Hamba
(setengah bergumam, setengah bertanya, setengah berdoa, setengah mengeluh)

Tuhan...

Tuhan
(tersenyum anggun dan agung)

Yups... Ada apa, hambaku? Kok berdoanya sambil cemberut? Lagi galau ya?

Hamba

Begini, Han. Saya punya pertanyaan. Saya sering mendengar orang-orang bilang:

"Rezeki itu ada yang mengatur."

Tapi jujur, saya bingung. Apa memang benar begitu? Dan katanya, Engkau yang langsung mengatur.

Kalau memang sudah Engkau atur, lalu kenapa saya masih harus pusing dan capek-capek mencari kerja?

Kenapa tidak tinggal diam saja di rumah, bersantai, lalu uang sekoper tiba-tiba jatuh dari langit? Kan enak... he... he... he...

Tuhan
(terkekeh maha-pelan)

Dasar hamba amatir!

Kau pernah pakai internet?

Hamba

Tentu.

Tuhan

Kalau internet sudah tersedia di suatu tempat, apakah semua orang otomatis bisa mengaksesnya?

Hamba

Tentu tidak.

Harus punya perangkat.

Harus tersambung ke jaringan.

Dan koneksinya harus baik.

Tuhan

Nah.

Itulah analogi rezeki.

Kemungkinan-kemungkinan telah Kubentangkan di seluruh penjuru kehidupan.

Ia ada di mana-mana.

Tetapi tidak semua orang dapat mengaksesnya.

Ada yang perangkatnya tidak pernah diperbarui.

Ada yang kata sandinya salah.

Ada yang sinyalnya lemah.

Ada pula yang memiliki perangkat canggih, tetapi tidak sadar kalau mode pesawatnya lagi aktif. Ya sampai kapanpun tidak akan dapat sinyal!

Hamba
(mulai tertarik)

Waduh! Jadi rezeki itu seperti jaringan yang sudah tersedia?

Tuhan

Anggap saja seperti itu.

Aku menciptakan kemungkinan-kemungkinan yang tak terhitung jumlahnya.

Aku membuka pintu-pintu yang bahkan tak kau ketahui keberadaannya.

Sedangkan ikhtiarmu adalah usahamu untuk membangun koneksi.

Belajar.

Bekerja.

Berlatih.

Membuka pikiran.

Mengasah keterampilan.

Menjaga kejujuran.

Menjaga kesehatan.

Memperluas silaturahmi.

Semua itu seperti memperkuat sambunganmu kepada peluang-peluang yang telah Kusediakan.

Hamba

Kalau begitu...

Saat aku tidak memperoleh apa yang kuinginkan, bukan berarti rezeki itu tidak ada?

Tuhan

Belum tentu.

Bisa jadi perangkatmu rusak.

Bisa jadi koneksimu belum cukup kuat.

Atau kau terlalu cepat menyerah sebelum halaman itu selesai dimuat.

Atau mungkin kau sibuk berkata bahwa internet tidak ada, padahal kuota data selulermu sendiri yang habis. He.. he.. he..!

Singkatnya: lipat-gandakan ikhtiarmu, maka peluang rezeki itu juga semakin membesar. 

Hamba

Tapi Tuhan...

Bukankah dalam Al-Qur'an Engkau berjanji memberi rezeki dari arah yang tak disangka-sangka?

Kenapa saya masih harus susah payah ke sana-kemari banting tulang? Uang kok tetap susah dicari ya?

Tuhan
(tersenyum)

Janji-Ku benar.

Tetapi ketahuilah:

Pintu yang tak terduga adalah wilayah rahasia-Ku.

Sedangkan ikhtiar adalah wilayah yang Aku serahkan kepadamu.

Jangan bangun hidupmu di atas sesuatu yang tak bisa kau pastikan.

Bangunlah di atas apa yang bisa kau kerjakan.

Hitung apa yang bisa kau hitung.

