Di Sebuah Warung Kopi di Alam Malakut

Di sanalah seorang Sufi ateis duduk khusyuk, sibuk dan asyik berdebat dengan Tuhan.

Di meja ada dua cangkir kopi.

Yang satu kosong.

Yang satu lagi juga kosong.

Karena bahkan eksistensi pun sedang diperdebatkan.


Sufi Ateis:

Han! Langsung saja. Saya tidak suka basa-basi.

Aku sudah membaca terlalu banyak buku.

Mulai dari Darwin, Nietzsche, Bertrand Russell, sampai Richard Dawkins.

Kesimpulanku sederhana:

Alam semesta tidak membutuhkan Tuhan.

Planet bergerak tanpa malaikat pendorong.

Petir tidak dilempar Zeus.

Manusia tidak diciptakan dari tanah liat.

Kami hasil evolusi.

Seleksi alam.

Mutasi genetik.

Jutaan tahun eksperimen biologis.

Di mana posisi-Mu sekarang?

Maha pensiun?

He.. he.. he..


Tuhan:

Lumayan.

Kau membaca buku yang benar.

Masalahnya cuma satu.

Kau berhenti membaca di akhir halaman.


Sufi Ateis:

Maksud-Mu?


Tuhan:

Darwin menjelaskan bagaimana spesies berubah.

Bukan mengapa ada keberadaan yang bisa berubah.

Ia menjelaskan mekanisme.

Bukan asal-usul keberadaan itu sendiri.

Kalau kau melihat jam lalu menemukan roda giginya bekerja, apakah itu menjawab kenapa ada waktu?


Sufi Ateis:

Klise.

Argumen "siapa yang menciptakan pencipta" sudah kubahas seribu kali.

Kalau segala sesuatu butuh sebab, maka Tuhan juga butuh sebab.

Kalau Tuhan tidak butuh sebab, kenapa alam semesta tidak boleh begitu saja ada?


Tuhan:

Bagus.

Akhirnya kita sampai pada filsafat.

Aristoteles menyebutnya Penggerak Tak Bergerak.

Ibnu Sina menyebutnya Wajib al-Wujud.

Bukan sesuatu yang ada karena sebab.

Melainkan sesuatu yang keberadaannya tidak bergantung pada apa pun.


Sufi Ateis:

Ya, ya.

Argumen kosmologis.

Sudah basi.

Dawkins bilang itu cuma menambahkan komplikasi yang tidak perlu.

Kalau ada misteri, jangan tambahkan Misteri Besar bernama Tuhan.


Tuhan:

Dawkins ahli biologi yang sangat baik.

Tapi saat berbicara metafisika, kadang ia seperti tukang servis motor yang merasa mampu memperbaiki galaksi.


Sufi Ateis:

Hahaha!

Kau mulai nyinyir rupanya.


Tuhan:

Aku menciptakan manusia.

Aku tahu seni menyindir.

Lanjutkan.


Sufi Ateis:

Oke.

Kalau Kau ada, kenapa dunia kacau?

Gempa.

Kelaparan.

Kanker anak-anak.

Perang.

Korupsi.

Pejabat menilap uang rakyat sambil umrah.

Ulama ceramah tentang surga lalu ketahuan selingkuh.

Orang baik mati muda.

Penipu hidup makmur.

Kalau Kau Mahabaik, dunia ini bukti kegagalan proyek-Mu.


Tuhan:

Ah.

Problem of Evil.

Pertanyaan favorit manusia sejak ribuan tahun.

Kalian mengulanginya lebih sering daripada lagu-lagu galau.


Sufi Ateis:

Karena belum dijawab.


Tuhan:

Tidak.

Karena kalian tidak menyukai jawabannya.


Sufi Ateis:

Apa jawabannya?


Tuhan:

Kalian menganggap dunia ini tujuan.

Padahal dunia ini proses.

Kalian menganggap kehidupan harus nyaman.

Padahal kehidupan adalah sekolah.

Kalian menganggap penderitaan kesalahan.

Padahal sering kali penderitaan adalah guru yang menyamar.


Sufi Ateis:

Itu terdengar indah kalau yang menderita orang lain.

