
Lesley:
Jadi Kau tidak terganggu dengan perdebatan dan interpretasi berbeda dalam Islam?
Tuhan:
Tidak. Perdebatan yang tulus adalah bentuk ibadah. Bukankah Aku menyuruh mereka untuk berpikir, merenung, bertanya? “Apakah kalian tidak menggunakan akal?” adalah pertanyaan yang berulang dalam kitab-Ku.
Lesley:
Tapi mengapa Kau tetap membiarkan penyalahgunaan agama atas nama-Mu?
Tuhan:
Aku memberimu kehendak bebas. Cinta dan iman tanpa kebebasan adalah paksaan. Bahkan iblis pun punya pilihan. Yang membedakan manusia adalah bagaimana mereka bertanggung jawab atas pilihannya.
Lesley:
Jadi, jika aku tetap agnostik, tetap ragu, tapi jujur dalam pencarian—itu tak membuatku tersesat?
Tuhan:
Orang yang tersesat adalah yang berhenti mencari. Kau meragukan bukan karena membenci-Ku, tapi karena ingin mengenal-Ku lebih jujur. Itu bukan dosa, itu keberanian.
Lesley:
Lalu, Islam bukanlah tujuan akhir?
Tuhan:
Islam adalah jalan—salah satu dari sekian banyak jalan yang bisa membawamu lebih dekat kepada-Ku. Tapi jalan itu harus dilalui dengan hati, bukan hanya kata. Kata-kata hanyalah kurir. Segala nama dan istilah hanyalah pemantik. Lagipula, hidayah itu bukan label, tapi perjalanan.
Lesley:
Jika begitu, apakah aku akan menemui-Mu suatu hari nanti?
Tuhan (tersenyum dalam keheningan):
Aku selalu bersamamu. Bahkan dalam seluruh keraguanmu.
