Mulanya hanya sebidang tanah.
Hamparan lahan. Sawah tempat anak-anak bermain layang-layang saat musim angin habis panen raya.
Di atas tanah itu, dulu pernah berdiri pondok kecil tempat Wak Langge dan La Semmang menghabiskan masa kanak-kanak mereka. Mereka pernah berlari bersama mencari jangkrik balanda, mengejar belalang dan atau menangkap juru-juru. Mereka pernah berenang di saluran irigasi yang sama. Pernah mencuri mangga dari kebun warga lalu kedapatan sampai lari terbirit-birit hingga terjatuh ke selokan. Mereka tertawa. Saling menertawakan. Bahagia. Tanah itu benar-benar surga bagi mereka berdua.
Namun, waktu adalah misteri yang kejam.
Ketika mereka sudah dewasa dan masing-masing menikah. Segalanya pun berubah.
Saat orang tua mereka meninggal, warisan harus dibagi.
Salah satunya ada yang mangoa. Tanah itu tiba-tiba berganti makna.
Setiap jengkalnya mendadak memiliki harga.
Setiap batasnya melahirkan tafsir curiga.
Dan setiap kecurigaan perlahan berubah menjadi dendam di dada.
Mula-mula mereka masih saling berbicara.
Mereka berdebat. Lalu terjadilah perang ludah.
Kemudian mereka saling meninggikan suara.
Setelah itu, mereka berhenti saling menyapa.
Dan ketika kata-kata sudah habis, kebijaksanaan juga ikut habis.
Yang tersisa hanyalah amarah, kebencian, dendam dan pintu-pintu pertengkaran yang tak terhindarkan.
Saat segala upaya konsiliasi, negosiasi dan seluruh ikhtiar kompromi tidak lagi berguna,
maka bicara lah yang berbicara!
Malam sebelum Sigajang Laleng Lipaq dilaksanakan, kampung terasa lebih sepi daripada biasanya.
Lampu jalan bergoyang tertiup angin.
Di kolong sebuah rumah panggung, Wak Langge dan La Semmang duduk berhadapan.
Tidak ada saksi.
Tidak ada tetua adat.
Tidak ada keluarga.
Hanya dua lelaki yang sejak kecil mengenal suara tawa satu sama lain.
Mereka duduk lama.
Terlalu lama.
Sampai suara malam terdengar seperti bunyi instrumen Adagio for Strings.
Wak Langge merogoh sakunya dan mengeluarkan sebungkus rokok.
Tangannya berhenti sesaat sebelum menyerahkannya.
La Semmang menerimanya tanpa bicara.
Api korek menyala.
Sejenak wajah mereka diterangi cahaya kuning yang rapuh.
Keriput di sudut mata mereka tampak lebih dalam.
Lelah tampak lebih nyata.
"Asuh anak-anakku kalau aku kalah."
Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Wak Langge.
Asap rokok berhenti di tenggorokan La Semmang.
Ia menunduk.
Lalu mengangguk.
Tak lama kemudian ia berkata, nyaris berbisik,
"Kalau aku yang mati, mohon jangan biarkan anak istriku merasa kehilangan keluarga. Tolong jaga mereka."
Angin berhembus.
Tak ada yang berbicara setelah itu.
Mereka hanya duduk.
Memandang kekosongan.
Mendengar desir malam.
Dan mungkin, diam-diam berharap hari esok tak pernah datang.
Tetapi pagi selalu datang.
Dan bersamanya, datang pula takdir.
Lapangan di tengah kampung dipenuhi orang.
Tak seorang pun tersenyum.
Para lelaki berdiri dengan rahang mengeras.
Di tengah lapangan, terbentang sebuah lipaq—sarung bermotif kotak-kotak gelap.
Dari jauh, ia tampak biasa.
Namun, semua orang tahu sebentar lagi kain itu akan menjadi gelanggang tarung.
Puang Ambo berdiri di tengah lingkaran.
