: Dirja Wiharja




ISLAM adalah Milik Kehidupan;

Milik Semua Agama, Milik Semua Umat Manusia

Awas!

Ini adalah arung jeram pemikiran.

Anak-anak dilarang masuk.

Sebelum melanjutkan membaca tulisan ini, sebaiknya periksa terlebih dahulu akal sehat Anda. Jika tidak, Anda bisa mengalami kecelakaan pemahaman hingga pendarahan serius di wilayah pemikiran.

Karena itu, saya tidak pernah menyarankan siapa pun untuk tancap gas membaca tulisan ini tanpa kewaspadaan.

Silakan berhenti selagi Anda belum terjebak dan terperosok ke dalam kesalahan berpikir.


Ini hanyalah hasil meditasi panjang di kamar kesunyian saya.

Sebuah perenungan yang mungkin keliru.

Sebuah kemungkinan yang mungkin juga mengandung secercah kebenaran.

Bahwa pada hakikatnya, semua agama adalah Islam.

Tentu dengan satu syarat penting:

Jika Islam dipahami bukan sebagai identitas formal sebuah agama, melainkan sebagai nilai universal yang melampaui ruang dan waktu.

Islam, dalam pengertian ini, bukan sekadar nama.

Bukan sekadar label.

Bukan sekadar institusi.

Melainkan sebuah spirit.

Sebuah roh universal yang menyelinap dalam kehidupan.

Sebuah orientasi menuju kebenaran, keadilan, kasih sayang, dan ketundukan pada Realitas Yang Lebih Tinggi.

Sebuah sistem nilai yang telah "tertanam" dalam mekanisme kehidupan itu sendiri.


Jika visi terdalam semua agama adalah pencarian akan Kebenaran Universal, maka seluruh agama, pada tingkat tertentu, sedang bergerak menuju nilai-nilai yang saya sebut sebagai Islam.

Di level hakikat, yang dicari adalah nilai yang sama.

Namun di level lahiriah, di level sejarah, budaya, bahasa, simbol, dan tradisi, nilai-nilai itu menjelma dalam bentuk yang berbeda-beda.

Maka muncullah agama-agama.

Ada Islam.

Ada Kristen.

Ada Yahudi.

Ada Buddha.

Ada Hindu.

Ada Konghucu.

Dan berbagai bentuk penghayatan spiritual lainnya.

Mereka berbeda dalam bahasa.

Berbeda dalam simbol.

Berbeda dalam ritual.

Namun semuanya berangkat dari kegelisahan yang sama:

Bagaimana manusia menemukan makna, kebenaran, dan jalan hidup yang baik?


Dalam perenungan saya:

Islam adalah ciptaan Tuhan.

Sedangkan agama adalah ciptaan manusia.

Manusia membangun agama sebagai wadah untuk menampung, merawat, dan menerjemahkan nilai-nilai yang diyakininya berasal dari Yang Ilahi.

Dengan kata lain:

Islam berada di langit.

Agama berada di bumi.

Islam adalah inspirasi.

Agama adalah interpretasi.

Islam adalah samudra.

Agama adalah pelabuhan.

Islam adalah cahaya.

Agama adalah lentera yang mencoba memantulkan cahaya itu.


Karena itu saya melihat hubungan keduanya seperti air dan gelas.

Islam adalah air.

Sedangkan agama-agama adalah gelas-gelas yang berusaha menampung air tersebut.

Bentuk gelas bisa berbeda-beda.

Warnanya bisa berbeda.

Bahannya bisa berbeda.

Namanya bisa berbeda.

Namun dahaga manusia tidak pernah ditujukan kepada gelas.

Yang dicari selalu airnya.


Dalam pengertian ini, Islam bukanlah milik eksklusif agama yang bernama Islam.

Sebagaimana matahari bukan milik satu bangsa.

Sebagaimana udara bukan milik satu kelompok.

Sebagaimana cinta tidak pernah tunduk pada batas-batas identitas.

Maka Islam, sebagai nilai universal, bukan milik satu komunitas.

Bukan milik satu bangsa.

Bukan milik satu agama tertentu.

Melainkan milik kehidupan itu sendiri.

Milik setiap manusia yang mencari kebenaran.

Milik siapa saja yang memperjuangkan keadilan.

Milik siapa saja yang menebarkan kasih sayang.

Milik siapa saja yang tunduk pada suara nurani terdalamnya.


Karena itu, dalam perenungan saya:

ISLAM bukan milik agama Islam.

ISLAM adalah milik kehidupan.

Milik semua agama.

Milik semua umat manusia.


Selamat berpikir.

Dan sebelum buru-buru bertanya agama apa yang paling benar, mungkin ada satu pertanyaan yang lebih mendasar:

Apakah manusia sedang mencari Tuhan melalui agama, atau justru sering kali sibuk mempertahankan agama hingga lupa mencari Tuhan?