Aku pernah mendengar sebuah kisah indah tentang mistikus sufi agung, Farid—sebuah kisah yang tetap tinggal di hati lama setelah selesai diceritakan.

Pada suatu malam yang sunyi, di bawah langit yang ditenun oleh gemerlap bintang, Farid tertidur lelap dalam tidur yang dalam dan penuh keajaiban. Dalam mimpinya, berkat rahmat Allah yang tak terhingga, ia mendapati dirinya berdiri di gerbang Surga.

Apa yang terbentang di hadapannya adalah pemandangan yang melampaui imajinasi.

Seluruh alam surga berkilauan oleh cahaya yang tak terhitung jumlahnya. Jutaan demi jutaan lentera emas menggantung di udara bagaikan bintang-bintang yang tertangkap, sementara bunga-bunga dari segala warna menyelimuti seluruh penjuru. Harumnya terbawa angin sepoi-sepoi, berpadu dengan musik surgawi yang seolah mengalir dari setiap sudut surga. Sukacita memenuhi udara. Di mana-mana terdengar tawa, nyanyian, dan perayaan.

Karena penasaran, Farid mendekati sekelompok makhluk surgawi dan bertanya,

“Apa yang sedang terjadi di sini? Mengapa seluruh surga bersukacita?”

Salah seorang dari mereka tersenyum dan menjawab,

“Hari ini adalah ulang tahun Tuhan. Kami sedang merayakannya, dan engkau datang pada saat yang tepat.”

Dipenuhi rasa takjub, Farid berdiri di bawah sebuah pohon megah yang cabang-cabangnya membentang melintasi langit laksana sungai zamrud. Dari sana ia menyaksikan sebuah arak-arakan besar bergerak di sepanjang jalan yang bercahaya.

Tak lama kemudian, muncul seorang penunggang kuda yang agung menunggangi seekor kuda yang mulia.

Farid bertanya,

“Siapakah orang itu?”

Jawabannya datang seketika.

“Apakah engkau tidak mengenalinya? Dia adalah Muhammad.”

Di belakang beliau membentang lautan manusia—jutaan demi jutaan pengikut, sejauh mata memandang.

“Dan siapakah semua orang itu?” tanya Farid.

“Mereka adalah kaum Muhammad,” jawab mereka, “para pengikut Muhammad.”

Setelah itu datang Jesus, tenang dan bercahaya. Kerumunan yang bahkan lebih besar mengikuti langkah-langkahnya. Kemudian muncul Krishna di atas kereta emas yang megah, bersinar laksana matahari, ditemani para pemuja yang tak terhitung jumlahnya. Setelah Krishna datang Mahavira, lalu Gautama Buddha, dan banyak guru spiritual besar lainnya. Arak-arakan itu tampak tak berujung, mengalir seperti sungai melalui keabadian.

Prosesi itu terus berlangsung dan terus berlangsung hingga Farid mulai bertanya-tanya apakah ia akan pernah berakhir.

Lalu akhirnya, muncullah sosok yang aneh.

Seorang lelaki tua menunggangi seekor keledai tua dengan langkah perlahan. Pakaiannya sederhana. Wajahnya memancarkan kebijaksanaan sekaligus keletihan. Namun yang paling mencolok adalah bahwa ia benar-benar sendirian.

Tak ada kerumunan yang mengikutinya.

Tak ada murid atau pengagum di belakangnya.

Tak satu jiwa pun menemaninya.

Pemandangan itu begitu tak terduga hingga Farid tertawa.

Ia melangkah maju dan berseru,

“Tuan, siapakah Anda? Aku telah melihat Muhammad, Kristus, Krishna, Mahavira, Buddha, dan banyak tokoh besar lainnya. Masing-masing diikuti oleh jutaan pengagum. Namun Anda berjalan sendirian di atas seekor keledai tua. Anda hampir tampak seperti sebuah lelucon. Mengapa tidak ada seorang pun yang mengikuti Anda?”

Mata lelaki tua itu dipenuhi kesedihan.

Dengan suara lembut ia menjawab,

“Ya, Akulah Tuhan.

Hari ini adalah ulang tahun-Ku.

Tetapi sebagian orang telah menjadi pengikut Muhammad, sebagian menjadi Kristen, sebagian menjadi Yahudi, dan sebagian menjadi Hindu. Mereka melekat pada agama, sekte, dan identitas mereka.

Tidak ada seorang pun yang tersisa untuk bersama-Ku.”

Kata-kata itu menghantam Farid seperti petir yang menyambar.

Pada saat itu juga, mimpi itu pecah dan ia terbangun.

Keesokan harinya, ia mengumpulkan para muridnya dan menceritakan apa yang telah dilihatnya.

“Sahabat-sahabatku,” katanya, “mulai hari ini aku bukan lagi seorang Muhammadan (pengikut identitas keagamaan semata). Mimpi ini telah mengungkapkan sesuatu yang sangat mendalam kepadaku. Aku tidak lagi ingin menjadi bagian dari agama yang terorganisasi sebagai identitas. Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri.

Aku ingin bersama Tuhan.

Setidaknya, harus ada satu orang yang berjalan di samping-Nya.”