: Dirja Wiharja
(Maaf, selama ini Anda keliru.)
Apakah Anda sudah beragama?
Apakah Anda yakin agama yang Anda anut saat ini adalah agama yang benar?
Jangan-jangan selama ini Anda sedang memeluk agama yang keliru. Jika masih ragu, masuklah ke agama ini sekarang juga. Ingat, kesempatan terbatas!
Namun, jangan terburu-buru.
Tarik napas dalam-dalam.
Mari kita berbicara dengan tenang.
Sebelumnya, izinkan saya membajak imajinasi Anda sejenak.
Bayangkan sebuah prisma kaca yang membiaskan cahaya menjadi beragam warna. Semakin jauh dari sumbernya, cahaya itu menyebar ke berbagai arah, membentuk spektrum yang luas dan berwarna-warni. Namun semakin ditelusuri ke pangkalnya, seluruh warna itu perlahan mengerucut dan bertemu pada satu titik.
Pada titik itulah pusat Kebenaran berada: Tuhan.
Sementara warna-warni yang terpancar ke segala penjuru adalah agama-agama yang tersebar di muka bumi.
Plato pernah mengatakan bahwa hanya ada satu kursi di atas langit. Sebuah metafora bahwa hanya ada satu Penguasa semesta, satu Realitas Tertinggi, satu Sang Ada: Tuhan.
Namun di bumi, kursi-kursi bertebaran di mana-mana. Beragam bentuk, warna, dan nama. Kursi-kursi itulah agama.
Persoalannya, setiap kursi sering kali mengklaim dirinya sebagai satu-satunya jalan menuju Kebenaran. Masing-masing mengangkat panji kepastian, seolah Kebenaran telah selesai ditangkap dan dikurung dalam batas-batasnya sendiri.
Padahal agama-agama hanyalah pipa-pipa kecil yang menyalurkan pancaran Kebenaran. Jejak-jejak cahaya Ilahi yang menetes ke dunia manusia.
Sayangnya, banyak orang sibuk memperebutkan pipanya, lalu melupakan air yang mengalir di dalamnya.
Jika agama memang benar, maka ia semestinya menjadi rumah yang menenteramkan. Tempat manusia menemukan kejernihan, makna, dan gairah untuk hidup dengan lebih manusiawi.
Bukan ruang yang dipenuhi kecurigaan.
Bukan pabrik yang terus memproduksi pasukan-pasukan spiritual yang selalu siap berperang atas nama Tuhan.
Jika agama memang benar, maka ia seharusnya menjadi telaga bening tempat hati dibersihkan dari kesombongan dan kebencian.
Bukan wadah untuk saling menghujat.
Bukan panggung bagi klaim-klaim yang meniadakan kemanusiaan.
Bukan pula legitimasi untuk saling melukai, menikam, bahkan membunuh.
Jika agama memang benar, maka marilah kita terus menampar.
Tetapi arahkan tamparan itu kepada diri sendiri.
Tampar dada kita sendiri.
Curigai diri kita sendiri.
Tanyakan dengan jujur:
Untuk apa kita beragama?
Untuk siapa kita beragama?
Benarkah kita beragama demi Tuhan?
Ataukah sesungguhnya demi ego yang menyamar sebagai kesalehan?
Benarkah agama yang kita anut memancarkan nilai-nilai Kebenaran?
Ataukah ia hanya pantulan dari ketakutan, fanatisme, dan kebutuhan kita untuk merasa paling benar?
Jika agama kita benar, pastikan bahwa ia bukan agama yang diam-diam kita ciptakan sendiri.
Agama yang tumbuh di atas tanah egoisme spiritual.
Agama yang dibangun dalam bilik sempit fanatisme.
Agama yang hidup di hutan rimba kecurigaan, tempat manusia saling mengintai dan memangsa atas nama keyakinan.
Jika agama kita memang benar, maka buahnya bukanlah kesombongan.
Buahnya adalah moralitas yang menggetarkan hati.
Yang mengajarkan kita untuk saling menyapa.
Saling memahami.
Saling menguatkan.
Saling membangun serpihan-serpihan surga di muka bumi.
Seribu bintang berkelip di langit malam.
Sejuta malaikat menari di cakrawala.
Di sinilah surga kita bersama.
Tempat kita saling menyapa.
Tempat kita saling mengasihi.
Sebab mungkin ukuran sejati sebuah agama bukanlah seberapa keras ia mengklaim kebenaran, melainkan seberapa dalam ia melahirkan kemanusiaan.
Dan jika Tuhan adalah Kebenaran yang tak terbatas, mungkinkah manusia yang terbatas benar-benar berhak mengaku telah menggenggam-Nya secara utuh?