Coba bilang begitu pada anak yang mati kelaparan.


Tuhan:

Dan coba bilang bahwa seluruh realitas tidak punya makna kepada ibu yang memeluk anaknya yang mati.

Kau lihat?

Kita sama-sama membawa asumsi.

Kau membawa asumsi nihilisme.

Yang lain membawa asumsi makna.

Tidak ada yang netral.


Sufi Ateis:

Baik.

Mari lebih ilmiah.

Neurosains menunjukkan kesadaran berasal dari otak.

Rusak bagian tertentu, kepribadian berubah.

Otak mati, kesadaran hilang.

Jadi jiwa itu dongeng.


Tuhan:

Kalau radio rusak, musik terdengar kacau.

Apakah itu berarti penyiar berada di dalam radio?


Sufi Ateis:

Analogi murahan.


Tuhan:

Semua filsafat besar dimulai dari analogi murahan.

Lalu mahasiswa membuat tesis ratusan halaman untuk menjelaskannya.


Sufi Ateis:

Hahaha!

Baiklah.

Aku tetap tidak melihat alasan mempercayai-Mu.


Tuhan:

Karena kau mencari Tuhan sebagai objek.

Padahal Aku bukan objek.


Sufi Ateis:

Lalu apa?


Tuhan:

Subjek dari segala subjek.


Sufi Ateis:

Mulai mistis nih.


Tuhan:

Kau pernah melihat matamu sendiri tanpa cermin?


Sufi Ateis:

Tidak.


Tuhan:

Apakah itu berarti matamu tidak ada?


Sufi Ateis:

Tidak juga.


Tuhan:

Nah.

Kau mencoba menjadikan Aku benda yang bisa diamati.

Padahal Akulah syarat yang membuat segala pengamatan mungkin.


Sufi Ateis:

Kedengarannya seperti Kant.


Tuhan:

Dia mencuri sedikit ide dari langit.


Sufi Ateis:

Kalau begitu kenapa agama-agama begitu berantakan?

Saling mengklaim paling benar.

Saling mengutuk.

Saling bunuh.

Kalau Kau memang ada, branding-Mu gagal total.


Tuhan:

Aku tidak mendirikan departemen pemasaran.

Itu ulah manusia.


Sufi Ateis:

Jadi Kau tidak bertanggung jawab?


Tuhan:

Aku bertanggung jawab atas keberadaan.

Bukan atas semua kebodohan.

Kalau Aku harus mencegah setiap kebodohan manusia, kalian akan hidup seperti robot.

Tidak ada Hitler.

Tapi juga tidak ada Gandhi.

Tidak ada koruptor.

Tapi juga tidak ada orang yang memilih jujur saat bisa mencuri.


Sufi Ateis:

Jadi kebebasan lebih penting daripada keselamatan?


Tuhan:

Tanpa kebebasan, cinta tidak mungkin ada.

Yang tersisa cuma program.


Sufi Ateis:

Menarik.

Tapi Nietzsche bilang Tuhan sudah mati.


Tuhan:

Aku ingat hari itu.

Semua malaikat panik.

Lalu Aku cek.

Ternyata yang mati cuma beberapa konsep manusia tentang Aku.

Aku baik-baik saja.


Sufi Ateis:

Hahaha!

Oke.

Tapi serius.

Bagaimana kalau aku benar-benar ateis?

Benar-benar tidak percaya?


Tuhan:

Itu tidak masalah.


Sufi Ateis:

Tidak masalah?


Tuhan:

Tidak.

Aku lebih khawatir pada orang yang percaya kepada-Ku tetapi tidak pernah mencari kebenaran.

Daripada orang yang mencari kebenaran meski tidak percaya kepada-Ku.


Sufi Ateis:

Jadi ateis bisa dekat dengan-Mu?


Tuhan:

Tergantung.

Ada ateis yang menolak berhala.

Aku suka itu.

Masalahnya, banyak ateis membuang berhala lalu menjadikan dirinya sendiri sebagai berhala baru.


Sufi Ateis:

Dan banyak orang beragama melakukan hal yang sama.


Tuhan:

Nah.

Akhirnya kita sepakat.


Sufi Ateis:

Jadi apa sebenarnya Kau ini?