Perbaiki apa yang bisa kau perbaiki.

Biarkan pintu-pintu tak terduga itu menjadi hak prerogatif-Ku.

Itulah tawakal yang dewasa.

Bukan diam.

Bukan pasrah.

Tetapi bergerak semaksimal mungkin, lalu menyerahkan hasilnya kepada-Ku.

Hamba
(terdiam sejenak)

Jadi selama ini aku salah paham?

Aku kira tawakal berarti tidak perlu lagi berusaha. Atau yang penting, berusaha.

Tuhan

Banyak yang keliru begitu.

Ada yang malas lalu berkata:

"Memang sudah rezekiku segini."

Padahal mungkin yang kurang bukan rezekinya.

Melainkan ikhtiarnya.

Ada pula yang boros, menghambur-hamburkan harta, lalu berkata:

"Tenang saja. Allah yang mengatur."

Padahal mengelola rezeki juga bagian dari ikhtiar.

Mengatur pengeluaran.

Mengendalikan keinginan.

Menggunakan harta secara proporsional.

Semua itu adalah bentuk syukur kepada-Ku.

Hamba
(merenung)

Lalu...

Dalam konteks apa sebenarnya aku boleh meyakini bahwa rezeki diatur oleh-Mu?

Tuhan

Ada dua hal.

Pertama

Agar kau tidak mencari rezeki melalui jalan yang Aku haramkan.

Mencuri.

Menipu.

Merampas hak orang lain.

Berkhianat.

Menzalimi.

Semua itu bukan ikhtiar yang Aku benarkan.

Kau boleh bekerja keras.

Tetapi jangan melanggar batas-batas itu.

Nanti hidupmu bakal susah di kemudian hari. 

Entah di sini atau di sana nanti di hari kemudian.

Hamba
(menghela napas panjang)

Terus, yang kedua?

Kedua

Agar kau tidak menjadikan rezeki sebagai tujuan hidup.

Harta memang perlu.

Tetapi jangan sampai hatimu diperbudak oleh harta.

Rezeki hanyalah sarana.

Sedangkan tujuan akhirmu tetaplah Aku.

Hamba
(menghela napas lebih panjang)

Berat juga, Tuhan.

Di satu sisi aku harus giat bekerja.

Di sisi lain aku tak boleh terikat pada hasilnya.

Rasanya sudah seperti berjalan di atas jembatan rambut Shiratal Mustaqim.

He.. he.. he ..

Tuhan
(lembut)

Itulah mengapa Aku mengajarkan keseimbangan.

Jangan jadi orang yang pelit, nanti hatimu jadi sempit.

Tetapi jangan pula terlalu menghamburkan harta; nanti masa depanmu akan sulit.

Jalan tengah.

Jalan hikmah.

Jalan kesadaran.

Ingatlah:

Seseorang bisa mewarisi harta yang sangat besar.

Namun jika ia tak mampu mengelolanya, perlahan semuanya akan habis.

Bukan karena Aku berhenti memberi rezeki.

Tetapi karena ia tidak menjaga amanah yang Aku titipkan.

Hamba

Kalau begitu...

Bagaimana caranya agar aku tetap semangat berusaha, tetapi tidak kecewa ketika hasilnya tidak sesuai harapan?

Tuhan
(mendekat seperti bisikan dalam hati)

Pandanglah ikhtiarmu sebagai ibadah.

Bekerja.

Belajar.

Memperbaiki keadaan.

Semua itu bagian dari ketaatan kepada-Ku.

Karena itu, hasilnya tak perlu terlalu kau cemaskan.

Setiap gerakmu dalam kebaikan, Aku catat sebagai amal.

Rezeki yang kau peroleh bukanlah balasan.

Ia adalah pemberian.

Dan pemberian-Ku tidak pernah salah waktu.

Kadang Aku menunda agar kau belajar sabar.

Kadang Aku mengurangi agar kau belajar syukur.

