Di kampung Lautang, berdiri sebuah masjid sederhana. Imam masjidnya adalah seorang bapak yang sangat saleh. Suaranya merdu, tajwidnya bagus, dan hafalan Al-Qur'annya juga lumayan banyak.
Masalahnya cuma satu.
Beliau punya satu kebiasaan yang sudah bertahun-tahun tidak berubah.
Setelah membaca Surah Al-Fatihah...
Surah berikutnya hampir selalu...
Surah At-Tin.
Subuh?
"Wattīni waz-zaitūn..."
Magrib?
"Wattīni waz-zaitūn..."
Isya?
"Wattīni waz-zaitūn..."
Jamaah sampai bosan mendengarnya. Bahkan anak-anak kecil yang ada di kampung itu, semua sudah hafal mati surah itu.
Beberapa kali pengurus masjid pernah menyampaikan dengan sangat sopan.
"Pak Imam... mungkin sesekali diganti surahnya. Biar jamaah juga bisa mendengar bacaan yang lain."
Pak Imam hanya tersenyum.
"Bukan tidak hafal yang lain. Saya memang suka Surah At-Tin."
Sejak itu, tidak ada lagi yang berani membahasnya.
Suatu malam, salat Isya berjamaah berlangsung khusyuk.
Pak Imam membaca Al-Fatihah dengan suara tenang.
"...waladh-dhāllīn."
"Āmīn..."
Beliau menarik napas.
"Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm..."
Belum sempat membaca ayat pertama...
Tiba-tiba dari pintu depan masjid terdengar suara seorang pemuda yang baru datang terlambat sambil masih melepas sandalnya.
Dengan logat Bugis-Makassar yang kental, ia berseru spontan,
"Wattini si?"
(Maksudnya: Surah At-Tin lagi, ya?)
Semua jamaah tersedak menahan tawa.
Namun yang lebih mengejutkan...
Pak Imam mendengar seruan itu.
Beliau langsung berhenti.
Lalu...
Tiba-tiba beliau berbalik menghadap jamaah.
Dengan wajah datar, beliau menjawab,
"Ai... belum tentu!"
Sepersekian detik masjid hening.
Lalu...
"Hahahahahaha...!"
Seluruh jamaah meledak tertawa. Ada yang menutup mulut, ada yang sampai membungkuk sambil memegang lutut, bahkan beberapa orang tua mengusap air mata karena terlalu geli. Anak-anak yang berada di saf belakang ikut terkekeh tanpa benar-benar paham apa yang lucu. Suasana masjid yang tadinya khusyuk seketika berubah menjadi lautan tawa.
Saf-saf pun buyar. Ada yang keluar sebentar untuk menenangkan diri, ada yang bersandar di tiang masjid sambil masih cekikikan, sementara pemuda yang tadi berteriak hanya bisa garuk-garuk kepala karena malu.
Pak Imam sendiri akhirnya ikut tersenyum tipis.
Setelah suasana kembali tenang beberapa menit kemudian, beliau menghadap jamaah dan berkata,
"Baiklah... mari kita ulang salat isyanya."
_____________
Konon, sejak hari itu, setiap kali Pak Imam selesai membaca Surah Al-Fatihah, beberapa jamaah selalu menahan senyum, khawatir ada yang iseng bertanya lagi,
"Wattini si?"
