: Dirja Wiharja




Maaf.

Sekali lagi, maaf.

Tulisan ini bukan fatwa.

Bukan pula khutbah.

Ini hanya refleksi dan sikap pribadi saya dalam memaknai agama.

Karena itu, jangan membacanya sebagai kebenaran yang wajib diikuti.

Bacalah sebagai kegelisahan yang sedang berpikir keras.

Dan jika iman Anda masih rapuh, mudah tersinggung, atau bergantung pada tepuk tangan kelompok, mungkin lebih baik berhenti sampai di sini.

Sebab tulisan ini tidak pandai berbasa-basi.


Pertama-tama saya ingin bertanya:

Menurut Anda, apakah Islam perlu dibela oleh umat Islam?

Jawablah dengan kesadaran penuh.

Bukan dengan refleks.

Bukan dengan slogan.

Bukan dengan kalimat yang sudah berkali-kali diwariskan tanpa pernah diperiksa kembali.

Jika jawaban Anda adalah:

"Ya, Islam harus dibela."

Maka saya justru ingin bertanya balik:

Dari apa sebenarnya Islam harus dibela?

Dari kritik?

Dari pertanyaan?

Dari perbedaan pendapat?

Atau dari kenyataan bahwa tidak semua orang sepakat dengan keyakinan Anda?


Sebab ketika seseorang berkata bahwa Islam harus dibela, sering kali tanpa sadar ia telah memperlakukan Islam seperti benda rapuh.

Seperti vas bunga yang mudah pecah.

Seperti barang antik yang harus dijaga dari sentuhan.

Seperti berhala yang akan rusak apabila terlalu banyak dipertanyakan.

Maka ia pun marah.

Ia pun mengamuk.

Ia pun merasa wajib menjadi satpam Tuhan.

Menjadi pengacara langit.

Menjadi juru bicara kebenaran yang seolah-olah baru menerima surat kuasa langsung dari surga.

Padahal yang sedang ia bela bukanlah Islam.

Melainkan egonya sendiri yang berlindung di balik nama Islam.


Bagi saya, Islam bukan benda.

Islam bukan patung.

Islam bukan papan nama.

Islam bukan slogan yang diteriakkan melalui pengeras suara.

Islam adalah seperangkat nilai.

Nilai yang hidup atau mati bukan karena dibela, tetapi karena diamalkan.

Nilai yang tidak bisa dibunuh dengan kritik.

Tidak bisa dihancurkan dengan ejekan.

Tidak bisa dibakar dengan api.

Karena sesuatu yang abstrak tidak pernah mati oleh serangan fisik.

Yang bisa mati hanyalah pemahaman manusia tentangnya.


Ironisnya, banyak orang lebih sibuk membela nama Islam daripada mewujudkan nilai-nilai yang mereka klaim sebagai Islam.

Mudah tersinggung.

Mudah marah.

Mudah mengkafirkan.

Mudah mengancam.

Tetapi sulit berlaku adil.

Sulit rendah hati.

Sulit mendengar.

Sulit mengakui kemungkinan dirinya keliru.

Padahal jika Islam memang diyakini sebagai rahmat bagi semesta, maka ukuran keislaman bukanlah volume teriakan.

Bukan panjang jenggot.

Bukan banyaknya simbol.

Melainkan kualitas kemanusiaan.


Aneh sekali.

Manusia yang hidupnya sementara justru sibuk membela sesuatu yang mereka yakini berasal dari Tuhan Yang Mahakuasa.

Seolah-olah Tuhan sedang membutuhkan tim keamanan tambahan.

Seolah-olah kebenaran akan roboh jika tidak dibantu oleh kemarahan manusia.

Seolah-olah Yang Mahakuat sedang menunggu bantuan makhluk yang bahkan tidak mampu menjamin hidupnya sendiri sampai besok pagi.

Bukankah itu paradoks yang lucu?


Mari berpikir sederhana.

Biasanya siapa yang membela?

Yang kuat atau yang lemah?

Tentu yang kuat membela yang lemah.

Lalu mana yang lebih kuat?

Islam atau pemeluknya?

Jika Islam adalah kebenaran yang berasal dari Tuhan, mengapa ia membutuhkan pembelaan emosional dari manusia?

Dan jika Islam memang begitu lemah hingga harus terus-menerus dijaga dari kritik dan pertanyaan, apakah itu masih layak disebut kebenaran?


Menurut saya, kita bukan membela Islam.

Kitalah yang membutuhkan Islam.

Kitalah yang berharap ditolong oleh nilai-nilainya.

Kitalah yang berharap dibimbing oleh kebijaksanaannya.

Kitalah yang membutuhkan arah.

Bukan Islam yang membutuhkan kita.

Karena itu, tugas seorang Muslim bukan membela Islam dengan kemarahan.

Melainkan membuktikan Islam melalui akhlaknya.

Bukan mengamuk ketika keyakinannya dikritik.

Melainkan menunjukkan bahwa keyakinannya memang melahirkan kebijaksanaan.

Sebab nilai yang benar tidak perlu berteriak.

Kebenaran tidak membutuhkan pengeras suara.

Dan cahaya tidak perlu berkelahi dengan kegelapan untuk membuktikan bahwa dirinya terang.


Jadi, bagi saya, Islam tidak membutuhkan pembelaan.

Yang membutuhkan pembelaan justru sering kali adalah ego manusia yang bersembunyi di balik kata "Islam".

Dan mungkin pertanyaan yang paling mengganggu adalah ini:

Ketika Anda merasa sedang membela Islam, benarkah yang sedang Anda bela adalah Islam itu sendiri, atau sebenarnya hanya gambaran Islam yang telah Anda bangun di dalam kepala Anda sendiri?