: Dirja Wiharja
Hati-hati...!!!
Perhatian...!!!
Anak-anak dilarang keras bermain di sini.
Karena tulisan ini licin.
Sangat licin.
Anda bisa saja tergelincir.
Jatuh.
Berdarah.
Lalu menangis sambil meronta-ronta.
Tulisan ini tidak ada kaitannya dengan hasil observasi skripsi saya.
Tetapi setidaknya, inilah hasil pengamatan mata kepala saya sendiri.
Dan sekali lagi, ini hanyalah pendapat saya.
Karena itu, Anda juga tidak perlu jungkir balik untuk menyetujuinya.
Ini adalah pembacaan terhadap realitas.
Bukan kebenaran yang mutlak.
Begini ceritanya.
Dulu saya memahami jilbab sebagai pakaian Islam.
Dalam bayangan saya saat itu, perempuan yang berjilbab pasti memiliki moral yang baik.
Pasti santun.
Pasti lembut tutur katanya.
Pasti menjaga perilakunya.
Pasti bersih pikiran dan tindakannya.
Singkatnya, saya menganggap perempuan berjilbab adalah representasi kesalehan.
Semacam duplikasi ideal dari sosok perempuan salehah yang sering digambarkan dalam ceramah-ceramah agama.
Tetapi semakin banyak membaca, semakin banyak melihat, dan semakin lama mengamati kehidupan, perlahan saya mulai menyadari sesuatu.
Ternyata jilbab bukan ukuran moral seseorang.
Bukan pula ukuran mutlak kesalehan seorang perempuan.
Mengapa?
Dari sisi sejarah, tradisi menutup kepala ternyata sudah ada jauh sebelum Islam hadir di Jazirah Arab.
Dengan bentuk yang berbeda.
Dengan nama yang berbeda.
Dengan makna yang berbeda.
Namun praktik menutup kepala bukanlah sesuatu yang lahir bersamaan dengan kemunculan Islam.
Tradisi itu telah hadir dalam berbagai kebudayaan manusia sejak lama.
Itu dari sisi sejarah.
Lalu bagaimana jika dilihat dari sisi religiusitas?
Menurut saya, korelasinya tidak sesederhana yang sering dibayangkan.
Karena menutup kepala dan kualitas moral adalah dua hal yang berbeda.
Yang satu berkaitan dengan penampilan luar.
Yang lain berkaitan dengan kualitas batin.
Yang satu dapat dilihat mata.
Yang lain hanya tampak melalui perilaku.
Karena itu, dalam pandangan saya, perempuan yang berjilbab tidak otomatis lebih baik daripada perempuan yang tidak berjilbab.
Tidak otomatis lebih santun.
Tidak otomatis lebih jujur.
Tidak otomatis lebih bermoral.
Dan sebaliknya, perempuan yang tidak berjilbab juga tidak otomatis lebih buruk.
Tidak otomatis lebih rendah kualitas kemanusiaannya.
Mengapa demikian?
Karena iman tidak menempel pada kain.
Kesadaran moral tidak bermukim pada pakaian.
Religiusitas tidak tinggal di kepala yang tertutup atau terbuka.
Ia hidup dalam hati.
Dalam pikiran.
Dalam kesadaran.
Dalam cara seseorang memperlakukan sesama manusia.
Dalam sikap dan tindakan sehari-hari.
Bagi saya, jilbab adalah simbol.
Sebuah artefak budaya.
Sebuah penanda sosial.
Sebuah identitas komunitas.
Tetapi simbol tetaplah simbol.
Ia tidak otomatis identik dengan isi yang disimbolkannya.
Sebagaimana jas dokter tidak otomatis membuat seseorang mampu menyembuhkan penyakit.
Sebagaimana toga tidak otomatis membuat seseorang bijaksana.
Demikian pula jilbab tidak otomatis membuat seseorang bermoral.
Dan jangan lupa.
Simbol apa pun dapat digunakan untuk berbagai kepentingan.
Termasuk untuk menyembunyikan sesuatu.
Karena citra sosial sering kali bekerja lebih cepat daripada kenyataan.
Masyarakat cenderung lebih mudah mempercayai penampilan daripada memeriksa karakter.
Lebih mudah menilai pakaian daripada memahami kepribadian.
Akibatnya, simbol dapat menjadi tameng.
Dapat menjadi topeng.
Dapat menjadi selimut sosial.
Bukan karena simbol itu salah.
Tetapi karena manusia sering kali terlalu mudah terpesona oleh simbol.
Di balik jilbab bisa saja terdapat pribadi yang luhur.
Tetapi bisa juga terdapat manusia biasa dengan segala kelemahan dan kekurangannya.
Sama seperti di balik jas, seragam, gelar akademik, atau atribut sosial lainnya.
Karena pakaian tidak pernah memiliki moral.
Manusialah yang memiliki moral.
Mungkin ada perempuan yang mengenakan jilbab karena keyakinan spiritual yang mendalam.
Mungkin ada yang mengenakannya karena tradisi keluarga.
Mungkin ada yang mengenakannya karena tekanan sosial.
Mungkin ada yang mengenakannya karena alasan estetika.
Mungkin pula karena mengikuti tren lingkungan.
Semua kemungkinan itu ada.
Dan justru karena itulah kita tidak bisa begitu saja mengukur kualitas seseorang hanya dari apa yang dikenakannya.
Intinya, bagi saya, jilbab berada pada wilayah eksternalitas.
Wilayah penampilan.
Wilayah simbol.
Wilayah semiotika sosial.
Sedangkan moralitas berada pada wilayah yang jauh lebih dalam.
Pada cara seseorang berpikir.
Pada cara seseorang memperlakukan orang lain.
Pada cara seseorang bersikap ketika tidak ada seorang pun yang melihatnya.
Begitu?