: Dirja Wiharja
Jika Hanya Seperti Itu, Memang Tidak Ada Gunanya
Ya, memang tidak mudah bertemu Tuhan dalam sholat.
Apalagi jika sholat hanya dijalankan sebagai ritual tanpa kesadaran, tanpa perenungan, dan tanpa transformasi diri.
Pertama:
Sholat Sebagai Pembayaran Hutang Spiritual
Sholat dilakukan semata-mata karena dianggap kewajiban yang harus dilunasi.
Logikanya sederhana: jika dikerjakan, selamat; jika ditinggalkan, celaka.
Dalam cara pandang seperti ini, Tuhan dibayangkan layaknya penagih utang yang setiap saat datang meminta setoran. Atau seperti hakim yang telah menggenggam palu untuk menjatuhkan vonis.
Sholat berubah menjadi transaksi.
Bukan perjumpaan.
Akibatnya, yang terpenting bukanlah kesadaran dalam sholat, melainkan secepat mungkin menyelesaikannya.
Baru selesai takbir, sudah rukuk. Baru selesai rukuk, sudah sujud. Begitu cepat hingga sulit dibedakan apakah ia sedang berdialog dengan Tuhan atau sekadar mengejar target administratif.
Setelah selesai, muncul rasa lega:
"Aman. Satu kewajiban sudah lunas. Satu ancaman neraka berhasil dihindari."
Namun, apakah hubungan manusia dengan Tuhan memang sesederhana hubungan debitur dengan kreditur?
Kedua:
Sholat Sebagai Pelarian dari Ketidakberdayaan
Ada pula yang sholat ketika hidup sedang runtuh.
Ketika stres, bingung, takut, kecewa, atau putus asa.
Sholat menjadi tempat berlindung sementara dari tekanan hidup.
Tidak salah.
Tetapi jika sholat hanya berfungsi sebagai obat penenang psikologis, maka nilainya tidak jauh berbeda dari morfin yang menghilangkan rasa sakit sesaat.
Ketika masalah selesai, gairah sholat ikut menghilang.
Ketika hidup kembali nyaman, kebutuhan untuk mendekat kepada Tuhan perlahan memudar.
Lalu sholat kembali dilakukan sekadar untuk "membayar hutang" sebagaimana motivasi yang pertama.
Jika demikian, apakah yang dicari sebenarnya Tuhan, atau hanya kenyamanan batin?
Ketiga:
Sholat Karena Tekanan Sosial
Sebagian orang sholat karena lingkungan mengharuskannya.
Karena semua orang menuju masjid.
Karena semua teman melaksanakan sholat.
Karena takut dicap buruk apabila tidak ikut.
Maka kaki melangkah menuju tempat wudhu bukan karena panggilan hati, melainkan karena dorongan psikologis untuk menyesuaikan diri.
Sholat menjadi alat mempertahankan reputasi.
Bukan sarana mengenal diri.
Yang dicari bukan ridha Tuhan, melainkan penerimaan sosial.
Padahal citra yang baik tidak selalu identik dengan jiwa yang baik.
Keempat:
Sholat Sebagai Mesin Pemenuh Keinginan
Ada pula yang menjadikan sholat sebagai daftar permintaan yang tidak pernah selesai.
Sholat dilakukan agar mendapatkan jabatan.
Agar bisnis berhasil.
Agar keinginan tercapai.
Agar segala harapan menjadi kenyataan.
Tuhan diposisikan seperti mesin pengabul permohonan.
Dan manusia berubah menjadi pemohon yang terus-menerus menagih.
Ketika keinginan tercapai, semua dianggap sebagai hadiah Tuhan.
Ketika gagal, semua dianggap sebagai ujian Tuhan.
Dalam pola pikir seperti ini, manusia sering kehilangan keberanian untuk mengevaluasi dirinya sendiri.
Keberhasilan dipersembahkan kepada langit.
Kegagalan juga dilemparkan ke langit.
Sementara tanggung jawab pribadi perlahan menghilang.
Akibatnya, lahirlah mentalitas yang sulit mengakui kesalahan secara dewasa.
Sulit bercermin.
Sulit berkata:
"Ya, ini memang kesalahanku."
Kelima:
Sholat Sebagai Panggung Pencitraan
Sholat juga dapat berubah menjadi alat membangun citra diri.
Dilakukan agar terlihat saleh.
Agar dipandang mulia.
Agar dianggap lebih baik daripada orang lain.
Dalam kondisi seperti ini, sholat tidak lagi menghubungkan manusia dengan Tuhan.
Sholat justru digunakan untuk meninggikan ego.
Yang disembah bukan lagi Tuhan, melainkan bayangan diri sendiri.
Semakin rajin beribadah, semakin besar pula godaan untuk merasa lebih suci daripada orang lain.
Dan ketika kesalehan berubah menjadi alat pamer, maka spiritualitas telah dikorbankan demi pencitraan.
Maka...
Jika motivasi sholat hanya berkisar pada ketakutan, pelarian, tekanan sosial, transaksi kepentingan, atau pencitraan diri, maka sholat kehilangan makna terdalamnya.
Ia hanya menjadi gerakan tanpa kesadaran.
Bacaan tanpa penghayatan.
Ritual tanpa transformasi.
Mungkin inilah sebabnya mengapa kita sering menemukan orang yang rajin sholat, tetapi tetap gemar menipu, korup, memfitnah, membenci, bahkan melakukan kekerasan atas nama agama.
Karena yang berubah hanyalah gerak tubuhnya.
Bukan kesadarannya.
Yang tunduk hanyalah dahinya.
Bukan egonya.
Karena itu, jika sholat tidak membuat manusia semakin jujur, semakin rendah hati, semakin adil, semakin penuh kasih, dan semakin berani mengoreksi dirinya sendiri, maka patut dipertanyakan:
Apakah ia benar-benar sedang sholat, atau hanya sedang mengulang sebuah ritual?
Dan jika setelah bertahun-tahun bersujud kita masih gagal menjadi manusia yang lebih manusiawi, mungkinkah yang selama ini kita cari dalam sholat bukan Tuhan, melainkan diri kita sendiri? Apakah yang disembah sungguh Tuhan, atau justru ego yang menyamar dalam bahasa religius?