: Dirja Wiharja
Sedikit upah dari usaha saya berpikir.
Silakan disimak dan dinikmati.
Asal jangan ditaburi cacian dan makian.
Apalagi sampai melaknat saya menjadi kafir.
Sekali lagi, selamat menyaksikan.
Suatu ketika, Aisyah pernah berkata:
"Akhlak Rasulullah adalah Alquran."
Lama saya tercenung.
Berarti Muhammad adalah manusia Alquran.
Dia adalah Alquran yang berjalan.
Alquran yang hidup.
Alquran yang bernafas.
Bukan sekadar teks yang dibaca, melainkan nilai yang menjelma menjadi tindakan.
Meminjam istilah Marx,
Muhammad adalah Alquran yang praksis, bukan sekadar teoritis.
Intisari pesan Alquran melekat pada kepribadiannya.
Menjelma menjadi sikap.
Menjadi perilaku.
Menjadi akhlak.
Saya bergumam:
"Luar biasa."
Sekujur nadi saya merinding.
Sajadah basah.
Alquran kuyup dalam pangkuan.
Disiram air mata sunyi dari pencarian panjang tentang Islam.
Hingga tanpa sadar bibir ini mencium mushaf yang terbaring di hadapan saya.
Namun waktu terus bergulir.
Tahun demi tahun berlalu.
Lalu saya membaca ayat-ayat tentang jihad.
Saya membaca ayat-ayat ancaman.
Saya membaca ayat-ayat tentang murka Tuhan.
Saya membaca klaim bahwa Muhammad adalah nabi terakhir.
Saya membaca klaim bahwa hanya Islam agama yang diterima Tuhan.
Saya membaca berbagai pernyataan tentang keselamatan yang seakan hanya tersedia dalam satu jalan.
Dan sejak saat itu, perang batin mulai berkecamuk.
Perang yang tidak terjadi di luar sana.
Tetapi di dalam diri saya sendiri.
Di ruang sunyi yang tidak diketahui siapa pun.
Di satu sisi, saya melihat sosok Muhammad sebagai figur spiritual yang menginspirasi.
Figur yang menghadirkan teladan akhlak.
Figur yang menggerakkan manusia menuju kemuliaan moral.
Namun di sisi lain, saya menemukan sejumlah ayat yang memunculkan kegelisahan dalam pembacaan saya.
Ayat-ayat yang terus diperdebatkan.
Ayat-ayat yang terus diperebutkan tafsirnya.
Ayat-ayat yang membuat dunia tak pernah berhenti berdebat tentang Islam.
Sebagian membelanya.
Sebagian menyerangnya.
Sebagian memujanya.
Sebagian mencurigainya.
Maka pertanyaan itu terus datang menghantui:
Alquran atau Muhammad?
Bisakah keduanya menyatu sepenuhnya dalam keyakinan saya?
Ataukah saya sedang membaca keduanya dengan cara yang berbeda?
Muhammad adalah inspirator pertama dalam pengembaraan spiritual saya.
Sosok yang saya lihat sebagai teladan akhlak.
Cahaya yang menuntun pencarian.
Tetapi sebagian ayat Alquran, dalam pengalaman pembacaan saya, justru menghadirkan kegelisahan yang tak kunjung selesai.
Waktu terus berjalan.
Dan pertanyaan itu datang lagi.
Lebih keras.
Lebih tajam.
Lebih sulit dihindari.
Alquran atau Muhammad?
Saya membongkar keyakinan saya sendiri.
Saya menelanjangi cara berpikir saya sendiri.
Saya menyeret seluruh asumsi saya ke hadapan kesunyian.
Lalu saya sampai pada satu pilihan yang mungkin akan ditolak banyak orang.
Saya memilih Muhammad.
Dan saya melepaskan Alquran sebagaimana selama ini saya memahaminya.
Bagi saya,
Muhammad adalah mata rantai panjang para pencari Tuhan.
Sebuah estafet spiritual yang melintasi zaman.
Sebuah perjalanan yang mempertemukan berbagai nama besar dalam sejarah kemanusiaan.
Sidharta.
Ibrahim.
Musa.
Yesus.
Hallaj.
Rumi.
Syekh Siti Jenar.
Bahkan para pemberontak kesadaran seperti Nietzsche.
Mereka berbeda jalan.
Berbeda bahasa.
Berbeda simbol.
Namun sama-sama sedang bergulat dengan misteri keberadaan.
Sama-sama sedang mencari sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri.
Sedangkan Alquran, dalam perenungan saya,
adalah jejak yang telah membeku menjadi teks.
Jejak yang diwariskan.
Jejak yang ditafsirkan.
Jejak yang dibaca ulang dari generasi ke generasi.
Jejak yang terus diperebutkan maknanya.
Karena itu saya tidak pernah yakin bahwa setiap pembacaan terhadap Alquran identik dengan pengalaman batin Muhammad sendiri.
Sebab teks selalu berjarak dari pengalaman.
Tulisan selalu berjarak dari penghayatan.
Dan bahasa selalu berjarak dari kenyataan yang ingin diungkapkannya.
Namun semua ini hanyalah hasil kontemplasi saya.
Hasil pergulatan saya sendiri.
Hasil percakapan panjang antara saya dan kesunyian.
Karena itu Anda tidak perlu mengangguk setelah membacanya.
Tidak perlu terharu.
Tidak perlu ikut mengamini.
Bahkan tidak perlu setuju.
Sebab mungkin saya sedang keliru.
Dan mungkin pula saya sedang menemukan sesuatu.
Siapa yang tahu?
"Niga mitai bolana La Mappaq?"