Suara tuanya menggema membacakan hukum leluhur.
Angin mengibaskan ujung bajunya.
Tak seorang pun bergerak.
Ketika pembacaan selesai, Wak Langge dan La Semmang melangkah maju.
Badik di tangan mereka.
Kilatannya menyambar mata hadirin.
Mereka menelan ludah.
Dadanya terasa sesak.
Untuk pertama kalinya mereka menyadari bahwa kebencian bisa memiliki bentuk.
Dan bentuk itu adalah sebilah besi yang haus darah.
Keduanya memasuki sarung.
Kain ditarik hingga membungkus tubuh mereka.
Lingkaran manusia di sekeliling mendadak membisu.
Lalu...
gerakan kecil.
Desingan.
Gesekan.
Sarung itu berguncang.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Kemudian bergoyang semakin keras.
Dari luar, tak seorang pun dapat melihat apa yang terjadi di dalamnya.
Yang terdengar hanya napas berat.
Denting logam.
Suara kain yang diremas.
Seorang perempuan menutup mulutnya.
Seseorang mulai berdoa lirih.
Sarung itu bergerak seperti makhluk hidup yang sedang kesakitan.
Berputar.
Menggeliat.
Menerjang ke kiri.
Lalu ke kanan.
Tiba-tiba terdengar bunyi nyaring dari dalam sarung.
TANG!
Seperti besi menghantam batu.
Beberapa orang saling berpandangan.
Lalu bunyi itu terdengar lagi.
TANG!
TANG!
Badik bertemu tubuh, tetapi tubuh tidak terluka.
Badik mencari daging, tetapi yang ditemuinya seperti lapisan batu yang tak kasatmata.
Bisik-bisik mulai merambat di kerumunan.
"Ilmu kebal..."
"Keduanya masih memegang pake-pake kebbeng warisan leluhur."
"Tak ada badik yang bisa menembus mereka."
Sarung itu terus berguncang.
Keringat mengucur dari wajah para penonton, meski mereka bukan yang bertarung.
Di dalam ruang sempit itu, kedua lelaki saling menyerang tanpa hasil.
Tusukan demi tusukan hanya melahirkan suara logam yang memantul.
Setiap kali ujung badik menghantam tubuh lawan, terdengar dentangan keras seakan menghantam batang besi.
TANG!
TANG!
TANG!
Tidak ada darah.
Tidak ada luka.
Hanya kelelahan yang semakin menumpuk.
Waktu berjalan lambat.
Matahari merayap sedikit demi sedikit.
Napas keduanya berubah menjadi geraman berat.
Ilmu yang selama ini mereka banggakan ternyata hanya memperpanjang penderitaan.
Mereka seperti dua batu yang saling membentur tanpa pernah pecah.
Dan untuk pertama kalinya, La Semmang merasa muak pada pertarungan itu.
Muak pada amarah yang bertahun-tahun dipelihara.
Muak pada harga diri yang menuntut korban.
Muak pada dirinya sendiri.
Di sela napas yang tersengal, ia melihat bayangan wajah anak-anaknya.
Lalu wajah istrinya.
Lalu wajah Wak Langge saat masih kecil—berlari tanpa alas kaki di pematang sawah, tertawa sampai perut mereka sakit.
Kenangan itu datang seperti layar yang sedang bercerita.
Apa sebenarnya yang sedang mereka pertahankan?
Tanah?
Atau ego, atau kesombongan?
Bukankah tanah itu akan tetap ada ketika mereka berdua sudah menjadi tanah?
Gerakan La Semmang melambat.
Badiknya turun.
Napasnya bergetar.
Ia sadar, selama ilmu kebal itu melekat pada tubuhnya, pertarungan ini tak akan pernah selesai.
Tidak akan ada pemenang.
Tidak akan ada kekalahan.
Yang ada hanya kebencian yang terus hidup.
Maka perlahan ia memejamkan mata.
