:Dirja Wiharja
Saya Meragukan Keberadaan Tuhan
Sudah lama saya mencari sebuah penjelasan yang benar-benar memuaskan mengenai keberadaan Tuhan.
Dalam banyak tradisi keagamaan, Tuhan diwartakan sebagai Ada yang Absolut. Sebuah kebenaran yang harus diterima dan diyakini. Yang dibutuhkan adalah iman.
Namun bagi saya, iman saja tidak cukup.
Saya ingin memahami bagaimana keberadaan Tuhan dapat dipertanggungjawabkan secara rasional. Saya ingin menemukan alur penalaran yang tidak hanya menenangkan hati, tetapi juga memuaskan akal.
Saya membaca berbagai argumen.
Argumen kosmologis.
Argumen teleologis.
Argumen moral.
Argumen metafisis.
Tetapi semakin jauh saya menelusurinya, semakin saya menyadari bahwa Tuhan selalu berada di luar jangkauan pemahaman yang pasti.
Dari sisi pengalaman indrawi, Tuhan tidak pernah menampakkan diri secara langsung.
Dari sisi pemikiran, Tuhan sering hadir sebagai sebuah konsep, sebuah hipotesis metafisis, sebuah kemungkinan yang terus diperdebatkan.
Akibatnya, saya sampai pada sebuah pertanyaan yang mengganggu:
Apakah Tuhan memang ada?
Ataukah Tuhan hanyalah ciptaan pikiran manusia?
Kenapa Manusia Menciptakan Tuhan?
Sejarah menunjukkan bahwa pembicaraan tentang Tuhan telah menyita energi manusia selama ribuan tahun.
Peradaban lahir dan runtuh atas nama Tuhan.
Perang terjadi atas nama Tuhan.
Jutaan manusia hidup dan mati demi membela Tuhan.
Seolah-olah Tuhan membutuhkan pembelaan.
Seolah-olah Tuhan membutuhkan kemenangan.
Seolah-olah Tuhan dapat kalah jika manusia berhenti memperjuangkannya.
Namun di tengah semua itu, Tuhan tidak pernah tampil secara langsung untuk menjelaskan diri-Nya.
Yang hadir hanyalah kitab-kitab.
Tradisi-tradisi.
Tafsir-tafsir.
Dan manusia yang saling berdebat mengenai siapa yang paling memahami kehendak-Nya.
Karena itu muncul dugaan yang sulit dihindari:
Mungkinkah Tuhan sesungguhnya adalah konstruksi yang lahir dari kebutuhan terdalam manusia?
Tuhan Sebagai Jawaban atas Ketakutan
Manusia hidup di tengah misteri.
Kelahiran tidak dipahami sepenuhnya.
Kematian tidak dapat dihindari.
Masa depan tidak pernah pasti.
Alam semesta tampak begitu luas dan acuh tak acuh.
Di hadapan kenyataan yang menakutkan itu, manusia membutuhkan pegangan.
Membutuhkan penjelasan.
Membutuhkan kepastian.
Maka lahirlah gagasan tentang Tuhan.
Sebuah pusat makna yang menjelaskan apa yang tidak mampu dijelaskan.
Sebuah jawaban bagi pertanyaan yang tidak pernah selesai.
Tuhan Sebagai Pelarian dari Kebebasan
Menjadi manusia berarti memikul tanggung jawab.
Tidak ada jaminan.
Tidak ada kepastian.
Tidak ada yang dapat sepenuhnya disalahkan ketika hidup berantakan.
Kebebasan semacam itu sering kali terasa menakutkan.
Karena itu, manusia mungkin menciptakan Tuhan sebagai tempat meletakkan beban yang tidak sanggup ditanggungnya sendiri.
Tuhan menjadi alasan.
Tuhan menjadi pembenar.
Tuhan menjadi tempat berlindung dari kecemasan eksistensial.
Dengan demikian, manusia tidak lagi berdiri sendirian menghadapi dunia.
Tuhan Sebagai Obat bagi Kekosongan
Manusia tidak hanya lapar akan makanan.
Manusia juga lapar akan makna.
Di tengah kehidupan yang singkat dan rapuh, muncul kerinduan akan sesuatu yang melampaui kematian.
Sesuatu yang abadi.
Sesuatu yang sempurna.
Sesuatu yang mampu memberi arti pada seluruh penderitaan dan perjuangan hidup.
Dalam kerinduan itulah gagasan tentang Tuhan menemukan tempatnya.
Tuhan menjadi simbol dari kesempurnaan yang tidak pernah ditemukan sepenuhnya dalam dunia yang serba terbatas.
Namun...
Ada satu pertanyaan yang terus mengganggu saya.
Jika manusia menciptakan Tuhan karena takut, apakah itu berarti Tuhan tidak ada?
Jika manusia membutuhkan Tuhan untuk memberi makna hidup, apakah kebutuhan itu otomatis membuktikan bahwa Tuhan hanyalah ilusi?
Belum tentu.
Sebab rasa lapar tidak membuktikan makanan itu khayalan.
Rasa haus tidak membuktikan air itu fiksi.
Mungkin benar bahwa manusia menciptakan banyak gambaran tentang Tuhan.
Tetapi apakah dari situ dapat disimpulkan bahwa Tuhan sendiri tidak ada?
Ataukah justru berbagai gambaran itu merupakan usaha manusia yang terbatas untuk memahami Realitas yang tidak pernah sepenuhnya dapat dipahami?
Maka persoalannya mungkin bukan apakah manusia menciptakan Tuhan atau tidak.
Melainkan:
Ketika manusia berbicara tentang Tuhan, apakah ia sedang menemukan suatu realitas yang melampaui dirinya, atau hanya sedang bercermin pada kedalaman hasrat, ketakutan, dan imajinasinya sendiri?
________
Catatan kepala: Apakah konsep Tuhan sepenuhnya proyeksi psikologis manusia, atau justru proyeksi itu muncul karena ada sesuatu yang sungguh-sungguh ingin dijangkau oleh manusia? Itu adalah pertanyaan yang sejak para pemikir seperti Ludwig Feuerbach, Friedrich Nietzsche, Sigmund Freud, hingga Søren Kierkegaard belum pernah benar-benar selesai dijawab.