"Barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya."
— Hikmah para sufi
Awal: Kita Semua Pernah Tertidur
Ada saat-saat dalam hidup ketika kita tiba-tiba berhenti dan bertanya kepada diri sendiri,
"Apakah ini benar-benar hidup yang kuinginkan?"
Pertanyaan itu mungkin muncul ketika kehilangan seseorang yang kita cintai, ketika gagal mencapai sesuatu yang selama ini kita kejar, atau justru ketika semua impian telah tercapai tetapi hati tetap terasa kosong.
Di saat seperti itulah kita mulai menyadari sesuatu yang selama ini luput dari perhatian: barangkali yang perlu berubah bukanlah dunia di luar, melainkan cara kita memandang dunia.
Sebagian besar manusia tumbuh tanpa pernah benar-benar memilih hidupnya sendiri. Kita mewarisi cara berpikir dari keluarga, sekolah, agama, masyarakat, media sosial, bahkan dari pengalaman-pengalaman yang tidak pernah kita sadari membentuk diri kita.
Sedikit demi sedikit kita belajar menjadi "orang baik", "orang sukses", "anak yang patuh", "orang yang religius", atau identitas-identitas lain yang diberikan kepada kita.
Semua itu tidak selalu salah.
Masalahnya adalah kita sering lupa bertanya:
Di balik semua peran itu, siapakah aku sebenarnya?
"Keistimewaan hidup bukanlah menjadi sempurna, melainkan menjadi diri sendiri."
Kalimat itu sederhana, tetapi mengandung pertanyaan yang sangat dalam.
Berapa banyak dari keputusan yang kita ambil benar-benar lahir dari kesadaran? Dan berapa banyak yang sebenarnya hanya pengulangan dari pola lama yang kita warisi tanpa pernah kita pertanyakan?
Dalam banyak tradisi kebijaksanaan, manusia dipercaya lahir dua kali.
Kelahiran pertama diberikan oleh ibu.
Kelahiran kedua lahir dari kesadaran.
Tubuh memang lahir dalam hitungan jam. Namun menjadi manusia seutuhnya membutuhkan waktu seumur hidup.
Para sufi menyebut perjalanan itu sebagai perjalanan pulang kepada diri.
Bukan perjalanan menuju tempat baru, melainkan perjalanan kembali kepada sesuatu yang sejak awal sudah ada di dalam diri kita.
Rumi menulis,
"Kemarin aku cerdas, maka aku ingin mengubah dunia. Hari ini aku bijaksana, maka aku mengubah diriku."
Kalimat itu bukan ajakan untuk mengabaikan dunia.
Justru sebaliknya.
Dunia hanya bisa berubah secara mendalam ketika manusia yang menghuninya ikut berubah.
Kita sering merasa hidup dibatasi oleh keadaan.
Oleh ekonomi.
Oleh keluarga.
Oleh masa lalu.
Oleh lingkungan.
Semua itu memang berpengaruh.
Namun Viktor Frankl, seorang psikiater yang selamat dari kamp konsentrasi Nazi, menunjukkan sesuatu yang mengejutkan.
Ia kehilangan hampir seluruh keluarganya.
Ia hidup dalam penyiksaan yang sulit dibayangkan.
Namun di tengah semua penderitaan itu ia menulis,
"Segala sesuatu dapat dirampas dari seseorang kecuali satu: kebebasan untuk memilih sikap terhadap keadaan."
Frankl menemukan bahwa penjara terbesar bukan selalu berada di luar.
Sering kali penjara itu berada di dalam kepala kita sendiri.
Kita hidup berdasarkan ketakutan yang bahkan belum tentu nyata.
Kita terus mengulang cerita lama tentang diri kita:
"Aku memang begini."
"Aku tidak berbakat."
"Aku selalu gagal."
"Aku memang tidak pantas dicintai."
Semakin sering cerita itu diulang, semakin kita mempercayainya.
Padahal itu hanyalah cerita.
Bukan kenyataan.
Neurosains modern menunjukkan bahwa otak manusia memiliki kemampuan yang disebut neuroplastisitas.
Artinya, jaringan saraf kita terus berubah sepanjang hidup.
Cara berpikir yang baru akan membentuk jalur-jalur baru di dalam otak.
Dengan kata lain, kita tidak sepenuhnya ditentukan oleh masa lalu.
Kita selalu memiliki kemungkinan untuk menjadi pribadi yang berbeda.
Sains ternyata mulai mengonfirmasi apa yang telah lama diajarkan para mistikus:
manusia tidak pernah selesai diciptakan.
Mengapa Kita Selalu Bertentangan dengan Diri Sendiri?
Pernahkah Anda mengalami keadaan seperti ini?
Sebagian diri ingin bangun pagi.
Sebagian lagi ingin terus tidur.
Sebagian diri ingin memaafkan.
