: Dirja Wiharja
Benarkah Anda yakin dengan agama yang Anda anut saat ini?
Pernahkah muncul keraguan yang jujur dalam diri Anda?
Dalam keheningan yang tidak diketahui siapa pun.
Dalam kesendirian yang tak tersentuh sorak-sorai kelompok.
Dalam ruang batin yang bahkan tidak dapat Anda sembunyikan dari diri sendiri.
Pada mulanya, saya tidak mencari jawaban.
Saya mencari pertanyaan.
Saya tidak terburu-buru menerima penjelasan.
Saya justru menyambut setiap jawaban dengan pertanyaan baru.
Dan setiap pertanyaan melahirkan pertanyaan berikutnya.
Terus-menerus.
Tanpa henti.
Mungkin sampai mati.
"Tuhan itu siapa?"
Dialah yang menciptakan langit dan bumi.
"Bagaimana Dia menciptakannya?"
Dengan ilmu-Nya.
"Dari mana ilmu itu berasal?"
Karena Dia adalah sumber segala ilmu.
"Apakah Tuhan mengetahui segala sesuatu?"
Ya.
"Tentang saya juga?"
Tentu.
Tidak ada satu pun yang luput dari pengetahuan-Nya.
"Kalau begitu, mengapa saya tidak melihat-Nya?"
Karena Tuhan bersifat gaib.
"Apa itu gaib?"
Sesuatu yang tidak dapat dilihat.
"Kalau tidak dapat dilihat, apa bedanya dengan tidak ada?"
Tidak.
Justru yang paling hakiki sering kali tidak terlihat.
Yang terlihat akan berubah dan musnah.
Yang hakiki adalah yang tetap dan abadi.
"Dari mana kita mengetahui semua itu?"
Karena Tuhan mewahyukannya kepada para nabi.
"Nabi itu siapa?"
Manusia pilihan yang menerima wahyu dan menyampaikannya kepada umat manusia.
"Dari mana kita tahu bahwa wahyu itu benar-benar berasal dari Tuhan?"
Karena hal itu dijelaskan dalam kitab suci.
"Bagaimana saya tahu bahwa kitab suci itu memang berisi wahyu Tuhan?"
Karena sejarah mencatatnya.
Karena generasi demi generasi mempercayainya.
"Apakah sesuatu menjadi benar hanya karena banyak orang mempercayainya?"
Tidak selalu.
"Kalau begitu, bagaimana kita membuktikannya?"
Para pengikut nabi mempercayai bahwa beliau menerima wahyu.
"Mengapa mereka percaya?"
Karena mereka mengenal beliau sebagai pribadi yang jujur dan terpercaya.
"Tetapi bukankah kepercayaan berbeda dengan pembuktian?"
Pertanyaan tidak pernah habis.
Setiap jawaban adalah rahim yang melahirkan pertanyaan baru.
Setiap kepastian menyimpan ruang yang belum selesai dijelaskan.
Setiap penjelasan membuka pintu menuju penjelasan berikutnya.
Begitulah pikiran bekerja.
Begitulah kesadaran bertumbuh.
Dan mungkin karena itulah sejarah pemikiran manusia tidak pernah benar-benar selesai.
Lalu saya mulai menyadari sesuatu.
Mungkin keyakinan bukanlah lawan dari pertanyaan.
Mungkin justru pertanyaan adalah jalan menuju keyakinan.
Tetapi keyakinan yang lahir terlalu cepat sering kali hanya merupakan warisan.
Bukan penemuan.
Sedangkan keyakinan yang lahir setelah pergulatan panjang memiliki akar yang lebih dalam.
Karena ia telah berhadapan dengan keraguan.
Telah melewati penolakan.
Telah diuji oleh pertanyaan.
Saya sulit menerima bahwa keyakinan harus dibangun dengan membungkam pertanyaan.
Sebab pertanyaan adalah napas akal.
Dan akal yang berhenti bertanya perlahan kehilangan kemampuannya untuk memahami.
Jika suatu keyakinan runtuh hanya karena sebuah pertanyaan, mungkin yang rapuh bukan pertanyaannya.
Melainkan keyakinannya.
Karena itu saya selalu merasa bahwa keyakinan bukanlah kata pertama.
Keyakinan adalah kata terakhir.
Sedangkan kata pertama adalah pertanyaan.
Bukankah manusia lahir dengan bertanya?
Dan bukankah setiap keyakinan pada akhirnya adalah jawaban yang dianggap cukup atas pertanyaan-pertanyaan yang pernah mengusiknya?
Semakin banyak saya menghirup udara kehidupan,
Semakin banyak saya belajar.
Semakin banyak saya membaca,
Semakin banyak saya menemukan pertanyaan.
Semakin jauh saya berjalan,
Semakin saya menyadari betapa sedikit yang saya ketahui.
Semakin saya mencari kepastian,
Semakin saya menemukan luasnya ketidakpastian.
Dan pada akhirnya, ada satu hal yang hingga kini sulit saya bantah.
Satu hal yang justru tampak paling pasti di tengah segala ketidakpastian.
Bukan bahwa saya telah menemukan seluruh kebenaran.
Bukan bahwa saya telah mencapai keyakinan yang sempurna.
Melainkan bahwa saya masih terus meragukan.
Masih terus bertanya.
Masih terus mencari.
Dan mungkin itulah satu-satunya keyakinan yang benar-benar dapat saya pertanggungjawabkan saat ini:
Bahwa saya sedang meragukan hampir segala sesuatu.
Namun jika keraguan adalah titik awal pencarian kebenaran, lalu manakah yang lebih dekat kepada kebenaran: mereka yang terus bertanya karena belum menemukan jawaban, atau mereka yang berhenti bertanya karena merasa telah menemukannya?