Dalam tradisi masyarakat Bugis, pernikahan bukan sekadar ikatan antara dua insan, melainkan sebuah perjumpaan jiwa yang disebut siala—saling mengambil dan saling menerima satu sama lain. Di dalamnya terkandung kesediaan untuk menerima kelebihan dan kekurangan pasangan, hingga lahir kesadaran bahwa “aku menjadi kau, dan kau menjadi aku”; dua pribadi yang berbeda melebur menjadi satu kehidupan. Semangat itu juga tercermin dalam nilai sibali perri, yakni sama-sama menanggung dan merasakan penderitaan, serta berbagi kebahagiaan dalam setiap perjalanan hidup. Namun, seiring perkembangan zaman, makna sederhana tetapi sangat berharga tersebut semakin hilang dalam rangkaian tradisi yang dikenal sebagai mappabbotting, yaitu keseluruhan proses upacara pernikahan Bugis yang sarat adat, simbol, dan berbagai tahapan pelaksanaan.

Mappabbotting. Sebuah panggung sosial mewah-megah-meriah yang melibatkan keluarga besar, gengsi, status, tradisi, ekspektasi masyarakat, bahkan kompetisi simbolik, yang walaupun tidak pernah diumumkan secara resmi. Itulah yang terjadi. Akibatnya, pernikahan sering kali tidak lagi menjadi perayaan cinta, doa dan komitmen, melainkan proyek besar yang menyita tenaga, menguras pikiran, dan menghabiskan uang dalam jumlah yang tidak sedikit.

Pertanyaan filosofis yang layak diajukan adalah: untuk siapa sebenarnya semua itu dilakukan?

Apakah untuk kebahagiaan pengantin? Untuk masa depan rumah tangga? Untuk memenuhi nilai-nilai luhur budaya? Atau hanya agar tetangga tidak punya bahan gosip selama beberapa minggu?

Pertanyaan ini mungkin terdengar sarkastik, tetapi justru di situlah letak persoalannya. 

Tradisi Yang Begitu Merepotkan?

Semua budaya lahir dari kebutuhan manusia. Tidak ada budaya yang muncul begitu saja, atau turun dari langit dalam bentuk final. Budaya adalah ciptaan manusia untuk membantu kehidupan menjadi lebih semarak dan bermakna.

Namun sesuatu yang diciptakan untuk membantu bisa berubah menjadi beban ketika manusia mulai mengabdi kepada budaya, bukan budaya yang melayani manusia.

Banyak keluarga terpaksa berutang demi pesta pernikahan. Banyak pasangan menunda pernikahan bertahun-tahun karena uang panaik yang dianggap belum cukup. Bahkan ada yang membatalkan hubungan yang sehat hanya karena tidak mampu memenuhi standar ekonomi yang dipasang oleh lingkungan sosial.

Ironisnya, setelah semua perjuangan itu selesai, pesta yang menghabiskan ratusan juta rupiah hanya berlangsung beberapa jam. Tamu datang, makan, menonton electone cayya-cayya, berfoto, pulang. Besoknya kursi disusun kembali, tenda dibongkar, dekorasi dibuang.

Yang tersisa adalah tagihan. Utang, Barangkali.

Di sinilah kita perlu bertanya, benar-benar bertanya, bersungguh-sungguh bertanya: apakah nilai suatu pernikahan benar-benar ditentukan oleh biaya yang dihabiskan dalam satu hari?

Uang Panaik: Simbol Penghargaan atau Kompetisi Status?

Secara historis, uang panaik memiliki makna penghormatan kepada keluarga perempuan. Dalam konteks tertentu, ia merepresentasikan kesungguhan dan tanggung jawab calon suami.

Namun dalam praktik modern, tidak jarang makna simbolik itu bergeser menjadi pertandingan gengsi. Liga ego!

Besaran uang panaik sering kali tidak lagi dihitung berdasarkan kebutuhan riil atau kemampuan kedua belah pihak, tetapi berdasarkan pertanyaan yang sangat berbahaya:

"Nanti orang bilang apa?"