Dalam hati ia melepaskan seluruh baca-baca dan pake-pake yang selama ini melindunginya.
Doa-doa penjaga tubuh yang diwariskan leluhur.
Mantra-mantra yang selama bertahun-tahun ditanamkan ke dalam darah dan keyakinannya.
Sedikit demi sedikit.
Seperti seseorang yang membuka pintu rumahnya sendiri kepada takdir.
Tubuhnya terasa ringan.
Sekaligus rapuh.
Untuk pertama kalinya sejak pertarungan dimulai, ia kembali menjadi manusia biasa.
Bukan manusia kebal.
Bukan pendekar.
Bukan pewaris ilmu.
Hanya seorang lelaki yang lelah bermusuhan dengan saudaranya.
Badik itu terlepas dari tangannya.
Jatuh.
Membentur tanah.
Suara kecilnya terdengar lebih keras dari petir.
La Semmang menutup mata.
"Selesaikan, Langge."
Napasnya bergetar.
"Aku sudah tak tahan."
Wak Langge membeku.
Sesaat.
Hanya sesaat.
Namun dalam sesaat itu, siri' yang selama bertahun-tahun dipupuk lebih kuat daripada keraguan.
Tangannya bergerak.
Badik meluncur.
Dan suara itu pun lahir.
Suara pendek.
Basah.
Mengerikan.
Tubuh La Semmang tersentak.
Sarung berubah warna.
Merah merambat seperti akar yang mencari jalan.
Lingkaran manusia terdiam.
Tak ada yang bernapas.
Tak ada yang berkedip.
Dunia seolah berhenti berputar.
Lalu jeritan pecah.
Bukan dari La Semmang.
Melainkan dari Wak Langge.
"SEMMANG!"
Suaranya seperti sesuatu yang patah di dalam dada.
Badik terlepas dari tangannya.
Matanya membelalak.
Di hadapannya bukan lagi musuh.
Bukan lawan.
Bukan sengketa.
Yang dilihatnya hanyalah seorang saudara yang sedang roboh ke pelukannya.
"Semmang... Semmang..."
Suaranya pecah.
Tangannya gemetar menekan luka yang mengucurkan darah hangat.
"Addampengikaq silessureng..."
Air mata jatuh ke wajah saudaranya.
Bercampur darah.
Bercampur penyesalan.
Bercampur semua kata yang tak pernah sempat diucapkan.
Mobil bak terbuka yang biasa mengangkut hasil panen meraung meninggalkan lapangan.
Debu beterbangan. Mereka bersicepat menuju rumah sakit.
Orang-orang hanya sempat melihat tubuh La Semmang yang terbujur di bak belakang, dipangku oleh Wak Langge yang wajahnya sudah basah oleh air mata dan darah.
Mesin meraung keras.
Namun lebih keras lagi ketakutan yang memenuhi dada Wak Langge.
Tangannya menekan luka di perut saudaranya.
Darah hangat terus merembes di sela jemarinya.
Seolah tubuh itu sedang perlahan mengosongkan seluruh kehidupannya.
"Jangan mati, Semang..."
Suara Wak Langge bergetar.
"Dengar saya... jangan mati."
La Semmang membuka matanya sedikit.
Langit siang terlihat pucat di atas mereka.
Awan bergerak lambat.
Sangat lambat.
Seolah dunia tak peduli pada manusia yang sedang kehilangan segalanya.
Napas La Semmang terdengar pendek-pendek.
Setiap tarikan seperti mengangkat beban yang tak terlihat.
Setiap hembusan seperti melepaskan sesuatu dari dalam dirinya.
Wak Langge semakin panik.
Tangannya menekan luka lebih kuat.
"Sedikit lagi sampai..."
Bibirnya gemetar.
"Sedikit lagi, Semmang..."
Tetapi mereka sama-sama tahu itu bohong.
Darah telah membasahi hampir seluruh pakaian mereka.
Bau amis darah memenuhi udara.
La Semmang menoleh pelan.