Kadang Aku memberi lebih agar kau belajar berbagi.

Di balik semuanya selalu ada hikmah.

Hamba
(mata mulai berkaca-kaca)

Jadi...

Selama aku berjalan di jalan yang Engkau ridai, aku tidak perlu takut kehabisan rezeki?

Tuhan
(sangat lembut)

Aku yang menciptakan langit dan bumi.

Aku yang menurunkan hujan.

Aku yang menumbuhkan tumbuhan.

Aku yang memberi makan setiap makhluk.

Bahkan semut yang bersembunyi di balik batu.

Apakah Aku akan melupakanmu, wahai hamba-Ku yang bangun pagi karena ingin dekat dengan-Ku?

Tidak.

Aku Maha Pemurah.

Tetapi jangan kau persempit makna rezeki.

Rezeki bukan hanya uang.

Kesehatan adalah rezeki.

Waktu adalah rezeki.

Orang-orang yang kau cintai adalah rezeki.

Orang-orang yang mencintaimu juga rezeki.

Napas yang keluar-masuk adalah rezeki.

Senyum yang masih bisa kau berikan adalah rezeki.

Dan ketenangan hati di saat dompet tipis sering kali merupakan rezeki yang jauh lebih mahal daripada kekayaan.

Hamba
(tersenyum, air mata jatuh perlahan)

Aku mengerti sekarang, Tuhan.

Aku akan bekerja sekuat tenaga.

Tetapi tidak menggantungkan hatiku pada hasil.

Aku akan berikhtiar seperti petani yang menanam benih.

Lalu membiarkan Engkau yang menumbuhkan.

Aku akan menghitung jerih payahku.

Tetapi melipatgandakannya dengan tawakal kepada-Mu.

Tuhan
(kehangatan memenuhi seluruh ruang)

Itulah hamba yang Kucintai.

Bukan yang sempurna.

Melainkan yang terus berusaha dan terus kembali kepada-Ku.

Sekarang pergilah.

Hari masih panjang.

Masih ada tagihan yang harus kamu bayar.

He.. he.. he ..

Hamba

(berdiri, sambil malu-malu utangnya ketahuan)

Terima kasih, Tuhan.

Aku pergi sekarang.

Tapi sebelum itu...

Bolehkah aku bertanya satu hal lagi?

Tuhan
(tertawa kecil)

Bertanyalah.

Karena pertanyaanmu adalah jalan menuju kedekatan dan kemesraan.

Hamba
(tersenyum nakal)

Kalau aku bekerja keras tetapi hasilnya tetap pas-pasan...

Apakah itu berarti Engkau kurang sayang padaku?

Tuhan
(tawa-Nya menggema)

Wahai hamba-Ku...

Kasih sayang-Ku tidak diukur dari tebal-tipisnya dompetmu.

Melainkan dari seberapa sering kau mengingat-Ku saat kenyang maupun lapar.

Saat kau punya atau sedang tidak punya. Saat kau sehat maupun sedang sakit.

Ketahuilah:

Aku lebih menyukai orang yang bersyukur dalam kecukupan daripada orang yang gelisah dalam kelimpahan.

Sekarang pergilah.

Hiduplah.

Rezekimu telah Aku atur.

Tetapi hatimu, kau yang harus mengaturnya.

Jangan sampai kau mendapatkan seluruh dunia, namun kehilangan Aku.

Karena Aku adalah Rezeki yang paling Hakiki.

Dan Aku selalu bersamamu. Apalagi kalau kamu selalu bersabar: tahan banting dan pantang menyerah!

Hamba
(tersenyum nakal)

Kalau begitu...

Besok aku tetap kerja, ya Tuhan?

Tuhan

Wajib! Tapi kalau kamu sudah tidak mau kerja ya tidak apa-apa. Kamu boleh pulang ke sini!

Mau pulang sekarang?

Hamba
(langsung kabur)