: Dirja Wiharja
Sebuah Paradoks tentang Iman, Keraguan, dan Pembuktian
Mungkin belum banyak tulisan yang mengajak manusia untuk durhaka kepada Tuhan.
Untuk mengkritik Tuhan.
Mempertanyakan Tuhan.
Bahkan, secara metaforis, "membunuh" Tuhan yang hidup di dalam pikirannya.
Namun sebelum marah, dengarkan dulu maksudnya.
Karena yang sedang dibicarakan di sini bukanlah pemberontakan terhadap Tuhan, melainkan keberanian untuk menguji segala gambaran tentang Tuhan yang kita warisi begitu saja.
Saya justru membayangkan bahwa jika Tuhan benar-benar Mahabesar, maka Dia tidak akan rapuh oleh pertanyaan.
Tidak akan runtuh oleh kritik.
Tidak akan hancur oleh keraguan.
Tidak akan mati hanya karena manusia menolaknya.
Karena sesuatu yang benar-benar benar tidak membutuhkan perlindungan dari pertanyaan.
Sebaliknya, ia justru semakin tampak kokoh setelah diuji.
Maka mungkin Tuhan lebih "menyukai" manusia yang bertanya daripada manusia yang sekadar mengangguk.
Lebih menghargai pencari daripada peniru.
Lebih dekat kepada mereka yang bergulat daripada mereka yang hanya mewarisi.
Karena itu, kritiklah Tuhan.
Pertanyakan Tuhan.
Lawanlah segala konsep tentang Tuhan yang Anda terima begitu saja.
Tikamlah keyakinan-keyakinan yang tidak pernah berani diperiksa.
"Matikan" Tuhan-Tuhan kecil yang selama ini hidup dalam ketakutan, fanatisme, dan prasangka.
Jika memang Tuhan adalah Kebenaran, maka Ia tidak akan hilang karena ditanya.
Ia tidak akan runtuh karena diragukan.
Ia tidak akan musnah karena diuji.
Dan justru di situlah paradoksnya.
Semakin jauh seseorang berusaha membantah Tuhan, kadang semakin ia berhadapan dengan batas-batas dirinya sendiri.
Semakin keras ia mempertanyakan, semakin ia menyadari betapa luasnya misteri yang belum dipahami.
Semakin ia menggugat, semakin ia berjumpa dengan kenyataan bahwa akalnya pun memiliki batas.
Hingga pada suatu titik, ia mungkin tidak menemukan jawaban yang final.
Tetapi menemukan kerendahan hati.
Kesadaran bahwa hidup jauh lebih besar daripada dirinya.
Bahwa realitas tidak sepenuhnya dapat dikuasai oleh konsep-konsep yang ia bangun.
Bahwa ada kedalaman yang terus mengundang manusia untuk mencari.
Mungkin karena itu, iman yang lahir setelah pergulatan jauh lebih kokoh daripada iman yang lahir karena warisan.
Karena ia telah melewati keraguan.
Telah berhadapan dengan penolakan.
Telah melewati malam-malam pertanyaan.
Dan tetap memilih untuk berdiri.
Bukan karena dipaksa.
Bukan karena takut.
Tetapi karena menemukan sesuatu yang dianggap layak untuk dipercaya.
Maka jika Tuhan memang ada, belajarlah dari ketangguhan-Nya.
Jika Tuhan memang ada, Ia tidak membutuhkan pembela yang panik setiap kali muncul pertanyaan.
Ia tidak membutuhkan penjaga yang marah setiap kali ada kritik.
Sebab kebenaran yang sejati tidak takut diuji.
Kebenaran yang sejati justru bersinar ketika diperhadapkan dengan keraguan.
Mungkin inilah bentuk pembuktian yang terbalik:
Bukan percaya terlebih dahulu lalu berhenti bertanya.
Melainkan bertanya tanpa henti, menguji tanpa takut, meragukan tanpa malas berpikir, hingga pada akhirnya menemukan apa yang benar-benar layak dipercaya.
Dan jika sebuah keyakinan runtuh hanya karena satu pertanyaan yang jujur, apakah yang runtuh itu kebenaran, atau hanya ilusi yang selama ini kita kira sebagai kebenaran?