:Dirja Wiharja
Bahwa sebagian ayat Alquran mampu menginspirasi, menggetarkan hati, membakar kerinduan spiritual, dan menggerakkan manusia untuk mencari Tuhan, saya mengakuinya.
Tetapi bahwa sebagian ayat lain dipandang keras, problematis, atau bahkan mengganggu oleh sebagian pemeluk agama lain, saya juga mengakuinya.
Persoalannya, menurut pengamatan saya, banyak umat Islam tidak membedakan kedua hal tersebut.
Bagi mereka, Alquran hadir sebagai satu paket kebenaran yang steril dari kritik.
Sebuah teks yang dianggap turun secara sempurna dari langit, lengkap dengan segala jawaban yang dibutuhkan manusia.
Akibatnya, Alquran tidak lagi dibaca sebagai teks yang membutuhkan pemahaman, penafsiran, dan pergulatan intelektual.
Ia berubah menjadi semacam jimat sakral.
Sesuatu yang diyakini memiliki daya magis tersendiri.
Dan ketika cara berpikir menjadi semakin mistifikatif, Tuhan perlahan berubah dalam imajinasi menjadi sosok penyihir kosmik yang mampu mengatur segala sesuatu secara langsung tanpa melalui mekanisme sebab-akibat yang dapat dipahami manusia.
Sedangkan karya agung dari "sihir ilahi" itu, dalam pandangan mereka, adalah Alquran.
Karena cara pandang seperti itulah, berbagai kenyataan hidup sering kali dipahami melalui lensa yang sepenuhnya teologis, meskipun realitas di hadapan mata menunjukkan kompleksitas yang jauh lebih rumit.
Mereka mengatakan bahwa jodoh telah ditentukan Tuhan sejak azali.
Namun dalam kenyataan, tidak sedikit manusia yang menjalani hidupnya hingga akhir tanpa pernah menikah.
Mereka mengatakan bahwa rezeki sepenuhnya berada di tangan Tuhan.
Namun pada saat yang sama, mereka menyaksikan anak-anak meninggal karena kelaparan di berbagai wilayah miskin, konflik, dan bencana.
Mereka mengatakan bahwa ajal setiap manusia telah ditentukan sejak awal.
Namun setiap hari mereka mendengar berita pembunuhan, perang, dan kekerasan yang dilakukan manusia terhadap sesamanya.
Mereka mengatakan bahwa kebaikan pada akhirnya selalu menang atas kejahatan.
Namun realitas sering kali tidak bergerak menurut skenario moral yang rapi seperti dalam cerita-cerita yang menenangkan hati.
Kenyataan tampak berjalan menurut hukum-hukumnya sendiri, tanpa selalu memperlihatkan keberpihakan yang jelas kepada siapa yang benar dan siapa yang salah.
Mereka mengatakan bahwa Alquran dipelihara langsung oleh Tuhan.
Namun dalam praktiknya, manusialah yang terus-menerus menjaga, membela, melindungi, dan bahkan marah ketika kitab itu dikritik, dipertanyakan, atau diperlakukan tidak hormat.
Mereka mengatakan bahwa sholat adalah tiang kehidupan.
Namun mereka juga menyaksikan banyak manusia yang tidak menjalankan sholat tetap mampu meraih kekayaan, prestasi, dan kebahagiaan duniawi.
Mereka mengatakan bahwa doa yang sungguh-sungguh pasti didengar dan dikabulkan oleh Tuhan.
Namun gempa bumi tetap terjadi.
Banjir tetap datang.
Tsunami tetap melanda.
Dan penderitaan tetap berlangsung, meskipun jutaan manusia berdoa dengan air mata dan harapan yang sama.
Lalu mengapa keyakinan-keyakinan seperti itu tetap bertahan?
Menurut saya, karena manusia tidak hanya hidup dengan fakta.
Manusia juga hidup dengan narasi.
Dan ketika suatu narasi diwariskan secara terus-menerus dari generasi ke generasi, diperkuat oleh otoritas, tradisi, pendidikan, dan komunitas, maka ia perlahan menjadi kerangka berpikir yang sulit dipertanyakan.
Apa yang semula merupakan keyakinan, berubah menjadi kepastian.
Apa yang semula merupakan tafsir, berubah menjadi kenyataan yang dianggap mutlak.
Dan apa yang semula merupakan simbol, berubah menjadi realitas psikologis yang mengatur cara manusia memandang dunia.
Karena itu, persoalan yang saya lihat bukan semata-mata pada Alquran sebagai teks.
Melainkan pada cara manusia memperlakukannya.
Apakah ia dibaca sebagai undangan untuk berpikir?
Ataukah sebagai akhir dari seluruh proses berpikir?
Apakah ia menjadi sumber refleksi?
Ataukah berubah menjadi pengganti refleksi?
Karena mungkin masalah terbesar bukanlah ketika manusia terlalu percaya kepada sebuah kitab.
Melainkan ketika manusia berhenti membedakan antara keyakinan yang menenangkan dirinya dan kenyataan yang sedang berlangsung di hadapannya.
Dan jika suatu keyakinan hanya dapat bertahan dengan cara mengabaikan kenyataan yang terus-menerus membantahnya, apakah yang sebenarnya sedang dipertahankan: kebenaran, atau sekadar kebutuhan psikologis untuk merasa memiliki kepastian?