: Dirja Wiharja






Kita sudah pernah merasakan

semua jenis,

segala macam,

seluruh bentuk kepahitan dan kepedihan dalam hidup.

Tapi mohon maaf,

yang paling pahit,

yang paling perih,

yang paling pedih,

dan yang paling menyakitkan,

serta menyayat-nyayat jiwa,

adalah berharap kepada makhluk

yang bernama pemerintah.


Siapa-siapa yang berharap kepada manusia,

maka bersiaplah untuk kecewa.

Siapa-siapa yang berharap kepada negara,

maka bersiaplah sakit hati dan sakit jiwa.

Siapa-siapa yang berharap kepada selain-Nya,

maka bersedialah untuk menderita.


Bagaimana mungkin engkau mengharapkan kesejahteraan dan keadilan,

kalau yang membuat dan mengerjakan kebijakan

adalah orang-orang yang jiwanya sudah teramat bajingan?

Bagaimana mungkin engkau menginginkan variabel kemakmuran,

kalau yang kau amanahi tugas dan mandat kekuasaan

adalah mereka-mereka yang hatinya penuh tipu daya,

licik kepentingan,

dan keserakahan?

Bagaimana mungkin engkau mengaminkan keamanan,

mendambakan kedamaian,

kalau yang kau percayakan sebagai pengayom dan penyayang

adalah brandal-brandal berseragam kesetanan?

Bagaimana mungkin engkau memimpikan pemimpin

yang memiliki kejujuran dan kebijaksanaan,

kalau yang kau sembah-sembah kakinya

dan kau dukung mati-matian

adalah siluman kotor pencitraan?

Bagaimana mungkin engkau mencapai cahaya pencerahan,

kalau yang engkau ciumi tangannya

dan kau ikuti nasihat serta ajarannya,

bukannya pewaris nabi-nabi,

melainkan badut-badut kegelapan religius kesurupan?

Bagaimana mungkin engkau menemukan hakikat kesejatian,

kalau yang kau puja dan junjung-junjung

adalah postingan kebohongan,

konten kemunafikan,

dan jubir-jubir kepalsuan?

Bagaimana mungkin engkau mendapatkan ketenangan dan keselamatan,

kalau yang kau pertahankan

dan terus kau pertuhankan

adalah hawa nafsu kerakusan kemungkaran?

Bagaimana mungkin engkau mengidam-idamkan surga

yang penuh senyuman dan kenikmatan,

kalau di mana-mana yang engkau lakukan dan tradisikan

adalah perilaku dan kebiasaan

penghuni jahannam,

neraka kebiadaban?

Bagaimana mungkin engkau memperoleh kebaikan cinta,

dan kasih sayang,

kalau yang kau bawa ke mana-mana

adalah amuk murka,

caci maki,

dan trauma-trauma kebencian?

Bagaimana mungkin engkau meraih kematangan dan kemenangan,

kalau ke mana-mana yang kau nyalakan

adalah api rusuh permusuhan

dan kobar makar pertengkaran?


Maka jangan heran.

Jangan heran.

Kalau yang terus terjadi

adalah kerusakan

dan kehancuran!