: Dirja Wiharja


Suatu kali, pada jam istirahat.

Sehabis menggoda manusia dan menyelesaikan pekerjaan rutin sebagai setan, saya memberanikan diri menemui Tuhan.


"Selamat siang, Tuhan. Salam lestari...!!!"

"Maaf, saya bukan anak MAPALA."

"Oh... maaf, Tuhan."

"Langsung saja ke pokok persoalan."

"Hmm... begini, Tuhan. Saya mulai ragu."

"Ragu tentang apa?"

"Memangnya ukuran manusia yang akan Engkau masukkan ke surga itu apa, Tuhan?"

"Ya seperti kamu."

"Ah, Tuhan bisa saja. Saya serius."

"Saya juga serius."


"Apa yang membuatmu ragu?"

"Saya melihat manusia yang mengaku beragama justru banyak yang kasar, gemar menghakimi, sok suci, munafik, dan alergi terhadap perbedaan. Mereka lebih sibuk menjaga citra kesalehan daripada menjaga kemanusiaannya. Kok bisa begitu, Tuhan?"

"Oh... itu masalahnya."

"Itu masalahnya?"

"Ya. Justru merekalah antrean pertama yang saya tendang ke neraka."


"Lalu bagaimana dengan mereka yang berdoa sambil menangis sesenggukan, Tuhan?"

"Oh, yang itu juga."

"Lho, kenapa?"

"Karena mereka terlalu sibuk meratap agar kenyataan berubah, tetapi tidak pernah belajar menerima kenyataan yang sudah saya berikan."


"Kalau yang setiap hari menggalang dana, mengedarkan proposal ke mana-mana, menjual ayat dan kesalehan demi pembangunan rumah ibadah?"

"Itu lebih parah."

"Kenapa?"

"Karena mereka menjual nama saya untuk kepentingan dunia mereka sendiri. Mereka mengaku sedang membangun rumah Tuhan, padahal sering kali yang sedang mereka bangun hanyalah monumen ego dan industri kesalehan."


"Kalau yang tidak beragama, tetapi berkepribadian baik bagaimana, Tuhan?"

"Nah, itu yang penting."


"Jadi untuk apa agama, Tuhan?"

"Itu pertanyaan yang seharusnya kamu tanyakan kepada manusia."

"Maksud Tuhan?"

"Agama adalah cara manusia memahami dan mengatur penghayatannya tentang hidup. Sedangkan hati nurani adalah sesuatu yang saya titipkan langsung kepada mereka."


"Jadi agama itu salah, Tuhan?"

"Bukan."

"Lalu?"

"Yang salah adalah ketika manusia lebih mencintai label daripada nilai. Lebih sibuk membela simbol daripada membela sesama. Lebih rajin menghafal kebenaran daripada mempraktikkan kebaikan."


"Jadi yang menentukan bukan agamanya?"

"Bukan."

"Melainkan?"

"Hatinya."


"Maksud Tuhan?"

"Yang beragama ada yang berhati baik."

"Yang tidak beragama juga ada yang berhati baik."

"Yang beragama ada yang gemar menolong."

"Yang tidak beragama juga ada yang gemar menolong."

"Yang beragama ada yang jujur."

"Yang tidak beragama juga ada yang jujur."

"Begitu pula sebaliknya."


"Jadi inti persoalannya ada pada kebaikan itu sendiri?"

"Tepat."

"Bukan pada seragamnya, bukan pada slogannya, bukan pada gelarnya, bukan pada banyaknya kutipan ayat yang dihafalnya."


"Kalau begitu, selama ini manusia sering salah paham tentang Engkau, Tuhan?"

Tuhan tersenyum.

Lalu berkata pelan:

"Sejak kapan manusia lebih sibuk mencintai kebenaran daripada merasa paling benar?"

Saya terdiam.

Untuk pertama kalinya sejak menjadi setan, saya tidak punya jawaban.


"Kalau saya sendiri bagaimana, Tuhan?"

"Ah..."

"Masak kamu belum mengerti juga?"