Sufi Amatir:
Tuhan, boleh nanya-nanya?
Tuhan:
Iya. Boleh. Santai saja. Tidak usah sungkan. Saya suka mendekat-dekat hamba-Ku yang hobi bertanya dengan niat mencari kebenaran. Itu salah satu alamat mereka-mereka yang akan kuangkat sebagai Wali-Ku.
Sufi Amatir:
Asyik, sebentar lagi saya jadi wali dong!
Tuhan:
Preet! Wali kelas maksudmu? Kamu ini belum apa-apa sudah ngehalu yang tidak-tidak! Tadi kan tujuanmu adalah bertanya. Mana pertanyaanmu?
Sufi Amatir:
Hi.. hi.. hi .., maaf
Begini Han, katanya Engkau bersemayam di setiap ciptaan? Betul apa benar?
Tuhan:
Iya. Di buruh, di bos, di tukang sapu, di pejabat, di demonstran, di tukang tambal ban, di tukang parkir, di abang tukang bakso, di ibu-ibu penjual sayur di pasar, di mana saja, di siapa saja, bahkan di yang suka ngutang tapi lupa bayar.
Sufi Amatir:
He.. he.. he.. Tuhan maha nyindir juga ya?
Kalau begitu, kenapa manusia masih sering merendahkan kerjaan orang lain?
Tuhan:
Ya biasalah, karena ia masih tertutup, terhijab, terhalang dari cahaya kebijaksanaan-Ku. Kafir, kalau pakai istilah kalian itu.
Sufi Amatir:
Karena mulutnya rajin zikir, tapi egonya lembur tanpa libur, ya?
Tuhan:
Hush.. kamu itu yang begitu!
Sufi Amatir:
Kok tahu? Oh iya, lupa kalau Engkau Maha Tahu. Hehehe.
Jadi Engkau sekarang ngapain, Tuhan?
Masih bikin galaksi baru?
Tuhan:
Heuheu…
Aku sudah selesai mencipta.
Sekarang giliran kalian bekerja dan berkarya.
Aku berdiam di tiap ciptaan-Ku. Masa begitu saja kamu tidak tahu? Sufi macam apa kamu ini? Kamu ini sufi-sufian, ya?
Sufi Amatir:
Hi hi hi ..
Jangan gitu dong, Han!
Namanya juga masih amatir.
Eh, lanjut. Kalau begitu, berarti kerja juga ibadah?
Tuhan:
Kalau dikerjakan dengan sebaik-baiknya, iya.
Kalau dilakukan dengan jujur dan antusias, pasti.
Sufi Amatir:
Ha? Antusias? Maksudnya, Han? Kasi paham dong!
Tuhan:
Hmm.. (Sambil buka Chatgpt)
Kata antusias berasal dari bahasa Yunani enthousiasmos, yang berakar pada kata entheos (ἔνθεος).
- en = di dalam
- theos = Tuhan/dewa
Sehingga entheos secara harfiah berarti "Tuhan di dalam" atau "dijiwai oleh Tuhan."
Di Yunani kuno, istilah ini digunakan hamba-hamba-Ku untuk menggambarkan seseorang yang seolah-olah sedang dipenuhi kekuatan ilahi, mengalami inspirasi, ekstase religius, atau semangat yang luar biasa. Penyair, peramal, dan pemuka ritual sering dianggap berada dalam keadaan entheos.
Sufi Amatir:
(Mengangguk-angguk pura-pura paham)
Tuhan:
Namun, dalam perkembangan bahasa modern, di zamanmu, makna religius itu sudah memudar. Kata enthusiasm dalam bahasa Inggris dan antusias dalam bahasa Indonesia kini berarti:
semangat yang besar, gairah yang kuat, atau ketertarikan yang mendalam terhadap sesuatu.
Karena itu, jika ada yang mengatakan:
"Dia sangat antusias saat bekerja,"
itu artinya ada Tuhan di dalam dirinya, ada Aku yang memberinya inspirasi ilmu dan kebijaksanaan.
Sufi Amatir:
(Lagi-lagi mengangguk semakin pura-pura paham)
Kalau yang ngaku zuhud kerjanya cuma ibadah, salat, zikir, wirid, tidak mau kerja cari uang, itu gimana?
Tuhan:
Wah, itu bukan zuhud.
Itu namanya malas berkedok spiritual. Hidup itu ya harus kerja, harus berkarya, harus bermanfaat.
Malas itu dosa besar! Tahu kamu?
Sufi Amatir:
Ya tahu dong! Kan baru saja dikasi tahu. Hehehe.
Tuhan:
Kamu ketawa-ketawa terus.
Dengarkan baik-baik.
Aku tidak pernah melarang hamba-Ku mencintai dunia seisinya. Aku tidak pernah menyuruh manusia lari dari dunia. Yang Aku suruh itu jangan sampai diperbudak dunia. Jangan mau ditipu sama dunia. Nanti hidupmu susah!
Sufi Amatir:
Contohnya, Han?
Tuhan:
Kalau kamu mempunyai uang lalu uang itu dipakai membantu orang, itu baik.
Kalau uang yang mempunyai kamu, itu masalah. Hidupmu tidak bakal tenang.
Makanya, kalau kamu ada uang, cukup simpan di kantong saja. Agar lebih mudah kamu keluarkan dan manfaatkan saat kamu perlu, lebih gampang kamu ambil dan sedekahkan kalau ada yang membutuhkan.
Jangan simpan di hatimu yang pelit itu. Aku ilfil sama hamba-Ku yang begitu. Aku otomatis menjauh.
Sufi Amatir:
Aduh... kena lagi.
Begitu ya. Terus yang menjadi ukuran kedekatan dengan Engkau itu apa?
Jumlah zikir?
Jumlah hafalan?
Jumlah pengikut?
Jumlah jamaah?
Jumlah sertifikat kajian?
Tuhan:
Tidak ada ukurannya. Ukurannya ya terserah Aku. Kalau ukuran dekat kepada-Ku bisa dihitung pakai angka, para akuntan, influencer, selebriti, ustaz komersial, dan politisi sudah jadi wali semua.
Sufi Amatir:
Hehe.. Tuhan bisa aja. Jadi, kesimpulannya?
Tuhan:
Kerja saja yang jujur.
Belajar yang sungguh-sungguh.
Beribadah yang tulus.
Jangan merendahkan orang lain.
Bantu sesama kalau kamu lagi mampu.
Dan kalau belum paham, bilang saja belum paham.
Itu lebih mulia daripada paham-paham palsu.
Sufi Amatir:
Siap, Han.
Eh... satu lagi.
Tuhan:
Apa lagi?
Sufi Amatir:
Kalau saya sudah melakukan semua itu, apakah saya bisa jadi wali?
Tuhan:
Heuheu...
Kamu ini memang susah.
Baru belajar berjalan sudah tanya cara terbang.
Pergilah kerja sana.
Tagihan listrikmu lebih dekat daripada maqam kewalianmu.
Sufi Amatir:
...
Tuhan:
Dan jangan lupa bayar utangmu.
Aku bersemayam di mana-mana.
Termasuk di orang yang sedang menunggu transferanmu.
Sufi Amatir:
Astaga...
Pantas dari tadi rasanya obrolan ini semakin personal.
Kabur....
