Tentang Surat Al-Baqarah Ayat 259, Sastra, Psikologi, dan Mistisisme Logis



Pagi masih muda. Seusai salat Subuh, rumah terasa sunyi dan sejuk. Cahaya matahari mulai masuk melalui jendela ruang tengah.

Saya sedang membuka laptop, sementara istri saya baru saja selesai membaca Al-Qur'an di ipad-nya.

Beberapa saat ia berhenti cukup lama pada Surah Al-Baqarah ayat 259.

Ia lalu membaca beberapa tafsirnya, kemudian setelah itu, menatap saya.


Istri Saya:

(Masih memegang ipad, wajahnya tampak serius.)

Babang ...

Tadi barusan aku membaca Surah Al-Baqarah ayat 259.

Semakin aku baca, semakin aku memikirkannya.

Ceritanya: Allah mematikan seseorang selama seratus tahun, lalu membangkitkannya kembali. Orang itu mengira dirinya hanya tertidur sehari atau bahkan setengah hari.

Makanannya tetap segar.

Keledainya sudah menjadi tulang-belulang.

Lalu tulang-belulang itu disusun kembali dan dibungkus daging hingga hidup lagi.

Aku jadi bertanya-tanya...

Sepertinya itu tidak mungkin terjadi secara nyata. Orang itu hanya berilusi atau sedang bermimpi.

Menurutmu, bagaimana? 


Saya:

(Tersenyum sambil terus mengetik di laptop.)

Bisa saja!

Istri Saya:

Maksudnya? Jelasin dong. Jangan cuma asal jawab!


Saya:

Ya bisa saja itu benar-benar nyata, benar-benar ada. Secara fisik, itu memang benar-benar terjadi. Bukan kiasan.

Kalau dari sudut pandang sufisme dan apa yang selama ini kusebut sebagai mistisisme logis, bagiku kisah itu bukan sekadar simbol. Bukan bahwa orang itu sedang berilusi atau  bermimpi. Tapi ..

Itu adalah pengalaman transendental yang benar-benar nyata.

Uzair—atau siapa pun tokoh itu—benar-benar dimatikan selama seratus tahun. Lalu dihidupkan lagi.

Tujuannya bukan sekadar menjawab keraguannya melalui penjelasan, tetapi melalui pengalaman langsung (direct experience) yang tak mungkin lagi dibantah oleh akalnya sendiri.


Istri Saya:

(Menyandarkan dagu pada tangan.)

Justru karena pengalaman langsung itulah aku membacanya sebagai sebuah konstruksi psikologis.

Dari sudut pandang psikoanalisis, keraguan kognitifnya sudah mencapai titik paling dalam.

Ia membutuhkan jawaban.

Namun jawaban yang mampu diterima oleh struktur pikirannya sendiri.

Menurutku, Tuhan tidak harus menciptakan keajaiban fisik yang rumit.

Ia cukup menghadirkan sebuah pengalaman batin yang akan terasa lebih nyata daripada kenyataan itu sendiri.

Sebuah ilusi Ilahi.

Sebuah mimpi yang real bagi orang yang mengalaminya.


Saya:

Tetapi justru di situlah menurutku letak mistisisme logis itu, Sayang.

Kita sering membatasi kekuasaan Allah hanya pada wilayah metafora dan narasi cerita.

Bagiku, Allah itu mahanya maha. Dan Ia bisa apa saja, termasuk menjadi Sang Manipulator Realitas.

Ia mampu memperlambat ataupun mempercepat waktu secara partikular.

Coba lihat dari sudut fisika.

Dalam teori relativitas, waktu memang bersifat relatif.

Bagi Uzair yang berada dalam "medan waktu" yang berbeda, ia hanya merasakan setengah hari.

Makanan dan minumannya pun berada dalam medan stasis yang sama.

Karena itu makanan tersebut tidak rusak atau basi.

Secara biologis maupun kimiawi, proses entropinya dihentikan oleh kuasa Allah.

Tapi keledainya tidak. 


Istri Saya:

(Tersenyum tipis.)

Nah, itu dia.

Kamu justru memakai analogi sains untuk mempertahankan sesuatu yang supranatural dan tidak masuk akal.

Kalau aku melihatnya dari sisi sastra dan logika naratif.

Buat apa Tuhan mematikan keledainya sampai menjadi tulang-belulang hanya untuk menghidupkannya kembali?

Bukankah itu sangat dramatis?

Menurutku lebih elegan bila dibaca seperti ini.

Keledai yang menjadi tulang-belulang itu hanyalah objek visual dari pengalaman yang Allah tampilkan kepada kesadarannya.

Mirip seperti lucid dream.

Ketika seseorang berada di antara tidur dan bangun, otaknya berada dalam gelombang theta-alpha yang sangat sugestif.

Ia melihat tulang-belulang sebagai simbol kematian.

Lalu menyaksikan proses penyusunannya kembali sebagai simbol kebangkitan.

Semuanya hanya berlangsung di dalam benaknya. Di dalam pikirannya. 

Sebagai proyeksi kesadaran yang dibimbing langsung oleh Allah.

Bagiku, itu baru rasional dan lebih rapi secara psikologis. 


Saya:

Tetapi justru melalui cara yang tampak dramatis itulah logika ketuhanan bekerja.

Itu bukan drama panggung.

Itu adalah realitas yang di-reset.

Perhatikan aspek biologinya.

