: Dirja Wiharja
Dengan segala kerendahan hati, izinkan saya meminta maaf terlebih dahulu kepada siapa pun yang mungkin tersinggung oleh judul tulisan ini.
Namun sebelum marah, cobalah jawab satu pertanyaan sederhana:
Apa hasil dari sholat yang selama ini Anda kerjakan?
Jangan buru-buru menjawab.
Renungkan sejenak.
Karena mungkin pertanyaan itu lebih sulit daripada yang kita bayangkan.
Jika yang muncul hanya kemarahan, mungkin itulah salah satu hasil yang selama ini kita peroleh.
Jika yang muncul hanya ketersinggungan, mungkin itulah cermin yang sedang diperlihatkan kepada kita.
Bukankah aneh?
Kita begitu sering berbicara tentang manfaat sholat, tetapi ketika ditanya apa manfaat yang sungguh-sungguh kita rasakan, kita justru kebingungan menjawabnya.
Ya, saya tahu.
Sholat adalah kewajiban.
Sholat adalah rukun Islam.
Meninggalkan sholat dianggap dosa.
Semua itu sudah sering kita dengar.
Terlalu sering.
Namun saya tidak sedang bertanya tentang status hukumnya.
Saya sedang bertanya tentang pengalaman batinnya.
Tentang hasilnya.
Tentang apa yang benar-benar berubah dalam diri kita setelah bertahun-tahun bersujud.
Anehnya, saya tidak sedang berbicara tentang orang lain.
Saya sedang berbicara tentang diri saya sendiri.
Dan terus terang, saya juga sering merasa bahwa sholat saya tidak produktif.
Dulu tidak demikian.
Ada masa ketika sholat menjadi kebutuhan yang paling dalam.
Bukan kewajiban.
Bukan kebiasaan.
Bukan tuntutan sosial.
Bukan pula transaksi spiritual demi surga atau ketakutan terhadap neraka.
Saya sholat karena ingin.
Karena saya membutuhkan keheningan.
Karena saya membutuhkan ruang untuk pulang kepada diri sendiri.
Saya menikmati setiap gerakannya.
Menikmati setiap diamnya.
Menikmati setiap doa yang mengalir tanpa paksaan.
Kadang air mata jatuh begitu saja.
Tanpa alasan yang jelas.
Tanpa rekayasa.
Tanpa sandiwara.
Saat itu saya mulai mengerti mengapa sholat disebut sebagai tiang agama.
Saya mulai mengerti mengapa sholat dikatakan mampu mencegah manusia dari kesombongan, kerakusan, dan kebencian.
Karena pada saat itu sholat bukan sekadar ritual.
Ia adalah perjalanan.
Ia adalah mi'raj kesadaran.
Ia adalah perjumpaan dengan inti diri yang paling sunyi.
Tidak ada ambisi.
Tidak ada kompetisi.
Tidak ada keinginan untuk terlihat saleh.
Hanya ketenangan.
Hanya kejernihan.
Hanya kedamaian.
Dan pada saat itulah saya merasa surga bukanlah tempat yang jauh di akhirat.
Ia sedang tumbuh di dalam hati.
Tetapi sekarang?
Saya harus jujur.
Sering kali sholat berubah menjadi rutinitas mekanis.
Gerakan yang diulang.
Bacaan yang dihafal.
Kebiasaan yang berlangsung tanpa kehadiran batin.
Saya sholat karena sudah terbiasa.
Karena merasa bersalah jika tidak melakukannya.
Karena takut dianggap buruk.
Karena ingin menjaga citra.
Karena ingin tetap terlihat sebagai orang yang taat.
Karena ingin merasa aman.
Karena ingin tetap berada di pihak yang saya anggap benar.
Dan ketika sholat berubah menjadi alat untuk memelihara citra diri, sesuatu yang sangat penting telah hilang darinya.
Lebih buruk lagi, kadang-kadang agama berubah menjadi bahan bakar ego.
Kita merasa paling benar.
Paling suci.
Paling dekat dengan Tuhan.
Sementara orang lain dianggap sesat, rendah, najis, atau tidak layak.
Padahal mungkin yang sedang kita sembah bukan lagi Tuhan.
Melainkan bayangan diri kita sendiri.
Ego yang mengenakan pakaian agama.
Kesombongan yang menyamar sebagai kesalehan.
Karena itu saya tidak sedang mengatakan bahwa sholat tidak berguna.
Saya justru sedang bertanya:
Apakah sholat yang kita kerjakan sungguh-sungguh masih hidup?
Ataukah ia telah berubah menjadi kebiasaan yang kehilangan ruhnya?
Sebab sholat yang hidup seharusnya membuat manusia lebih rendah hati.
Lebih tenang.
Lebih jujur.
Lebih penyayang.
Lebih mampu memahami penderitaan sesamanya.
Jika semua itu tidak tumbuh, maka mungkin yang perlu dihentikan bukan sholatnya.
Melainkan cara kita memaknainya.
Dan jika setelah puluhan tahun bersujud kita masih mudah membenci, mudah marah, mudah menghakimi, dan merasa lebih suci daripada orang lain, maka pertanyaan yang layak diajukan bukanlah:
"Berapa kali kita sholat?"
Melainkan:
"Siapakah sebenarnya yang selama ini kita sembah dalam sholat itu: Tuhan, atau ego kita sendiri?"