Sebagian lagi ingin membalas.
Sebagian diri ingin hidup sederhana.
Sebagian lagi terus mengejar pengakuan.
Mengapa manusia begitu mudah terpecah?
Psikologi modern memiliki jawaban yang menarik.
Carl Jung mengatakan bahwa setiap manusia memiliki bayangan (shadow).
Bayangan bukanlah sisi jahat.
Bayangan adalah bagian diri yang kita tolak.
Semakin keras kita menolak suatu sisi dalam diri, semakin besar kekuatannya bekerja dari balik layar.
Karena itu Jung berkata,
"Apa yang kau tolak akan tetap menguasaimu. Apa yang kau sadari akan mulai berubah."
Para sufi mengatakan hal yang hampir sama.
Musuh terbesar manusia bukan dunia.
Bukan iblis.
Melainkan ketidaksadaran terhadap dirinya sendiri.
Al-Ghazali menggambarkan hati manusia seperti sebuah cermin.
Jika cermin itu dipenuhi debu, ia tidak mampu memantulkan cahaya.
Debunya bukan dosa semata.
Melainkan kesombongan.
Ketakutan.
Kemarahan.
Keserakahan.
Dan semua luka atau trauma yang tidak pernah disadari.
Membersihkan hati berarti membersihkan cara kita melihat kenyataan.
Menjadi Utuh
Selama berabad-abad manusia diajarkan untuk memilih.
Tubuh atau jiwa.
Sains atau agama.
Dunia atau akhirat.
Logika atau cinta.
Padahal kehidupan sendiri tidak pernah bekerja seperti itu.
Burung terbang dengan dua sayap.
Pohon hidup karena akar dan daun.
Siang selalu membutuhkan malam.
Dalam filsafat Spinoza, Tuhan tidak dipahami sebagai sesuatu yang terpisah dari alam, melainkan hadir dalam keseluruhan realitas. Segala sesuatu saling terhubung. Tidak ada pemisahan mutlak antara yang suci dan yang duniawi; yang ada adalah tingkat kesadaran kita dalam memandangnya.
Psikolog Abraham Maslow juga mengamati hal yang menarik. Setelah meneliti orang-orang yang dianggap paling sehat secara psikologis, ia menemukan bahwa mereka bukanlah orang yang menolak kebutuhan duniawi. Mereka bekerja, mencintai, berkarya, menikmati hidup, tetapi pada saat yang sama memiliki pengalaman-pengalaman yang ia sebut peak experiences—momen ketika seseorang merasa menyatu dengan kehidupan dan melampaui ego.
Maslow menyimpulkan bahwa manusia yang matang bukanlah manusia yang memusuhi tubuhnya, melainkan manusia yang mampu mengintegrasikan seluruh dimensinya.
Barangkali inilah yang dimaksud para sufi dengan insan kamil—manusia yang utuh. Bukan manusia tanpa kekurangan, melainkan manusia yang tidak lagi tercerai-berai di dalam dirinya.
Otak yang Berubah, Hati yang Bertumbuh
Selama bertahun-tahun para ilmuwan mengira otak orang dewasa bersifat tetap. Kini kita tahu bahwa anggapan itu keliru. Penelitian tentang neuroplastisitas menunjukkan bahwa pengalaman, perhatian, latihan, bahkan meditasi dapat mengubah struktur dan cara kerja otak.
Ahli saraf Antonio Damasio menunjukkan bahwa emosi bukanlah musuh akal. Justru emosi membantu manusia mengambil keputusan. Tanpa emosi, kita mungkin mampu berpikir logis, tetapi akan kesulitan menentukan pilihan yang bermakna.
Temuan ini menarik karena mengingatkan kita bahwa manusia bukan sekadar mesin berpikir. Kita adalah makhluk yang merasakan, mengingat, membayangkan, dan memberi makna.
Di titik ini, sains dan spiritualitas mulai saling menyapa. Yang satu berbicara tentang jaringan saraf, yang lain berbicara tentang hati. Bahasanya berbeda, tetapi keduanya sama-sama menunjukkan bahwa perubahan sejati lahir dari latihan yang terus-menerus.
Kesadaran bukanlah hadiah. Ia adalah kebiasaan yang dipelihara setiap hari.
Krisis Sebagai Awal Kelahiran
Kita hidup pada zaman yang penuh kegelisahan. Teknologi berkembang sangat cepat, tetapi banyak orang merasa semakin kesepian. Informasi tersedia tanpa batas, tetapi kebijaksanaan terasa semakin langka.
Mudah sekali menyimpulkan bahwa dunia sedang menuju kehancuran.
Namun ada cara lain untuk melihatnya.
