Dirja Wiharja


Banyak yang mencintai dan akhirnya memutuskan untuk menikah berangkat dari alasan: karena dia cantik atau ganteng; karena dia kaya atau mapan; karena dia alim-relijius atau sholeh-sholehah; karena dia keturunan bangsawan; dan seterusnya. Padahal sebelum semua itu, kita seharusnya mengintrogasi diri kita dulu dengan bertanya: "Apakah nalarnya beres? Apakah ia bisa mengontrol dirinya? Apakah cara berpikirnya sehat?"

Pertanyaan-pertanyaan ini menurut saya yang akan paling menentukan umur dan masa depan sebuah pernikahan.

Kita hidup dalam budaya yang terlalu mengagungkan narasi cinta. Film, drakor, dracin, sinetron, novel, lagu, dan berbagai narasi populer mengajarkan bahwa cinta adalah fondasi utama sebuah hubungan. Seolah-olah selama dua orang saling mencintai, semua persoalan akan terselesaikan dengan sendirinya.

Padahal kehidupan tidak bekerja seperti cerita romantis. Realitas hidup tidak sesederhana itu. 

Pernikahan bukanlah peristiwa yang berlangsung seperti di dalam puisi cinta yang penuh rayuan gombal-gembel. Pernikahan berlangsung di ruang nyata: di antara tagihan bulanan, anak yang sakit, pekerjaan yang melelahkan, konflik keluarga, perbedaan pandangan, keterbatasan ekonomi, dan berbagai persoalan yang menuntut komunikasi serius dan keputusan rasional setiap hari.

Masalah-masalah itu tidak mungkin dengan sendirinya selesai begitu saja oleh cinta semata.

Cinta memang dapat membuat seseorang bertahan menghadapi kesulitan. Namun, cinta tidak otomatis menunjukkan bagaimana kesulitan itu harus diselesaikan. Di sinilah nalar mengambil peran penting yang tidak tergantikan.

Nalar adalah kemampuan melihat persoalan sebagaimana adanya, bukan sebagaimana yang diinginkan ego. Ia adalah kemampuan membedakan fakta dari prasangka, solusi dari pelampiasan emosi, serta kenyataan dari fantasi.

Ketika konflik muncul dalam rumah tangga, yang dibutuhkan bukan hanya perasaan saling mencintai, melainkan kemampuan berpikir bersama. Kemampuan mendengar argumen. Kemampuan mengakui kesalahan. Kemampuan menurunkan volume ego demi menemukan jalan keluar yang lebih baik.

Tanpa itu, hubungan sering berubah menjadi arena pertarungan perasaan hingga perang ludah.

Setiap perbedaan pendapat dianggap serangan pribadi. Setiap kritik akan dianggap sebagai bentuk penghinaan. Setiap masalah dibalas dengan kemarahan, pembelaan diri, atau drama emosional yang tidak pernah menyentuh akar persoalan.

Dalam kondisi seperti itu, cinta tidak bisa dipakai untuk menghilangkan permasalahan dan penderitaan. Bahkan terkadang cinta justru membuat seseorang terpaksa bertahan terlalu lama dalam hubungan toxic yang merusak mental dan dirinya sendiri.

Karena itu, memilih pasangan pada hakikatnya bukan hanya memilih seseorang yang membuat kita bahagia hari ini. Memilih pasangan bukan seperti orang yang memilih makanan, karena kelihatan enak atau sesuai seleranya. Memilih pasangan adalah memilih seseorang yang akan bersama kita menghadapi kenyataan setiap hari yang akan berlangsung selama puluhan tahun. Selama kita masih hidup. 

Dan sekali lagi, dalam menjalani hidup, kenyataan selalu menuntut kemampuan bernalar.

Tentu nalar bukan segalanya. Manusia bukan mesin logika. Kita juga membutuhkan kasih sayang, empati, kelembutan, dan kehangatan emosional. Namun semua kualitas itu akan kehilangan arah bila tidak ditopang oleh kemampuan berpikir yang sehat.

Perasaan yang tidak dipandu nalar mudah berubah menjadi impulsivitas. Cinta yang tidak dipandu nalar mudah berubah menjadi ketergantungan. Kesetiaan yang tidak dipandu nalar mudah berubah menjadi pembenaran terhadap penderitaan. Rela menderita demi cinta. Ini pikiran yang keliru menurut saya. Bodoh, bahkan!

Manusia yang baik bukanlah manusia yang hanya memiliki hasrat yang kuat atau akal yang kuat, melainkan manusia yang mampu menempatkan keduanya dalam harmoni. Akal memperingatkan dan mengarahkan, perasaan menghidupkan. Akal menunjukkan jalan, perasaan memberi alasan untuk berjalan dengan penuh penghayatan.

Rumah tangga yang sehat lahir dari pertemuan dua orang yang mampu melakukan keduanya. Saling mengisi, saling menasehati, saling bekerjasama untuk menjadi manusia yang utuh.

Maka sebelum bertanya apakah seseorang mencintai Anda, justru pertanyaan yang lebih penting: apakah ia mampu berpikir jernih ketika marah? Apakah ia dapat membedakan fakta dan asumsi? Apakah ia mampu menerima kritik? Apakah ia dapat berdiskusi tanpa merasa harga dirinya terancam?

Karena pada akhirnya, sebagian besar masalah rumah tangga tidak muncul akibat kurangnya cinta. Sebagian besar masalah muncul karena ketidakmampuan mengelola realitas secara rasional.

Cinta membuat dua orang ingin hidup bersama.

Tetapi nalar yang sehat membuat mereka mampu tetap bersama ketika kehidupan mulai menunjukkan wajahnya yang sebenarnya.

Maka bila Anda ingin mencintai seseorang, cintailah juga cara berpikirnya. Sebab wajah akan menua, emosi akan berubah, keadaan akan berganti, tetapi kualitas nalar seseorang akan menentukan cara ia bersikap, bagaimana ia menghadapi seluruh perubahan itu. Poinnya: Carilah pasangan yang nalarnya beres!

Dan tidak ada yang lebih berharga dalam sebuah pernikahan selain menemukan seseorang yang mampu berpikir jernih bersama Anda ketika negara sedang tidak baik-baik saja. Apalagi kalau presidenmu Prabowo dan wakil presidenmu adalah Gibran. Ups!