Kopaja jurusan Kampung Melayu–Blok M itu melaju ngos-ngosan di tengah terik Jakarta. Mesinnya berat, knalpotnya berbunyi “brutt-brutt” seperti batuk perokok berat, tapi sopirnya tetap ngebut seperti sedang balapan di Sirkuit Senayan.

Seorang bapak paruh baya naik di halte depan. Badannya agak gempal, mengenakan kemeja kotak-kotak lusuh, dengan bawaan plastik kresek berisi botol minuman. Dengan susah payah ia merogoh saku, membayar ke kondektur, lalu merambat ke kursi paling belakang.

Tepat di sebelahnya ada dua orang pria berdasi yang sedang asyik mengobrol. Begitu bapak itu duduk, kedua pria tersebut langsung saling melirik. Hidung mereka sedikit berkerut.

Bus melaju lagi. Macet di lampu merah Pancoran.

Nah, di sinilah dua pria di sebelah bapak gempal itu mulai berbisik-bisik. Mata mereka sesekali melirik ke samping, lalu tersenyum tipis sambil menutup mulut.

Yang satu berbisik pelan,

“Sebbung paga iyye tau e. Mabbau samanna”
(Orang ini keteknya bau sekali. Seperti bau yang entahlah, pokoknya bau sekali)

Temannya mengangguk sambil menahan tawa, lalu menambahkan,

“Tongeng, tannia patoq. Deq najjai! Deq kapang nengka na dio. Meloka’ sedding tallua.”
(Benar, sungguh luar biasa baunya. Bukan main! Mungkin dia tidak pernah mandi. Rasanya saya mau muntah.)

Mereka terus bergunjing dengan logat Bugis yang kental. Sesekali mereka menoleh, lalu tersenyum manis kepada bapak di sampingnya. Si bapak hanya diam, menatap ke luar jendela. Namun, telinganya diam-diam bekerja sangat baik.

Bus mulai mengurangi kecepatan. Itu pemberhentian di depan Pasar Rumput.

Si bapak gempal tiba-tiba berdiri. Tubuhnya sedikit membungkuk menyesuaikan atap Kopaja yang rendah. Ia menoleh ke dua pria berdasi itu dengan senyum lebar, lalu berkata dengan lantang,

“TabE’ di, duluan kaq saya turung!”
(Permisi, saya turun dulu ya!)

Dua pria itu langsung membeku.

Mulut mereka terbuka setengah. Mata mereka saling berpandangan, panik.

Tidak menyangka!

Bapak ini rupanya juga perantau dari tanah Bugis di Jakarta!

Dengan muka merah padam, salah satu dari mereka buru-buru bertanya, setengah berbisik,

“Tau Ogi’ ki, pak?”
(Bapak orang Bugis juga ya?)

Bapak gempal itu berbalik badan. Matanya berbinar-binar jenaka. Ia menyeringai lebar sambil menjawab dengan penuh percaya diri,

“Ai, bukan. To massebung ka iyya’!”
(Bukan. Saya orang yang bau ketek.)

            "He-he-he... "