: Dirja Wiharja




Sebuah Kritik tentang Otoritas, Kebebasan, dan Kedewasaan Spiritual

Mengapa saya mengatakan bahwa Islam, setidaknya dalam bentuk pemahaman yang sering saya temui, tampak seperti agama yang diperuntukkan bagi anak-anak?

Tunggu dulu.

Jangan buru-buru marah.

Karena yang sedang saya kritik bukanlah keberadaan Islam sebagai agama, melainkan cara sebagian orang memahaminya.


Dalam banyak literatur keagamaan populer, Islam sering dipresentasikan sebagai sistem kehidupan yang mengatur hampir seluruh aspek eksistensi manusia.

Mulai dari bangun tidur hingga kembali tidur.

Mulai dari cara makan, berpakaian, berjalan, berbicara, hingga cara berinteraksi dengan masyarakat.

Bahkan untuk berbagai aktivitas sehari-hari telah tersedia doa-doa yang dianjurkan untuk dibaca.

Doa ketika bangun.

Doa ketika tidur.

Doa ketika makan.

Doa ketika bepergian.

Doa ketika memulai pekerjaan.

Doa ketika menghadapi kesulitan.

Hampir seluruh ruang kehidupan tampak telah diberi petunjuk, aturan, dan panduan.

Bagi sebagian orang, hal itu dipandang sebagai kesempurnaan agama.

Karena agama dianggap hadir sebagai pedoman hidup yang lengkap.

Sebagai "manual kehidupan" yang berasal dari Tuhan.


Namun dari sudut pandang lain, muncul pertanyaan yang mengganggu saya.

Apakah kehidupan manusia memang harus diatur sedetail itu?

Apakah kedewasaan spiritual berarti selalu mengikuti petunjuk yang telah tersedia?

Ataukah justru kedewasaan spiritual menuntut keberanian untuk berpikir, memilih, dan bertanggung jawab atas pilihannya sendiri?

Di sinilah kegelisahan saya bermula.

Karena ketika segala sesuatu telah ditentukan, dijelaskan, dan diarahkan secara rinci, saya melihat adanya risiko berkurangnya ruang bagi kreativitas eksistensial manusia.

Ruang untuk bereksperimen.

Ruang untuk bertanya.

Ruang untuk salah.

Ruang untuk menemukan makna melalui perjalanan pribadi.


Dalam pengalaman saya, sebagian orang memahami agama bukan sebagai undangan untuk bertumbuh, melainkan sebagai daftar instruksi yang harus dipatuhi.

Jika taat, mendapat hadiah.

Jika melanggar, mendapat hukuman.

Struktur seperti ini mengingatkan saya pada cara mendidik anak-anak.

Anak diarahkan melalui sistem penghargaan dan ancaman.

Anak belum dianggap mampu menentukan arah hidupnya sendiri.

Karena itu ia membutuhkan pengawasan yang ketat.

Pertanyaannya:

Apakah pola semacam itu memang dimaksudkan untuk selamanya?

Ataukah hanya tahap awal dalam perkembangan spiritual manusia?


Saya sering mendengar ungkapan:

"Kenalilah dirimu, maka engkau akan mengenal Tuhanmu."

Kalimat itu terdengar sangat dalam.

Karena ia mengisyaratkan perjalanan ke dalam diri.

Sebuah eksplorasi kesadaran.

Sebuah pencarian yang personal.

Namun saya juga melihat adanya paradoks.

Di satu sisi manusia diajak mengenal dirinya.

Di sisi lain, banyak aspek kehidupan telah ditentukan terlebih dahulu oleh otoritas yang berada di luar dirinya.

Maka saya bertanya:

Sejauh mana seseorang benar-benar diberi ruang untuk menjadi dirinya sendiri?

Dan sejauh mana ia hanya sedang menjadi versi yang telah ditentukan oleh tradisi?


Saya juga sering mendengar bahwa agama diperuntukkan bagi orang-orang yang menggunakan akalnya.

Namun dalam praktiknya, tidak jarang muncul batas-batas yang membuat pertanyaan tertentu dianggap berbahaya.

Ada wilayah yang boleh dipikirkan.

Ada wilayah yang tidak boleh disentuh.

Ada pertanyaan yang diterima.

Ada pertanyaan yang dianggap ancaman.

Dan ketika pertanyaan mulai dibatasi, saya merasa ada sesuatu yang perlu direnungkan.

Karena sepanjang yang saya pahami, manusia berpikir dengan akalnya.

Akal adalah instrumen untuk memahami.

Sedangkan hati adalah ruang untuk merasakan, mencintai, dan mengalami.

Keduanya memiliki wilayahnya masing-masing.


Karena itu, kritik saya sebenarnya sederhana.

Bukan terhadap Islam semata.

Melainkan terhadap setiap sistem keyakinan yang terlalu sibuk mengatur manusia hingga manusia kehilangan kesempatan untuk bertumbuh secara mandiri.

Karena tujuan pendidikan bukanlah menciptakan anak-anak yang selamanya bergantung.

Melainkan manusia dewasa yang mampu berpikir dan bertanggung jawab.

Begitu pula, saya bertanya-tanya:

Apakah tujuan agama adalah menciptakan manusia yang selalu membutuhkan petunjuk?

Ataukah menciptakan manusia yang pada akhirnya mampu berdiri di atas kesadarannya sendiri?


Mungkin saya keliru.

Mungkin saya hanya belum memahami semuanya.

Tetapi satu pertanyaan tetap mengganggu saya:

Jika Tuhan benar-benar menganugerahkan akal kepada manusia untuk digunakan, mengapa dalam banyak kesempatan manusia justru dianggap paling saleh ketika berhenti mempertanyakan apa yang diperintahkan kepadanya?

Dan jika kedewasaan berarti kemampuan untuk berpikir sendiri, maka pada titik manakah kepatuhan berubah menjadi kebijaksanaan, dan pada titik manakah ia justru berubah menjadi ketergantungan?