: Dirja Wiharja
Tentu saja Anda marah, atau mungkin juga naik pitam, membaca judul tulisan ini.
Itulah pernyataan yang diluncurkan oleh makhluk Tuhan yang bernama setan.
Karena itu, sebelum Anda mengamuk, tidak ada salahnya kita mengikuti wawancara singkat berikut ini.
Saya:
Jumpa lagi dengan wawancara kita, Om Setan.
Setan:
Jangan panggil saya "Om".
Setan seperti saya tidak layak Anda hormati.
Jangan pura-pura menghormati.
Saya:
Oh, maaf.
Ehm... begini, Bang Set...
Kenapa Anda berani mengatakan istilah "orang-orang yang sok beriman" kepada kami umat Islam?
Setan:
Kenapa tidak?
Saya tahu isi hati kalian semua.
Dan sebagian dari itu juga atas hasutan saya.
Saya:
Mungkin pertanyaan saya lebih spesifik.
Maksud saya, terhadap para teroris.
Setan:
Ya sama saja.
Mereka juga saya tipu.
Saya:
Tapi tidakkah Anda melihat bahwa mereka merasa sedang menegakkan agama?
Mereka menganggap dirinya sedang berjihad di jalan Tuhan.
Setan:
Kalau Anda bodoh, mungkin Anda akan mengatakan iya.
Tapi saya tahu persis.
Itu justru mirip perilaku saya.
Dulu saya iri kepada nenek moyang kalian di surga.
Karena iri itulah saya menggoda.
Adam khilaf lalu meminta ampun.
Sedangkan saya tetap membangkang.
Karena saya memilih memelihara iri hati.
Saya:
Apa hubungannya dengan perilaku teroris?
Apakah Anda mengatakan mereka iri kepada saudara-saudaranya sendiri yang juga beragama Islam?
Setan:
Hahaha...!
Ini sebenarnya rahasia kami, kaum setan.
Kami bisa menyusup ke bilik hati manusia yang paling dalam.
Bahkan ketika seseorang benar-benar beriman, kami tetap berusaha menggoyahkannya secara halus.
Saya:
Maksudnya?
Setan:
Misalnya Anda shalat.
Berkali-kali kami bisikkan:
"Tidak usah."
Tapi ternyata iman Anda kuat.
Baiklah.
Kami tidak kehabisan akal.
Maka kami ubah strategi.
Kami puji Anda.
"Wah... khusyuk sekali shalatmu.
Lihat si anu itu.
Shalatnya asal-asalan.
Tunjukkan bahwa kamulah contoh orang beriman."
Maka lahirlah riya.
Pelan-pelan Anda mulai merasa lebih suci dari orang lain.
Lalu kami naikkan lagi levelnya.
Kami bisikkan:
"Kamu kan sudah beriman.
Tapi orang-orang di sekitarmu santai saja, tidak shalat.
Tegur mereka.
Ceramahi mereka.
Bacakan ayat demi ayat sampai mereka tunduk."
Maka Anda mulai gemar berceramah di mana-mana.
Dan tanpa sadar, Anda mulai memandang orang lain lebih rendah dari diri sendiri.
Belum cukup.
Kami tingkatkan lagi.
Kami bisikkan:
"Lihat saudaramu itu.
Mereka tidak beriman sepertimu.
Belum sempurna imanmu jika membiarkan mereka bermaksiat.
Buktikan keimananmu.
Sudah saatnya bertindak.
Kalau bisa dengan tangan, kenapa hanya dengan doa?
Bukankah Nabi juga pernah berperang?
Cari ayat-ayat tentang perang.
Tidak perlu membaca ayat yang lain.
Ambil yang cocok saja.
Ayo maju.
Ini jihad.
Kamu akan mati syahid.
Satu...
Dua...
Tiga...
Majuuuuuuuuu!"
Saya:
Hahaha...
Anda memang licik, ya?
Setan:
Lha iya dong.
Toh saya tetap masuk neraka.
Jadi saya tidak boleh setengah-setengah menggoda kalian.
Kami akan terus berusaha sampai hari kiamat.
Kami sudah diberi izin untuk itu.
Tidak ada yang bisa menghentikan kami.
Kecuali kalian benar-benar beriman.
Bukan sekadar sok beriman.
Karena kalau hanya sok beriman, jatuhnya justru lebih parah.
Saya:
Lalu bagaimana dengan peperangan pada zaman Nabi Muhammad?
Setan:
Kalau itu lain cerita.
Di situ kami sulit masuk.
Nabi kalian selalu dibimbing oleh wahyu.
Selalu ada petunjuk yang mengarahkan.
Karena itu, ruang kami untuk menggelincirkan beliau sangat sempit.
Saya:
Tapi beliau juga berperang, bukan?
Setan:
Ya.
Tapi konteksnya berbeda.
Beliau memerangi pihak yang memerangi umatnya.
Yang tidak mengganggu, tidak diperangi.
Buktinya, di Madinah ada banyak komunitas lain yang tetap hidup berdampingan.
Tapi sekarang?
Teman-temanmu yang suka mengamuk itu?
Hahaha...!
Orang tidak mengganggu mereka, malah diteror.
Yang berbeda sedikit langsung dicurigai.
Yang tidak sepaham langsung dianggap musuh.
Bawaannya merasa paling suci.
Padahal yang sedang mengamuk dalam diri mereka sering kali bukan Tuhan.
Melainkan ego yang sedang memakai topeng agama.
Saya:
Tapi yang mereka lawan kan kemaksiatan?
Mereka menganggap kerusakan sudah terlalu parah.
Setan:
Lalu siapa bilang satu-satunya jawaban adalah kekerasan?
Bukankah masih ada cara yang lebih cerdas?
Lebih santun.
Lebih menyentuh hati.
Lebih manusiawi.
Cara yang membuat orang tertarik, bukan ketakutan.
Cara yang membuat orang berubah karena kesadaran, bukan karena ancaman.
Kalau sudah menghujat, memaki, dan mengintimidasi, itu bukan dakwah lagi.
Itu hanya kemarahan yang sedang mencari pembenaran.
Pakai nalarlah.
Gunakan ilmu.
Kuasai pengetahuan.
Selain hati, manusia juga diberi akal.
Kalau hanya salah satunya yang dipakai, kalian akan menjadi sasaran empuk kami.
Orang yang sok beriman tapi tidak mau berpikir sangat mudah kami gelincirkan.
Orang yang hanya mengandalkan otak tanpa hati juga mudah kami jatuhkan.
Orang yang pandai berbicara tetapi kosong dalam tindakan juga sama.
Hanya bentuk terornya yang berbeda.
Ada yang menjadi teror fisik.
Ada yang menjadi teror pemikiran.
Ada yang menjadi imperialisme budaya.
Ada yang menjadi kesombongan intelektual.
Dan ada pula yang menjadi amarah atas nama kesalehan.
Eh, sudah dulu ya wawancaranya.
Saya masih ada pekerjaan.
Mau menghasut teman-teman Anda lagi.
Permisi dulu.
Saya:
Hahaha... oke, oke!
Dasar memang setan!