Matanya mencari wajah Wak Langge.
Wajah yang pernah menemaninya menangkap ikan di sungai.
Wajah yang pernah tertawa bersamanya di bawah pohon mangga.
Wajah yang kini dipenuhi penyesalan.
Sangat dalam.
Sangat terlambat.
Sudut bibir La Semmang bergerak.
Membentuk sesuatu yang menyerupai senyum.
Senyum yang rapuh.
Senyum seorang lelaki yang akhirnya meletakkan seluruh bebannya.
"Langge..."
Suara itu nyaris hilang ditelan deru mesin.
"Aku... tidak apa-apa..."
Kelopak mata Wak Langge membelalak.
Air matanya mengalir semakin deras.
"Jangan bicara begitu."
Tangannya mencengkeram bahu sepupunya.
"Jangan bicara begitu!"
La Semmang menatap langit sekali lagi.
Pandangannya semakin jauh.
Seakan melihat sesuatu yang tak dapat dilihat orang lain.
Kemudian bibirnya bergerak pelan.
Sangat pelan.
"Tolong... jaga mereka..."
Napasnya terputus.
Hening.
Sesaat.
Lalu satu hembusan terakhir keluar dari dadanya.
Ringan.
Nyaris tak terdengar.
Kepalanya perlahan jatuh ke bahu Wak Langge.
Tubuhnya mengendur.
Matanya tetap terbuka sedikit, memandang langit yang semakin menjauh.
Wak Langge membeku.
Tidak.
Ia tidak langsung menangis.
Tidak langsung berteriak.
Ada jeda pendek yang mengerikan.
Seolah pikirannya menolak menerima apa yang baru saja terjadi.
Tangannya mengguncang tubuh La Semmang.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
"Semmang..."
Tidak ada jawaban.
"Semmang..."
Angin menerbangkan ujung sarung yang berlumuran darah.
Tetap tidak ada jawaban.
Mata Wak Langge mulai bergetar.
Napasnya memburu.
Wajahnya berubah seperti anak kecil yang tersesat di tengah hutan.
"Semmang..."
Suara itu pecah.
Tubuh La Semmang tetap diam.
Terlalu diam.
Untuk pertama kalinya sejak mereka saling mengenal, tak ada lagi jawaban dari lelaki itu.
Dan saat itulah kenyataan menghantam Wak Langge.
Tanah yang diperebutkan itu masih ada.
Sawah-sawah masih di sana.
Tetapi orang yang selama ini menjadi bagian dari seluruh kenangannya telah pergi.
Selamanya.
Wak Langge memeluk tubuh saudaranya erat-erat.
Darah mengotori dada dan lengannya.
Namun ia tak peduli.
Ia mengguncang tubuh itu lagi.
Lebih keras.
Seolah kematian bisa dibujuk untuk mengembalikan apa yang telah diambilnya.
"Lihat saya, Semmang..."
Tangisnya pecah.
"Pukul saya kalau mau..."
Suaranya berubah menjadi rintihan yang menyayat.
Air matanya jatuh tanpa henti.
"Tapi jangan pergi..."
Mobil terus melaju membelah jalan berbatu.
Langit di atas terasa bertambah luas.
Lalu dari atas bak mobil yang bergerak itu, lahirlah sebuah jeritan.
Jeritan yang membuat orang-orang di sepanjang jalan menoleh.
Jeritan yang terdengar seperti sesuatu yang tercerabut dari dasar jiwa.
Jeritan seorang lelaki yang baru menyadari bahwa penyesalan selalu datang setelah segalanya terlambat.
"SEMMAAAAAANGGGG...!"
Suaranya parau.
Patah.
Terseret angin yang berlari di antara sawah-sawah dan rumah-rumah.
Dan lama setelah mobil itu hilang di tikungan tajam jalan, teriakan itu masih berputar-putar menggantung di udara.
Seperti trauma yang tak akan pernah benar-benar sembuh.
