: Dirja Wiharja
Orang Gila:
Apa yang Anda bilang? Orang beragama itu tolol?
Kurang Ajar:
Iya. Memangnya kenapa?
Orang Gila:
Apa alasan Anda berkata demikian?
Kurang Ajar:
Karena fondasi kepercayaannya dibangun di atas dongeng.
Orang Gila:
Dongeng, kata Anda?
Justru tidak ada yang lebih nyata daripada agama. Semua yang tampak di dunia ini sementara. Sedangkan agama berbicara tentang yang abadi.
Kurang Ajar:
Nah, itu contoh yang saya maksud. Anda menyebutnya kebenaran, saya menyebutnya dongeng.
Orang Gila:
Masya Allah...
Tidak ada yang lebih kekal selain agama.
Kurang Ajar:
Agama mana yang kekal?
Agama lahir dalam sejarah, tumbuh dalam budaya, ditafsirkan oleh manusia, lalu diwariskan dari generasi ke generasi. Mengapa Anda begitu yakin bahwa itu bukan konstruksi manusia?
Orang Gila:
Konstruksi manusia?
Apa Anda sudah kehilangan arah?
Bukankah agama berasal dari Tuhan?
Kurang Ajar:
Dan dari mana Anda tahu bahwa agama berasal dari Tuhan?
Bukankah pengetahuan itu juga Anda peroleh dari cerita, tradisi, kitab, dan otoritas yang diajarkan kepada Anda sejak kecil?
Orang Gila:
Sejak kapan Anda menjadi sesinis ini?
Kurang Ajar:
Sejak saya mulai mempertanyakan apa yang selama ini dianggap pasti.
Orang Gila:
Hahaha...
Kasihan sekali Anda.
Sekolah boleh tinggi, tetapi hati Anda kosong.
Kurang Ajar:
Lucu.
Biasanya orang beragama selalu mengira bahwa keraguan adalah penyakit.
Padahal dalam filsafat, keraguan sering menjadi pintu menuju pemahaman yang lebih dalam.
Orang Gila:
Jangan menggurui saya.
Banyak teman saya profesor.
Banyak doktor.
Mereka semua percaya kepada agama.
Kurang Ajar:
Dan apa itu membuktikan agama benar?
Kalau banyak orang percaya sesuatu, apakah otomatis sesuatu itu menjadi kebenaran?
Dahulu banyak orang percaya bumi adalah pusat alam semesta.
Mayoritas tidak pernah menjadi ukuran mutlak bagi kebenaran.
Lagi pula, gelar akademik bukan bukti bahwa seseorang benar.
Ia hanya bukti bahwa seseorang telah belajar.
Kebenaran tetap harus dipertanggungjawabkan dengan argumen.
Bukan dengan jumlah pengikut.
Orang Gila:
Jadi Anda menganggap semua orang beragama tidak rasional?
Kurang Ajar:
Tidak.
Sebagaimana tidak semua orang ateis rasional.
Masalahnya bukan pada agama atau ateisme.
Masalahnya adalah ketika seseorang berhenti berpikir dan mulai memutlakkan keyakinannya.
Orang Gila:
Lalu menurut Anda siapa yang paling tolol?
Kurang Ajar:
Yang paling tolol adalah mereka yang lebih mencintai keyakinannya daripada kebenaran.
Mereka yang lebih sibuk mempertahankan jawaban daripada mencari pemahaman.
Mereka yang marah ketika ditanya.
Mereka yang merasa sudah sampai, lalu berhenti berjalan.
Orang Gila:
(Praaaakkkkk...!)
Kurang Ajar:
Aduh!
Katanya pencinta kebenaran?
Kenapa ketika argumen habis, tangan yang berbicara?
Bukankah kekerasan sering lahir tepat ketika pikiran sudah tidak mampu menjelaskan dirinya sendiri?
Dan bukankah pertanyaan yang paling menakutkan bukanlah "Siapa yang benar?", melainkan:
"Bagaimana jika selama ini yang kita bela mati-matian bukan kebenaran, melainkan hanya keyakinan yang kebetulan kita warisi?"