: Dirja Wiharja
Anda boleh kaget.
Dan memang seharusnya kaget.
Karena sering kali kekagetan adalah tanda bahwa sebuah gagasan baru saja menabrak tembok keyakinan yang selama ini kita anggap kokoh.
Tapi tenang dulu.
Jangan buru-buru tersinggung.
Apalagi marah.
Tarik napas panjang.
Lalu gunakan satu-satunya alat yang saya rekomendasikan untuk membaca tulisan ini:
akal.
Filsafat adalah metode.
Metode berpikir.
Bukan kumpulan kutipan.
Bukan koleksi istilah asing.
Bukan pula sekadar duduk termenung sambil memasang wajah serius.
Merenung hanyalah aksesoris.
Intinya tetap satu:
berpikir.
Berpikir tanpa pengawal.
Berpikir tanpa sensor.
Berpikir tanpa takut pada kesimpulan yang mungkin lahir dari proses berpikir itu sendiri.
Sekarang coba kita mulai dengan pertanyaan sederhana.
Mengapa Anda taat beragama?
Karena takut berdosa.
Siapa yang mengancam Anda?
Agama. Atau Tuhan.
Dari mana Anda tahu ancaman itu?
Dari kitab suci.
Mengapa Anda percaya kitab suci?
Karena kitab suci berasal dari Tuhan.
Dari mana Anda tahu kitab suci berasal dari Tuhan?
Karena dibawa oleh Nabi.
Dari mana Anda tahu Nabi adalah utusan Tuhan?
Karena kitab suci mengatakan demikian.
Mengapa Anda percaya kitab suci?
Karena kitab suci menjamin kebenarannya.
Siapa yang menjamin?
Kitab suci itu sendiri.
Perhatikan baik-baik.
Ke mana pun pertanyaan bergerak, jawaban selalu kembali ke titik yang sama.
Kitab suci menjelaskan dirinya sendiri.
Membuktikan dirinya sendiri.
Menjamin dirinya sendiri.
Mengukuhkan dirinya sendiri.
Seperti seseorang yang ditanya:
"Apa bukti bahwa Anda orang hebat?"
Lalu menjawab:
"Karena saya mengakui diri saya hebat."
Ketika diminta bukti lain, ia kembali menjawab:
"Bukti bahwa saya hebat adalah keyakinan saya bahwa saya hebat."
Lalu ketika ditanya lagi, ia tetap menjawab hal yang sama.
Berputar.
Berulang.
Kembali ke titik awal.
Lingkaran yang tidak pernah keluar dari dirinya sendiri.
Dalam filsafat, pola seperti ini dikenal sebagai circular reasoning.
Argumen yang berputar pada dirinya sendiri.
Premis membuktikan kesimpulan.
Kesimpulan membuktikan premis.
Dan keduanya saling menopang tanpa pernah menyentuh dunia di luar dirinya.
Di sinilah persoalannya.
Berfilsafat bukan berarti mencari pembenaran bagi apa yang sudah diyakini.
Berfilsafat berarti bersedia mempertanyakan apa yang selama ini dianggap tidak perlu dipertanyakan.
Bahkan jika yang dipertanyakan adalah keyakinan yang paling kita cintai.
Bahkan jika yang dipertanyakan adalah fondasi tempat kita berdiri.
Karena filsafat tidak lahir dari kepastian.
Filsafat lahir dari kegelisahan.
Dari keheranan.
Dari ketidakpuasan terhadap jawaban-jawaban yang terlalu cepat.
Selama seseorang masih memulai berpikir dengan kesimpulan yang sudah ditentukan sebelumnya, maka yang terjadi bukanlah filsafat.
Melainkan rasionalisasi.
Yakni usaha mencari alasan untuk mempertahankan apa yang sudah diyakini sejak awal.
Apa pun data yang datang.
Apa pun argumen yang muncul.
Apa pun pertanyaannya.
Jawabannya sudah disiapkan terlebih dahulu.
Dan ketika kesimpulan sudah ditentukan sebelum proses berpikir dimulai, maka berpikir tidak lagi menjadi pencarian.
Ia berubah menjadi propaganda pribadi.
Karena itu, membaca buku filsafat belum tentu membuat seseorang berfilsafat.
Menghafal nama-nama filsuf belum tentu membuat seseorang berpikir.
Mengutip kalimat-kalimat bijak belum tentu membuat seseorang memahami kebijaksanaan.
Anda bisa hafal seluruh pemikiran para filsuf.
Bisa mengutip mereka siang dan malam.
Bisa bercerita panjang lebar tentang sejarah filsafat.
Tetapi semua itu belum tentu berarti Anda sedang berfilsafat.
Bisa jadi Anda hanya seorang kolektor kutipan.
Atau lebih sederhana lagi:
seorang tukang kutip yang rajin.
Berfilsafat adalah keberanian untuk mencurigai pikiran sendiri.
Keberanian untuk menginterogasi keyakinan sendiri.
Keberanian untuk berkata:
"Bagaimana jika selama ini saya salah?"
Dan pertanyaan itu tidak diajukan sekali.
Melainkan terus-menerus.
Tanpa henti.
Karena filsafat bukanlah monumen kepastian.
Ia adalah sungai keraguan yang terus mengalir.
Begitu berhenti mengalir, ia berubah menjadi kolam dogma.
Maka roh filsafat bukanlah keyakinan.
Melainkan keheranan.
Bukan kepastian.
Melainkan keterbukaan.
Bukan jawaban.
Melainkan keberanian untuk terus bertanya.
Dan mungkin itulah sebabnya para pencari kebenaran sering terlihat lebih gelisah daripada para pemilik kebenaran.
Karena pencarian tidak pernah memberi tempat untuk beristirahat terlalu lama.
Jadi, jika Anda benar-benar ingin berfilsafat, beranikah Anda mempertanyakan apa yang paling Anda yakini?
Karena jika suatu keyakinan tidak boleh disentuh oleh pertanyaan, lalu bagaimana Anda tahu bahwa yang sedang Anda pertahankan adalah kebenaran, dan bukan sekadar ketakutan untuk kehilangan apa yang selama ini membuat Anda merasa aman?