Pemahaman yang terburu-buru itu cenderung dangkal dan sempit.
Iqra' yang instan, yang tidak disertai pemerenungan atau meditasi, kemungkinan besar akan melahirkan kekakuan, bahkan salah kaprah.
Pengetahuan apa saja yang diperoleh dengan menggunakan metode "dikejar anjing" pasti hasilnya tidak universal dan mendalam.
Demikianlah sepertinya yang terjadi pada diri La Kuttu'—seorang kawan yang hidupnya menggelandang di bumi Allah, kadang nebeng atap dan kasur di kontrakan La Caddo'.
Tapi begitulah La Caddo'.
Dia memang hobi menampung manusia-manusia aneh, termasuk La Bunrekke dan La Kudu'.
Walhasil, semenjak memasuki bulan sufi Ramadhan, perilaku La Kuttu' tiba-tiba berubah ganjil, lucu, dan tidak rasional.
Kini kegiatan sehari-harinya adalah tidur.
Pekerjaannya mulai terbit fajar hingga terbenam matahari adalah tidur.
Tidur dan tidur.
Tidur setelah sahur, lalu baru bangun beberapa menit sebelum buka puasa.
Pokoknya subuh, pagi, siang, dan sorenya diisi penuh dengan aktivitas tidur.
Menjadilah dia:
Abu Nawm.
Si manusia tidur.
Mansur atau Man of The Sur.
Sang manusia kasur.
"Wah, ini pasti gara-gara La Kuttu ketemu salah satu sabda Nabi di dumay.
Dia itu memang tipe manusia tekstual."
Kata La Kudu' mencoba memancing diskusi.
Nawmu shaa'im 'ibaadah.
Bahwa bahkan tidurnya orang yang berpuasa itu adalah ibadah.
Akhirnya sekarang kerjanya hanya tidur dan tidur.
Luar binasa.
Hahahaha....
"Lho, kamu menertawakan siapa?
Keluguan La Kuttu atau kedunguanmu sendiri?"
Spontan La Bunrekke angkat bicara.
"Justru di situlah letak keistimewaan orang berpuasa dibanding orang-orang yang tidak berpuasa.
Di sanalah kemuliaan yang ditawarkan Ramadhan bagi orang yang berpuasa.
Bahkan tidurnya pun berpahala dan bisa dipakai menabung surga.
Makanya sebenarnya saya diam-diam sepakat dan mendukung La Kuttu untuk terus melaksanakan ibadah tidurnya itu.
Dan bisa jadi La Kuttu sedang mengamalkan hibernasi jasmani.
Tarekat Nawmiyyah.
Semacam praktik:
Muutuu qabla an tamuutuu.
Belajar mati sebelum mati."
"Memang demikian halnya," ungkap La Caddo'.
"Tapi tidur kan bukan satu-satunya pilihan atau jalan mengisi Ramadhan yang dikenal sebagai bulan yang lebih sakti dibanding seribu bulan.
Khairun min alfi syahrin.
Kita bisa mengisinya dengan berbagai ibadah muamalah.
Apalagi soal hadis Nabi itu kan baru tafsir lapisan paling dasarnya.
Belum ada upgrade makna.
Dan menurut hasil bertapa saya semalam, tidur yang dimaksud Nabi di situ bukanlah tidur sebagaimana orang kebanyakan tidur.
Tapi kata nawm di situ bermakna tidur dari aktivitas duniawi.
Mati sementara dari kesibukan-kesibukan materi dan orientasi bendawi untuk membangkitkan kehidupan-kehidupan ruhani yang ukhrawi.
Maka tidurnya orang berpuasa adalah tidur dari segala bentuk dan jenis kesia-siaan hidup.
Tidurnya pancaindra dari semua pelanggaran syariat.
Tidurnya anggota tubuh dari maksiat dan dosa-dosa.
Tidur yang hanya diisi dengan agenda dzikrullah—sadar Allah.
Sehingga orang berpuasa itu menduniakan akhirat, mengakhiratkan dunia, serta mendunia-akhiratkan kehidupan.
Begitu, Cappo'.
Mengertijako to?
Hehehehheheh...."
"Oke pale'.