Kalimat pendek ini mungkin adalah salah satu sumber penderitaan terbesar dalam kehidupan sosial masyarakat.

Karena takut pada komentar orang lain, keluarga rela menjual aset. Karena takut dianggap rendah, pasangan memulai rumah tangga dengan beban utang. Karena takut kehilangan muka, masa depan dikorbankan demi satu hari pertunjukan sosial.

Padahal orang-orang yang dijadikan alasan itu tidak akan ikut membayar cicilan dan kebutuhan rumah tangga pasca pesta selesai.

Filsafat "Apa Kata Orang"

Inilah fenomena menarik dalam masyarakat tradisional maupun modern: manusia sering kali lebih takut pada penilaian sosial daripada kenyataan hidup itu sendiri.

Seorang pasangan mungkin tahu bahwa mereka lebih membutuhkan rumah daripada pelaminan mewah.

Mereka tahu bahwa modal usaha lebih penting daripada dekorasi bunga yang hanya digunakan satu hari.

Mereka tahu bahwa tabungan pendidikan anak lebih urgen daripada ribuan foto tamu yang bahkan mungkin tidak mereka kenal dekat.

Tetapi mereka tetap mengikuti arus.

Mengapa?

Karena tekanan sosial.

Filsuf Prancis Michel Foucault menjelaskan bahwa manusia sering dikendalikan bukan oleh kekuatan fisik, melainkan oleh pengawasan sosial yang tidak terlihat. Kita menjadi penjaga bagi diri sendiri karena takut dinilai oleh orang lain.

Akibatnya, masyarakat menciptakan penjara yang tidak memiliki tembok.

Namanya: gengsi.

Ritual yang Kehilangan Tujuan

Tidak semua ritual harus dihapus.

Ritual memiliki fungsi penting. Ia memberi makna, identitas, dan kesinambungan budaya.

Masalah muncul ketika orang tidak lagi memahami tujuan ritual, tetapi tetap melaksanakannya secara mekanis.

Seperti seseorang yang membawa koper kosong ke mana-mana hanya karena leluhurnya dulu membutuhkan koper.

Banyak properti, tahapan, dan simbol dalam pernikahan mungkin dahulu relevan dengan kondisi sosial tertentu. Namun tidak semua harus dipertahankan secara utuh jika konteksnya sudah berubah.

Kebijaksanaan bukanlah mempertahankan semua warisan masa lalu.

Kebijaksanaan adalah membedakan mana yang masih bernilai dan mana yang hanya menjadi beban.

Tradisi yang sehat selalu mampu beradaptasi.

Tradisi yang mati adalah tradisi yang memaksa manusia menderita demi mempertahankan bentuknya.

Logika Taroni metti, ko pura moi rEdE

Ada ironi yang cukup menyedihkan.

Banyak pasangan muda tidak memiliki rumah.

Tidak memiliki dana darurat.

Tidak memiliki investasi.

Tidak memiliki modal usaha.

Tetapi memiliki pesta pernikahan yang sangat mewah.

"Taroni metti, ko pura moi rEdE"

Seolah-olah masyarakat berkata:

"Kami tidak peduli bagaimana hidupmu besok. Yang penting hari ini terlihat sukses."

Ini adalah logika yang aneh.

Bayangkan jika sebagian besar uang panaik dan biaya pesta dialihkan untuk:

  • DP rumah pertama.

  • Modal usaha keluarga.

  • Dana pendidikan anak.

  • Dana kesehatan.

  • Investasi produktif.

  • Dana darurat rumah tangga.

Manfaatnya bisa dirasakan selama puluhan tahun.

Sebaliknya, pesta mewah biasanya hanya menghasilkan kenangan, foto, dan kejaran debt collector.

Kenangan memang penting.

Tetapi rumah yang bisa ditempati juga penting.

Apa yang Sebenarnya Esensial dalam Pernikahan?

Jika seluruh lapisan budaya, dekorasi, adat, pakaian, dan simbol dilepas satu per satu, apa yang tersisa?

Yang tersisa adalah inti pernikahan itu sendiri:

Dua manusia yang berjanji saling menjaga.