"Bagaimana Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging."

Bagiku, itu adalah deskripsi proses regenerasi yang nyata.

Tulang-belulang itu benar-benar ada.

Bukan sekadar ilusi.

Ilusi tidak memberikan kepastian epistemologis yang tuntas.

Kalau semuanya hanya mimpi, setelah bangun keraguan itu bisa muncul lagi.

Ia dapat berkata,

"Oh... ternyata tadi hanya mimpi."

Tetapi ketika ia benar-benar melihat makanan yang tetap segar setelah seratus tahun, sekaligus menyaksikan keledainya menjadi tulang-belulang lalu hidup kembali, ia berhadapan dengan paradoks material yang hanya memiliki satu kesimpulan.

Allah benar-benar berkuasa atas ruang dan waktu.

Itulah witnessing.

Penyaksian sejati yang menjadi inti pengalaman sufistik.


Istri Saya:

Nah, justru di situlah puncak rasionalismenya, Babang..

Bukankah dalam tasawuf ada istilah mukasyafah?

Hijab kesadaran disingkapkan.

Pengalaman itu terjadi di alam malakut.

Alam jiwa.

Bukan semata-mata di alam mulk atau alam benda yang bisa kamu ukur memakai termodinamika.

Menurutku, ayat ini adalah psikodrama Ilahi yang sempurna.

Tokohnya seorang empiris sejati.

Karena itu Allah menghadirkan sebuah thought experiment yang diproyeksikan ke layar kesadarannya.

Kalimat "ia dimatikan seratus tahun" adalah bahasa semantik.

Artinya kesadarannya diputus dari realitas objektif sesaat, tetapi diisi oleh simulasi Ilahi yang setara dengan pengalaman seratus tahun.

Hasil akhirnya tetap sama.

Ia berkata,

"Sekarang aku yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu."

Cara yang ditempuh terasa sangat puitis sekaligus efisien.

Allah tidak perlu menghentikan enzim pembusukan pada makanan fisik ataupun meregenerasi sel punca pada keledai fisik.

Allah cukup meregenerasi persepsi manusia itu.


Saya:

(Terdiam beberapa saat, lalu tersenyum.)

Kamu memang selalu ingin menyelamatkan koherensi sastra.

Sedangkan aku justru melihat keindahan ayat ini karena keberaniannya melampaui hukum alam atau sunnatullaah. Inilah yang disebut sebagai qudratullah.

Mistisisme logisku memahami dan menerima bahwa ada wilayah ketika hukum alam tunduk kepada kehendak Allah. 

Dan misteri itu baru menjadi logis setelah seseorang mengalaminya sendiri.

Bagiku, ini bukan ilusi psikologis.

Ini realitas alternatif yang diciptakan Allah sebagai ayat, sebagai tanda yang konkret.

Bagi manusia biasa, cukup dengan kata-kata.

Tetapi bagi seorang pencari yang skeptis, Allah memberinya data dan fakta empiris.

Makanan yang tetap segar.

Keledai yang menjadi tulang-belulang.

Dua objek yang berasal dari dua kerangka waktu yang berbeda.

Ia menyaksikan tabrakan dua lembah waktu.

Itulah tanda kekuasaan Allah.


Istri Saya:

(Mengangguk pelan sambil menatap halaman mushaf yang masih terbuka.)

Aku paham sekarang.

Kamu membacanya sebagai lompatan kuantum makrokosmos.

Sedangkan aku membacanya sebagai lompatan kuantum mikrokosmos jiwa.

Mungkin memang di situlah keindahan Al-Qur'an.

Satu ayat dapat membuka banyak lapisan makna tanpa kehilangan pesan utamanya.

Bagimu, pengalaman itu adalah sentuhan haqq yang menembus hukum fisika.

Sedangkan bagiku, itu adalah pementasan agung drama kesadaran.

"Makanan yang tidak basi" menjadi simbol bagaimana makrifat menjaga jiwa dari kefanaan waktu.

Sedangkan "tulang-belulang" menjadi simbol dekonstruksi ego yang dihidupkan kembali oleh ruh Ilahi.


Saya:

Kurasa untuk sementara, kita akhirnya bertemu pada satu titik.

Yang berbeda hanyalah cara Allah mengajar hamba-Nya.

Aku melihat-Nya mengajar melalui perubahan realitas fisik.

Kamu melihat-Nya mengajar melalui transformasi kesadaran.

Tetapi tujuan akhirnya sama.

Menghadirkan keyakinan bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Entah Dia memanipulasi panggung realitas luar ataupun layar sinema batin manusia, keduanya tetap menunjukkan kebesaran Sang Sutradara Semesta.

Dan kalimat terakhir tokoh itu,

"Sekarang aku yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu."

adalah puncak dari seluruh pencarian.

Baik melalui data fisik maupun melalui lompatan psikis.


Istri Saya:

(Tersenyum hangat sambil menaruh ipadnya)

Ya...

Mungkin memang begitu cara Al-Qur'an bekerja.

Ia tidak sekadar memberi jawaban.

Ia mengundang manusia untuk berdialog.

Mengajak berpikir.

Mengajak merenung.

Dan justru karena itu, setiap kali kita membacanya, seolah-olah Allah sedang mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang baru.



Saya:

(mengangguk-angguk paham, dalam hati bergumam)

Ini istri siapa kok pintar sekali ya? 

he.. he.. he..