Cau' ma' saya kalau bicara langitmi orang.
Terus pale', kalau setan yang dibelenggu itu bagaimana ceritanya?"
Timpal La Bunrekke.
"Saya kok sepertinya tidak percaya sama perkataan Nabi yang satu itu.
Saya curiga jangan-jangan itu cuma riwayat palsu.
Katanya di bulan Ramadhan semua setan diborgol, dirantai kaki dan tangannya, mulutnya dibungkam, dipenjarakan untuk sementara waktu.
Sehingga di bulan Ramadhan umat muslim bisa lebih fokus, lebih tenang, lebih aman, lebih khusyuk beribadah tanpa gangguan dan godaan bujuk rayu setan-setan terkutuk itu.
Tapi nyatanya, toh kejahatan, keburukan, maksiat-maksiat manusia, agenda kriminal, serta kelakuan kucing garong masih terjadi di mana-mana.
Buktinya sandal jepit kesayangan saya hilang dicuri di halaman masjid semalam habis tarawih.
Padahal sudah saya tulis di sandal itu:
Ini sandalnya Pak Ustadz.
Itu artinya setan masih berkeliaran di bulan Ramadhan.
Tidak dibelenggu namanya itu.
Karena ternyata masih bebas merdeka.
Yuwaswisu fii shuduurin-naas.
He....
Bagaimana tosi pendapatmu itu, Caddo'?"
"Aduh, iko La Bunrekke.
Bodoh itu boleh-boleh saja, Bro.
Asal bodohnya jangan keterlaluan.
Bodoh jangan dipelihara.
Bodohnya jangan berlipat-lipat dan kelewatan seperti kamu."
Ujar La Caddo'.
"Makanya sekali-kali kamu ikut saya sama La Kudu' naik gunung.
Nikmati hutan dan jurang.
Karena di alam terbuka sangat banyak terhampar laduni-laduni kecil yang bisa kita masukkan ke ubun-ubun kepala.
Banyak inspirasi dadakan dan ilham darurat yang berdatangan.
Hidayah bertaburan di sekeliling kita.
Dan di situ bisa muncul secara kun fayakuun suatu pemahaman rasa yang bisa memperkaya wawasan dan gudang pemikiran manusia kita.
Oke?
Sekarang simak saya baik-baik....."
"Setan ditangkap dan dibelenggu di bulan Ramadhan itu adalah sebuah tawaran spiritual dari Allah kepada kita, hamba-Nya.
Tuhan mengajak diskusi:
Kalau kamu mau setan terbelenggu dan tak berkutik, maka Aku tawarkan metodologi untukmu, yang namanya puasa.
Jadi untuk menyeret setan-setan ke dalam belenggu penjara, maka berpuasalah.
Dan itu seharusnya diamalkan juga di luar bulan Ramadhan.
Sebagaimana itu pula yang dilakukan oleh nenek Adam, Daud, Yunus, dan nabi-nabi yang lain."
"Puasa itu tradisi menahan, namun bukan untuk kelak menciptakan budaya melampiaskan.
Bukan mengendalikan diri lantas pas buka puasa bikin acara balas dendam.
Puasa itu mengendalikan irama nafsu.
Sesuai nada kehidupan dan lagu-lagu kematian.
Selaras lirik dan musik.
Seimbang syariat dan hakikat.
Jadi kalau kamu ingin terhindar dari keburukan pancaindramu, berpuasalah.
Ingin agar selamat dari sifat dengki, benci, lalai, sombong, iri hati, pemarah, dendam, bohong, munafik, fasik, dan sebagainya, maka berpuasalah.
Ingin agar terbebas dari tipu daya dajjal dunia, maka berpuasalah.
Ingin agar terjauhkan dari maksiat, pelanggaran, dan dosa-dosa, maka puasa adalah metodenya.
Puasa adalah jalannya.
Puasa adalah shiraathal mustaqiim-nya.
Puasa adalah......"
Sementara asyik berdiskusi, La Kuttu' bangun keluar dari liang tidur persembunyiannya.
"Hoe.... bukami orang.
Puasa sih puasa....
Tapi jangko lupa buka.
Karena menolak buka sama saja menolak kasih sayang Allah.
Hahahahah...."