Pribadi?

Energi?

Kesadaran kosmik?

Kekosongan?


Tuhan:

Ya.


Sufi Ateis:

Ya yang mana?


Tuhan:

Ya.


Sufi Ateis:

Jawaban macam apa itu?


Tuhan:

Jawaban yang diberikan laut kepada ikan ketika ikan bertanya:

"Apa itu air?"


Sufi Ateis:

Menyebalkan sekali.


Tuhan:

Aku sudah mendengar keluhan itu sejak zaman Socrates.


Sufi Ateis:

Kalau begitu jawab pertanyaan terakhir.

Bukti paling kuat bahwa Kau ada apa?


Tuhan:

Bahwa kau tidak pernah berhenti mencari.


Sufi Ateis:

Itu lagi.


Tuhan:

Dengar baik-baik.

Batu tidak mencari makna.

Meja tidak gelisah.

Planet tidak mengalami krisis eksistensial.

Hanya makhluk yang memiliki jejak ketakterhinggaan dalam dirinya yang bertanya tentang ketakterhinggaan.


Sufi Ateis:

Atau mungkin itu cuma bug evolusi.


Tuhan:

Mungkin.

Tapi lucu juga.

Dari seluruh produk evolusi, hanya manusia yang bisa menulis puisi tentang ketiadaan.

Dan hanya manusia yang bisa menangis karena bintang-bintang.

Bug yang sangat puitis.


Sufi Ateis:

Aku masih belum percaya.


Tuhan:

Tidak apa-apa.


Sufi Ateis:

Aku masih ragu.


Tuhan:

Lebih baik.


Sufi Ateis:

Aku masih ingin berdebat.


Tuhan:

Silakan.

Keabadian masih panjang.


Sufi Ateis:

Dan kalau pada akhirnya aku tetap ateis?


Tuhan:

Kalau kau sungguh mencintai kebenaran lebih dari egomu sendiri, mungkin kau lebih dekat kepada-Ku daripada yang kau kira.


Sufi Ateis:

Aku tetap benci beberapa hal tentang-Mu.


Tuhan:

Aku juga.

Makanya Aku menciptakan manusia untuk mengingatkan-Ku betapa rumitnya menjadi Tuhan.


Sufi Ateis:

Kau bercanda?


Tuhan:

Sebagian besar alam semesta adalah lelucon yang belum dipahami manusia.


Sufi Ateis:

Lelucon?


Tuhan:

Ya.

Orang-orang menyebutnya the cosmic joke.

Kalian menghabiskan hidup mencari makna yang abadi.

Mengejar kepastian.

Ingin menguasai masa depan.

Berusaha membuat segala sesuatu tetap tinggal.

Padahal semesta terus berubah.

Tidak berutang penjelasan kepada siapa pun.

Lalu kalian marah karena hidup tidak mengikuti naskah yang kalian tulis sendiri.

Di situlah kalian mengira tragedi dimulai.

Padahal justru di situlah leluconnya.


Sufi Ateis:

Kalau begitu semuanya absurd?


Tuhan:

Sebagian.

Dan justru karena itu indah.

Kalian menganggap sedang mencari-Ku.

Padahal sejak awal, tidak pernah ada jarak yang benar-benar memisahkan kita.

Kalian mencari rumah sambil berdiri di dalam rumah.

Mencari cahaya dengan membawa lentera.

Mencari air sambil berenang di lautan.

Punchline terbesar dari seluruh pencarianmu adalah ini:

Yang selama ini kau cari adalah dirimu sendiri.


Sufi Ateis:

Jadi aku?


Tuhan:

Kau ya Aku! Tapi ingat, Aku bukan kau!

Ha.. ha.. ha.. !


Sufi Ateis:

Ha?



Tuhan menghilang. Sang sufi terdiam.

Untuk pertama kalinya, ateismenya mengalami downgrade.

Di kepalanya muncul notifikasi 'update bingung'.

Ia hanya duduk.

Mencium aroma kopi yang nihil

Argumennya belum habis.

Dalam hati ia berseru: 

"Han! lain kali kita lanjutkan. Saya mau lanjut lagi baca buku!"