Penutup: Sufisme Adalah Seni Menjadi Manusia

Setelah semua penjelasan ini, mungkin kita masih bertanya, lalu sebenarnya apa itu Sufisme?

Apakah ia sebuah agama?

Bukan.

Apakah ia sebuah mazhab?

Juga bukan.

Apakah ia sekadar ilmu tentang tasawuf?

Tidak.

Sufisme bukanlah sesuatu yang pertama-tama dipahami oleh kepala. Ia adalah sesuatu yang tumbuh di dalam hati. Ia bukan kumpulan teori, melainkan cara memandang kehidupan. Ia bukan sekadar pengetahuan, melainkan pengalaman.

Socrates berkata, "Kenalilah dirimu sendiri." Berabad-abad kemudian, para sufi berkata kurang lebih dengan nada yang sama, "Siapa yang mengenal dirinya, ia akan mengenal Tuhannya." Jalan menuju Tuhan ternyata bukan dimulai dengan mengembara ke tempat-tempat yang jauh, melainkan dengan turun ke dalam diri sendiri.

Karena itu, perjalanan seorang sufi bukanlah perjalanan geografis. Ia tidak mengukur jarak dalam kilometer, melainkan dalam lapisan-lapisan ego yang berhasil dilepaskan. Semakin sedikit "aku" yang tersisa, semakin dekat seseorang kepada Tuhan.

Jalaluddin Rumi menulis, "Yang kau cari, sebenarnya sedang mencarimu." Kalimat ini sejalan dengan gagasan yang telah kita bahas sebelumnya: Tuhan selalu mengambil langkah pertama. Kerinduan kepada-Nya bukanlah hasil kecerdasan manusia. Ia adalah undangan. Ketika hati mulai gelisah mencari makna hidup, mungkin itu bukan karena kita hebat dalam mencari, melainkan karena kita telah lebih dahulu dipanggil.

Ibn Arabi bahkan melangkah lebih jauh. Baginya, seluruh alam semesta adalah cermin tempat Tuhan memperlihatkan diri-Nya. Maka mencintai kehidupan, mencintai manusia, mencintai alam, dan mencintai kebenaran adalah bagian dari mencintai Tuhan. Tidak ada pemisahan yang kaku antara yang suci dan yang biasa. Setiap helai daun, setiap embusan angin, setiap senyum, bahkan setiap air mata, dapat menjadi ayat-ayat Tuhan bagi hati yang telah terjaga.

Sementara itu, Laozi mengajarkan tentang hidup yang selaras dengan Tao, jalan semesta. Anehnya, gagasan ini terasa begitu dekat dengan Sufisme. Keduanya sama-sama mengajak manusia berhenti melawan kehidupan. Berhenti memaksakan kehendak ego. Berhenti ingin menguasai segalanya. Sebab semakin keras kita menggenggam, semakin banyak yang lolos dari tangan. Sebaliknya, ketika kita belajar menerima, hidup justru mulai memperlihatkan rahasianya.

Dalam tradisi Zen, Dogen berkata bahwa pencerahan bukanlah menjadi seseorang yang istimewa, melainkan kembali menjadi diri yang paling asli. Bukankah itu pula yang terus diulang oleh para sufi? Menjadi sederhana. Menjadi jernih. Menjadi apa adanya.

Di sinilah letak keindahan Sufisme.

Sufisme tidak mengajarkan kita untuk lari dari dunia.

Ia juga tidak mengajak kita membenci harta, keluarga, atau pekerjaan.

Yang ingin dilepaskan bukanlah dunia, melainkan keterikatan kita kepada dunia.

Yang ingin dibersihkan bukanlah tangan, melainkan hati.

Yang ingin ditaklukkan bukan orang lain, melainkan ego kita sendiri.

Sebab musuh terbesar manusia bukanlah iblis di luar dirinya. Musuh terbesar adalah kesombongan yang bersembunyi di dalam dirinya.

Akhirnya kita sampai pada satu kesimpulan yang sederhana.

Sufisme adalah seni mencintai Tuhan tanpa kehilangan cinta kepada kehidupan.

Ia adalah seni membersihkan hati hingga menjadi cermin yang bening.

Ia adalah keberanian untuk melepaskan topeng demi topeng sampai yang tersisa hanyalah diri yang sejati.

Ia adalah perjalanan dari kepala menuju hati.

Dari rasa takut menuju cinta.

Dari pengetahuan menuju pengalaman.

Dari keramaian pikiran menuju keheningan batin.

Dan dari ego menuju Tuhan.

Pada akhirnya, seorang sufi bukanlah orang yang banyak berbicara tentang Tuhan.

Seorang sufi adalah orang yang hidupnya perlahan berubah menjadi bukti bahwa Tuhan itu ada.

Barangkali itulah sebabnya para sufi jarang sibuk mendefinisikan Tuhan. Mereka lebih memilih menghidupkan-Nya dalam setiap napas, setiap langkah, dan setiap kasih yang mereka berikan kepada sesama.

Mungkin, pada akhirnya, Sufisme bukanlah sesuatu yang harus kita pahami. Sufisme adalah sesuatu yang harus kita jalani. Sebab seperti di awal pembicaraan kita, setetes madu tidak pernah bisa dijelaskan dengan seribu kata. Ia hanya bisa dikenal dengan satu cara: dicicipi.


(Selesai)