Banyak orang memilih pasangan dengan bertanya: "Apakah dia mencintaiku?" Padahal ada pertanyaan lain yang sering kali jauh lebih menentukan nasib sebuah pernikahan: "Apakah cara berpikirnya sehat?"
Pertanyaan pertama menggerakkan hati. Pertanyaan kedua menentukan masa depan.
Kita hidup dalam budaya yang terlalu mengagungkan cinta. Film, novel, lagu, dan berbagai narasi populer mengajarkan bahwa cinta adalah fondasi utama sebuah hubungan. Seolah-olah selama dua orang saling mencintai, semua persoalan akan terselesaikan dengan sendirinya.
Padahal kehidupan tidak bekerja seperti cerita romantis.
Pernikahan bukanlah peristiwa yang berlangsung di dalam puisi. Pernikahan berlangsung di ruang nyata: di antara tagihan bulanan, anak yang sakit, pekerjaan yang melelahkan, konflik keluarga, perbedaan pandangan, keterbatasan ekonomi, dan berbagai persoalan yang menuntut keputusan setiap hari.
Masalah-masalah itu tidak selesai oleh cinta semata.
Cinta dapat membuat seseorang bertahan menghadapi kesulitan. Namun, cinta tidak otomatis menunjukkan bagaimana kesulitan itu harus diselesaikan. Di sinilah nalar mengambil peran yang tidak tergantikan.
Nalar adalah kemampuan melihat persoalan sebagaimana adanya, bukan sebagaimana yang diinginkan ego. Ia adalah kemampuan membedakan fakta dari prasangka, solusi dari pelampiasan emosi, serta kenyataan dari fantasi.
Ketika konflik muncul dalam rumah tangga, yang dibutuhkan bukan hanya perasaan saling mencintai, melainkan kemampuan berpikir bersama. Kemampuan mendengar argumen. Kemampuan mengakui kesalahan. Kemampuan menunda ego demi menemukan jalan keluar yang lebih baik.
Tanpa itu, hubungan sering berubah menjadi arena pertarungan perasaan.
Setiap perbedaan pendapat dianggap serangan pribadi. Setiap kritik dianggap penghinaan. Setiap masalah dibalas dengan kemarahan, pembelaan diri, atau drama emosional yang tidak pernah menyentuh akar persoalan.
Dalam kondisi seperti itu, cinta tidak menghilangkan penderitaan. Bahkan terkadang cinta justru membuat seseorang bertahan terlalu lama dalam hubungan yang merusak dirinya sendiri.
Karena itu, memilih pasangan pada hakikatnya bukan hanya memilih seseorang yang membuat kita bahagia hari ini. Memilih pasangan adalah memilih seseorang yang akan bersama kita menghadapi kenyataan selama puluhan tahun.
Dan kenyataan selalu menuntut kemampuan bernalar.
Tentu nalar bukan segalanya. Manusia bukan mesin logika. Kita membutuhkan kasih sayang, empati, kelembutan, dan kehangatan emosional. Namun semua kualitas itu akan kehilangan arah bila tidak ditopang oleh kemampuan berpikir yang sehat.
Perasaan yang tidak dipandu nalar mudah berubah menjadi impulsivitas. Cinta yang tidak dipandu nalar mudah berubah menjadi ketergantungan. Kesetiaan yang tidak dipandu nalar mudah berubah menjadi pembenaran terhadap penderitaan.
Filsuf Yunani kuno pernah beranggapan bahwa manusia yang baik bukanlah manusia yang hanya memiliki hasrat yang kuat atau akal yang kuat, melainkan manusia yang mampu menempatkan keduanya dalam harmoni. Akal mengarahkan, perasaan menghidupkan. Akal menunjukkan jalan, perasaan memberi alasan untuk berjalan.
Rumah tangga yang sehat lahir dari pertemuan dua orang yang mampu melakukan keduanya.
Maka sebelum bertanya apakah seseorang mencintai Anda, mungkin ada pertanyaan yang lebih penting: apakah ia mampu berpikir jernih ketika marah? Apakah ia dapat membedakan fakta dan asumsi? Apakah ia mampu menerima kritik? Apakah ia dapat berdiskusi tanpa merasa harga dirinya terancam?
Karena pada akhirnya, sebagian besar masalah rumah tangga tidak muncul akibat kurangnya cinta. Sebagian besar masalah muncul karena ketidakmampuan mengelola realitas secara rasional.
Cinta membuat dua orang ingin hidup bersama.
Tetapi nalar yang sehat membuat mereka mampu tetap bersama ketika kehidupan mulai menunjukkan wajahnya yang sebenarnya.
Maka bila Anda ingin mencintai seseorang, cintailah juga cara berpikirnya. Sebab wajah akan menua, emosi akan berubah, keadaan akan berganti, tetapi kualitas nalar seseorang akan menentukan bagaimana ia menghadapi seluruh perubahan itu.
Dan tidak ada hadiah yang lebih berharga dalam sebuah pernikahan selain menemukan seseorang yang mampu berpikir jernih bersama Anda ketika dunia sedang tidak baik-baik saja. Apalagi kalau Presidenmu Prabowo dan wakil presidenmu adalah Gibran. Ups!