Dua keluarga yang saling menghormati.

Komitmen untuk hidup bersama.

Tanggung jawab.

Kesetiaan.

Kasih sayang.

Kerja sama.

Itulah fondasi rumah tangga.

Tidak ada satu pun dari nilai tersebut yang otomatis bertambah karena jumlah tamu mencapai ribuan orang.

Tidak ada kesetiaan yang meningkat karena pelaminan lebih mahal.

Tidak ada cinta yang menjadi lebih kuat karena dekorasi lebih megah.

Budaya yang Memanusiakan

Kritik terhadap sebagian praktik budaya bukan berarti membenci budaya.

Justru sebaliknya.

Budaya yang baik adalah budaya yang membuat manusia lebih sejahtera, lebih bermartabat, dan lebih bebas.

Jika sebuah tradisi membuat orang berutang, stres, menunda pernikahan bertahun-tahun, atau menghancurkan masa depan ekonomi keluarga muda, maka tradisi itu layak dievaluasi.

Budaya tidak boleh menjadi berhala.

Budaya harus menjadi alat kebijaksanaan.

Masyarakat Bugis memiliki warisan nilai yang sangat luhur: siri', tanggung jawab, kehormatan, keberanian, dan harga diri.

Namun harus dipahami bahwa harga diri tidak sama dengan gengsi.

Kehormatan tidak sama dengan kemewahan.

Martabat tidak sama dengan kemahalan.

Dan cinta tidak pernah diukur dari jumlah uang yang dikeluarkan dalam satu hari resepsi.

Di tengah penghormatan saya terhadap tradisi, ada kalanya saya merasa muak dan marah melihat bagaimana pernikahan dalam masyarakat Bugis dijalankan hari ini. Perasaan itu bukan karena saya membenci adat, melainkan karena saya menyaksikan sendiri beban yang harus dipikul oleh orang-orang yang paling mencintai mempelai. Saya kasihan melihat ibu dan bapak saya yang harus direpotkan oleh begitu banyak urusan. Saya juga sedih melihat ibu dan bapak mertua saya kehilangan waktu istirahat dan tidurnya demi memastikan semua rangkaian acara berjalan lancar. Lebih dari itu, saya merasa iba kepada banyak orang tua yang harus bekerja tanpa henti, menguras tenaga, pikiran, bahkan kesehatan mereka hanya untuk memenuhi tuntutan sebuah pesta. 

Pengalaman-pengalaman inilah yang membuat saya membaca dan merenungkan kembali hakikat pernikahan. Jika tujuan pernikahan adalah menyatukan dua insan dalam ikatan yang sah, menghadirkan ketenteraman, serta membangun keluarga yang penuh kasih sayang, mengapa jalan menuju ke sana justru sering dipenuhi kerumitan yang membebani banyak orang? Pertanyaan itu kemudian membawa saya pada kesadaran bahwa agama sesungguhnya menawarkan sesuatu yang jauh lebih sederhana daripada yang sering kita praktikkan.

Menurut yang saya pahami, justru pernikahan dalam Islam sesungguhnya dibangun di atas prinsip yang sederhana dan memudahkan. Rukun dan syaratnya tidaklah rumit: adanya calon mempelai, wali, dua orang saksi, mahar yang dengannya beserta keridhaan calon mempelai wanita, serta ijab dan kabul yang mengesahkan ikatan tersebut. Kesederhanaan ini menunjukkan bahwa yang paling utama bukanlah kemegahan prosesi, melainkan kesungguhan niat untuk membangun rumah tangga yang saling menerima, saling menguatkan, dan saling membersamai dalam suka maupun duka. Karena itu, di tengah berkembangnya berbagai tradisi dan tuntutan sosial dalam pelaksanaan mappabbotting, esensi pernikahan sebaiknya tetap berpijak pada nilai siala dan sibali perri—dua insan yang bersepakat untuk berjalan bersama, berbagi beban, dan merawat kebahagiaan hingga akhir hayat.

Sepakat tidak sepakat, dE' ga ga urusang. Iko mani bawang.

Demikiang!