Dalam teori sistem kompleks, ilmuwan seperti Ilya Prigogine menunjukkan bahwa banyak sistem justru mengalami lompatan menuju bentuk yang lebih teratur setelah melewati fase kekacauan. Di alam, keteraturan baru sering muncul bukan karena semuanya tenang, melainkan karena sistem lama sudah tidak mampu lagi mempertahankan dirinya.
Mungkin manusia pun demikian.
Krisis bukan selalu tanda bahwa kita sedang hancur.
Kadang-kadang ia adalah tanda bahwa cara lama sudah tidak lagi cukup. "Seseorang harus masih memiliki kekacauan di dalam dirinya untuk dapat melahirkan bintang yang menari," kata Nietzsche.
Kekacauan memang melelahkan.
Namun sering kali di sanalah awal sebuah kelahiran.
Menjadi Warga Alam Semesta
Carl Sagan mengingatkan bahwa seluruh umat manusia hidup di atas "titik biru pucat" yang mengambang di tengah keluasan kosmos. Dari kejauhan, semua batas yang kita banggakan—bangsa, ras, warna kulit, bahkan konflik-konflik kita—menghilang begitu saja.
Kesadaran semacam ini mengajarkan kerendahan hati.
Kita adalah bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar daripada ego kita.
Para sufi mengungkapkannya dengan bahasa yang berbeda.
Mereka mengatakan bahwa seluruh alam adalah ayat-ayat Tuhan yang sedang berbicara.
Jika kita belajar mendengarkan, maka angin, hujan, pepohonan, dan bahkan kesunyian pun dapat menjadi guru.
Barangkali menjadi manusia baru berarti berhenti melihat diri sebagai pusat alam semesta. Kita bukan penguasa kehidupan, melainkan bagian darinya.
Kesadaran Sebagai Cara Hidup
Kesadaran bukan berarti mengetahui banyak teori.
Kesadaran adalah cara hadir.
Hadir ketika mendengarkan.
Hadir ketika bekerja.
Hadir ketika mencintai.
Hadir ketika beribadah.
Hadir ketika menangis.
Nabiyullah Socrates menasehatkan,
"Hidup yang tidak direnungkan tidak layak dijalani."
Namun merenung bukan berarti terus-menerus berpikir.
Kadang justru berarti berhenti sejenak, mengamati napas, menyadari apa yang sedang terjadi di dalam diri, lalu merespons kehidupan dengan lebih jernih.
Di sinilah filsafat, psikologi, sains, dan sufisme bertemu.
Mereka semua, dengan bahasa yang berbeda, mengajak manusia untuk bangun dari hidup yang dijalani secara otomatis.
Fajar Manusia Baru
Saya tidak percaya bahwa manusia sedang menuju akhir.
Saya percaya kita sedang berada di ambang sebuah kelahiran.
Kelahiran cara hidup yang lebih utuh.
Lebih sadar.
Lebih penuh kasih.
Lebih rendah hati.
Manusia baru bukanlah manusia yang tidak pernah salah.
Ia tetap bisa marah.
Tetap bisa sedih.
Tetap bisa gagal.
Namun ia tidak lagi diperbudak oleh semua itu.
Ia mengenali emosinya tanpa tenggelam di dalamnya.
Ia menggunakan akalnya tanpa kehilangan belas kasih.
Ia mencintai dunia tanpa melupakan Tuhan.
Ia beribadah tanpa membenci kehidupan.
Ia mempelajari sains tanpa kehilangan rasa takjub.
Ia menjalani spiritualitas tanpa memusuhi akal.
Barangkali inilah manusia yang sedang ditunggu zaman.
Seorang ilmuwan yang mampu berdoa.
Seorang mistikus yang mencintai kenyataan.
Seorang filsuf yang tidak kehilangan kelembutan.
Seorang pekerja yang tetap memiliki keheningan batin.
Dan seorang manusia biasa yang setiap hari berusaha menjadi sedikit lebih sadar daripada hari kemarin.
Akhir: Perjalanan yang Tidak Pernah Selesai
Perjalanan menjadi manusia utuh tidak memiliki garis akhir.
Ia bukan perlombaan.
Ia bukan pencapaian yang bisa dipamerkan.
Ia adalah cara hidup.
Setiap hari kita diberi kesempatan untuk lahir kembali.
Bukan dengan mengganti nama, pekerjaan, atau alamat.
Melainkan dengan membuka mata sedikit lebih lebar daripada kemarin.
Dengan memahami diri sedikit lebih dalam.
Dengan mencintai kehidupan sedikit lebih tulus.
Dan mungkin, ketika semua itu terjadi, kita akan mengerti mengapa para sufi sering berkata,
"Aku mencari Tuhan, lalu aku menemukan diriku. Aku mencari diriku, lalu aku menemukan Tuhan."
Barangkali keduanya memang tidak pernah benar-benar terpisah.
Karena perjalanan menuju Tuhan, pada akhirnya, selalu dimulai dari perjalanan pulang kepada diri sendiri.
